Seminar Pendidikan Majapahit Nusantara Secondary School: How to Build Critical Thinking

Sikap kritis dari seorang anak memegang peranan penting bagi perkembangannya. Anak yang mampu berpikir kritis akan mampu mengatasi berbagai permasalahan dalam proses pembelajarannya, termasuk bagaimana ia bisa mengaplikasikan berbagai pengetahuan yang diperolehnya dalam kehidupan nyata.

Sebetulnya cara berpikir kritis bisa diaplikasikan pada proses pembelajaran. Martin Luther King, Jr., seorang pejuang hak azasi manusia pernah menyatakan, tujuan pendidikan adalah memampukan seseorang bertransformasi dari hal yang tidak nyata menjadi nyata. Fungsi pendidikan adalah mengajarkan seseorang untuk bisa berpikir secara mendalam dan kritis. Namun, sayangnya anak-anak tidak terbiasa diajak berpikir kritis. Faktor sistem pendidikan kita membuat seorang anak cenderung untuk menghafal bukan memahami dan mengkreasikan ide pemikirannya.

Untuk memberikan pemahaman faktor-faktor yang mempengaruhi seorang anak untuk berpikir kritis dan bagaimana mengembangkan kemampuan berpikir kritis, Majapahit Nusantara Secondary School, sebuah sekolah yang menggabungkan kurikulum nasional, Cambridge dan IB, mengadakan Education Seminar yang bertajuk How to Build Critical Thinking pada Senin, 12 Mei 2017. Seminar yang berlangsung di EEC Bintaro, Ruko Sentra Menteng, CBD Bintaro Sektor 7 ini menampilkan narasumber Ellen Patricia, MA (Arch), MA (Counseling), CLC.

Ellen merupakan konsultan program coaching World Bank, Direktur Excellence Vault Training & Consulting, pendiri Yayasan Busur Emas, narasumber program talkshow di Radio Heartline dan pengasuh tetap rubrik parenting pada Family Guide & Inspirasi.

Dalam paparannya Ellen menyampaikan tahap kemampuan berpikir kritis dibagi menjadi 5 tahapan proses: memaknai isu yang open-ended sebagai single solution, identifikasi masalah & info yang relevan, eksplorasi intepretasi & hubungan, menyusus prioritas alternatif & kesimpulan dan mengintegrasikan & menyempurnakan strategi untuk menghadapi isu tersebut kembali.

Kemampuan berpikir kritis dimulai dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pemikirannya atau keingintahuannya. Peran orang tua dan pendidik adalah membuat suasana sehingga anak mampu mengungkapkan pemikirannya apapun jawabannya (open-ended). Tidak ada satu jawaban yang benar, namun dengan demikian anak belajar untuk berani mengungkapkan pemikirannya.

Tugas seorang pendidik adalah membuat ‘program by design’ yang cocok dengan karakter masing-masing anak. Design program ini harus bisa dikomunikasikan dengan baik kepada sang anak dan hal terpenting adalah mengimplementasikan apa yang sudah diprogramkan.

 

(ES)

Leave a Comment