Sab. Jan 18th, 2020

Sejarah Hari Peristiwa Pemberontakan PETA

Hari ini bukan hanya dikenal sebagai hari Valentine. Sejarah Indonesia mencatat tanggal 14 Februari 1945 sebagai hari peringatan peristiwa Pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) di Kota Blitar pada tahun 1945. Peristiwa ini terjadi hanya 6 bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Gerakan PETA tersebut dipimpin oleh Shodancho Supriyadi  (shodancho adalah sebutan komandan peleton)

14 Februari memiliki arti yang penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tepat 73 tahun yang lalu para tentara PETA (Pembela Tanah Air), bertukar mortir dan peluru dengan tentara kekaisaran Jepang yang saat itu menduduki wilayah Indonesia. Pasukan Peta di Blitar di bawah pimpinan Supriadi melakukan pemberontakan yang dikenal dengan nama Pemberontakan PETA Blitar.

Pemberontakan PETA Blitar merupakan salah satu perlawanan terhadap tentara kekaisaran Jepang yang menguasai Indonesia saat itu. Bila melihat dari sejarahnya tentara PETA (Pembela tanah Air) merupakan organisasi militer yang dibentuk tentara Kekaisaran Jepang sebagai tentara cadangan untuk melindungi Indonesia. dari tentara Sekutu (USA,Inggris,Australia,dll,) yang di tahun 1945 terus mendesak tentara Kekaisaran Jepang.

14 Februari 1945 kemudian dipilih sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan pemberontakan, karena saat itu akan ada pertemuan besar seluruh anggota dan komandan PETA di Blitar, sehingga diharapkan anggota-anggota PETA yang lain akan ikut bergabung dalam aksi perlawanan. Tujuannya adalah untuk menguasai Kota Blitar dan mengobarkan semangat pemberontakan di daerah-daerah lain.

Tepat dinihari 14 Februari 1945 meletuslah tembakan mortir dan peluru dari asrama Tentara PETA di Blitar dan pengibaran bendera Merah putih tepat di seberang asrama PETA. Seperti telah diduga sebelumnya Tentara Kekaisaran Jepang akhirnya bisa mengatasi pemberontakan ini.

Harapan pemberontakan PETA di Blitar akan mendorong Pemberontakan PETA di daerah lain tidak terjadi karena tentara Jepang segera menarik seluruh senjata yang dipegang tentara PETA. Dari Tentara dan komandan PETA yang memberontak  Supriyadi hilang dan tidak pernah diketahui jejaknya sedang komandan yang lain dijatuhi hukuman mati dipenggal di daerah Ancol ada yang mendapat hukuman penjara.

BACA JUGA  Sinkronkan Industri dan Pendidikan, Japfa Dirikan Teaching Farm di Universitas Syiah Kuala, Aceh

Untuk mengenang perlawanan PETA tepat di lokasi perlawanan didirikan monumen PETA yang terdiri dari 7 patung dalam sikap menyerang tepat di tengah-tengah adalah Supriyadi sebagai pemimpin perlawanan. Sedangkan asrama PETA kini menjadi SMP dan SMU Negeri namun bila dihat dari bentuk bangunannya ada kesan itu merupakan bangunan asrama militer. Tugu tempat pengibaran bendera merah putih saat pemberontakan kini menjadi taman makam pahlawan. Simak videonya di https://www.youtube.com/watch?v=8UgoUQfIjms

Sumber: Malahayati.ac.id

 

Baca Juga