Rab. Nov 13th, 2019

Seminar Psikologi Positif bagi Siswa Sekolah

Pada hari Kamis, 30 Agustus 2019, bertempat di Aula lantai 3 Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) diselenggarakan Seminar “How to Build Positive School Culture: Budaya Sekolah Positif, Anak Senang di Sekolah”.

Seminar ini diselenggarakan oleh Asosiasi Psikologi Sekolah (APSI) wilayah Banten bekerja sama dengan Program Studi (Prodi) Psikologi UPJ. Sebagai pembicara adalah Dr. Clara Moningka, S.Psi., M.Si, dari Prodi Psikologi UPJ, dan Dr. Juneman Abraham, S.Psi., M.Si., serta dimoderatori oleh Fanny Ghassani. Dr. Clara Moningka berbicara bagaimana mengembangkan budaya positif dalam pengelolaan sekolah dan kelas dari sudut pandang psikologi positif.

Martin Seligman adalah pelopor Psikologi Positif , bukan hanya karena ia memiliki teori sistematis tentang mengapa orang bahagia, tetapi karena ia menggunakan metode ilmiah untuk menjelajahinya.

Psikologi Positif adalah studi ilmiah tentang kekuatan yang memungkinkan individu dan komunitas untuk berkembang. Ini berdasarkan keyakinan bahwa orang ingin menjalani kehidupan yang bermakna dan memuaskan, untuk menumbuhkan yang terbaik dalam diri mereka, dan untuk meningkatkan pengalaman cinta, pekerjaan, dan permainan mereka.

Tentu setiap orang ingin bahagia. Dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana siswa bisa happy di sekolah. Keadaan ini dapat mendorong mendorong prestasi belajar siswa.

Sebagai pembicara utama, Dr. Juneman Abraham, S.Psi., M.Si., memberikan landasan teori psikologi positif. Menurut lulusan S2 dan S3 UI ini, psikologi positif memiliki tiga masalah utama: pengalaman positif, sifat individu positif, dan institusi positif.

Memahami emosi positif memerlukan studi tentang perjalanan manusia dari ketidakberdayaan menuju optimisme dan growth mindset (mindset bertumbuh) untuk masa sekarang  dan masa depan.

“Guru atau pengajar di sekolah perlu memiliki kekayaan emosi sehingga dia dapat menjadi  role model yang memiliki aset jiwa positif bagi para siswa. Misalnya guru dapat mengajak murid untuk bercermin bagaimana mimik muka ketika bangga,”,” ujar pengajar Jurusan Psikologi di Universitas Binus tersebut.

Institusi yang berdaya misalnya sekolah yang berdaya, mampu mentransformasikan siswa dari tidak tahu menjadi tahu. Sebaliknya sekolah ada yang tidak berdaya karena tidak mampu menegakkan disiplin pada siswa. Sebaliknya ada institusi yang tidak berdaya karena korupsi misalnya.

BACA JUGA  T-Week Latte Art Competition Unika Atma Jaya Serpong, Ajang Melatih Kemampuan Para Barista Profesional

Guru di sekolah harus memiliki emosi yang positif di mana dia dapat mengajarkan siswa didiknya memiliki emosi positif seperti sukacita,  bersyukur, ketenangan, berminat pada sesuatu, berpengharapan, bangga, terhibur, terinspirasi, awe (kagum), dan love (cinta).

Ada dua pertanyaan yang patut direnungkan. Pertama, apa yang diinginkan guru/sekolah bagi anak atau siswa. Kedua, apa yang sekolah ajarkan & hargai pada siswa.

Agar suasana kelas menjadi positif, perlu dibangun hubungan yang positif di kelas yakni siswa memiliki suara dan pilihan dalam hal-hal yang berkaitan dengan mereka. Selanjutnya pelajaran yang dibuat relevan dengan penerapan kurikulum dengan kehidupan siswa. Guru-guru perlu mencermati aspek fisik, psikologis, sosial, dan kultural sekolah dalam rangka mengamati unsur-unsur yang tidak mendukung pendidikan positif.

Selanjutnya sebagai pembicara kedua, Dr. Clara Moningka berbicara bagaimana mengembangkan budaya positif dalam pengelolaan sekolah dan kelas dari sudut pandang psikologi positif. Dengan demikian para siswa bersemangat dan potensinya berkembang maksimal, tidak ada rasa cemas. Sekolah bisa menerapkan kedisiplinan dan siswa dapat menerima.

Para peserta seminar sangat antusias mengikuti seminar ketiga yang diadakan oleh Asosiasi Psikologi Sekolah (APSI) wilayah Banten. Seminar dibuka oleh Ibu Mulia Sari Dewi, M.Psi., Psikolog, selaku wakil ketua APSI wilayah Banten. Dilanjutkan sambutan oleh Ibu Leenawaty Limantara, PhD., selaku Rektor UPJ.

Seminar ini dihadiri oleh pengurus dan anggota APSI Pusat maupun wilayah Banten, guru-guru dari sejumlah sekolah di Tangerang, Jakarta, dan Bogor, serta mahasiswa angkatan 2016 dan 2017 prodi Psikologi UPJ. Dalam kesempatan itu juga diadakan penandatanganan kerja sama antara APSI dan UPJ dalam pelaksanaan seminar dll.

Ke depannya APSI akan mengadakan program psikoedukasi dengan target peserta para guru, manajemen sekolah dan orang tua siswa. Rencananya bulan depan akan diadakan seminar pendidikan seksual anak di kampus Universitas Pelita Harapan.

Info lebih lanjut:

ASOSIASI PSIKOLOGI SEKOLAH INDONESIA (Indonesian School-Psychological Association)
Pengurus Wilayah Banten
Sekretariat: Komplek RSS Pemda Blok C 5 No 30 Banjarsari, Cipocok Jaya, Kota Serang
Telp: 0812-8390-8685
E-mail: apsiwilayahbanten@gmail.com

BACA JUGA  Mengajar dan Melatih Anak Menabung

Referensi:

https://www.youtube.com/watch?v=1qJvS8v0TTI
https://www.kajianpustaka.com/2015/05/psychological-well-being.html
http://inservice.ascd.org/five-elements-of-a-positive-classroom-environment-for-students-living-with-adversity/

 

Baca Juga

Tinggalkan Balasan