Rumah I’m Star, Dimana Anak-Anak Berkebutuhan Khusus Merajut Asa

Siang itu terlihat kesibukan di lantai 2 sebuah ruko yang berada di komplek Ruko Sentra Menteng, Bintaro Sektor 7. Seorang anak bernama Mela mengisi sebuah plastik bening dengan kacang atom menggunakan sendok makan. Setelah terisi separuh, kemudian ia mengoper kepada rekan laki-lakinya, Arya, yang berada di sebelahnya yang kemudian mengisi plastik itu sampai penuh. Selanjutnya ia mengoper kembali dengan rekannya, Abby, yang bertugas menimbang berat kacang atom yang ada di plastik itu. Adegan ini bukanlah situasi kerja di sebuah perusahaan. Anak-anak ini adalah anak-anak berkebutuhan khusus yang sedang bekerja di Rumah I’m Star.

Didirikan oleh 3 orang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK), Dewi, Indah dan Unun yang memiliki keinginan agar anak-anak mereka dapat menjadi mandiri dan tidak bergantung pada orang tuanya yang usianya semakin bertambah, Rumah I’m Star menjadi rumah kerja di mana para anak berkebutuhan khusus diberikan keterampilan kerja yakni mengerjakan pengemasan makanan ringan (snack). Saat ini ada 10 ABK yang dilatih di sana dengan rentang usia 19-30 tahun.

Dewi Semarabhawa (ketiga dari kiri), Pendiri Rumah I’m Star Mengamati Pekerjaan yang Dilakukan ABK

Anak-anak ini mengerjakan pengemasan aneka makanan ringan seperti kripik singkong, sus cantik, kacang atom, kacang polong dan kacang mete. Snack ini dijual dalam kemasan-kemasan cantik seharga Rp. 5 ribu – Rp. 45 ribu. Kemasan snack ini sangat cocok sebagai souvenir pernikahan, arisan, pesta ulang tahun dll.

Dalam proses pengerjaannya, masing-masing anak diberikan tugas khusus. Ada yang bertugas memasukkan snack ke kantong plastik transparan, lalu rekannya menimbang makanan ringan tersebut dan selanjutnya di-seal dengan alat sealer. Selanjutnya, rekannya yang lain memasukkan ke bungkus kertas kado yang cantik dan terakhir anak yang lain mengikatnya dengan pita. Menarik kan? Proses kerja ini mengalir layaknya di dalam sebuah industri pengemasan makanan. Para mentor di Rumah I’m Star mensupervisi semua proses pengerjaan.

Menurut Dewi Semarabhawa, ibunda dari Abhy dan Arya, ide mendirikan Rumah I’m Star didapat saat mereka mengikuti kompetisi anak berkebutuhan khusus di Hong Kong. Saat itu, Dewi menyaksikan pemerintah Hong Kong mendirikan rumah kerja seperti ini untuk para anak berkebutuhan khusus di sana. Bahkan di Hong Kong ini, rumah kerja disana menerima order dari perusahaan-perusahaan multinasional seperti Cathay Pacific untuk pengemasan katering.

Sepulangnya dari Hongkong, Dewi merenung mengapa rumah kerja seperti itu tidak ada di Indonesia, seandainya rumah kerja seperti itu ada, tentunya sangat membantu para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus seperti dirinya. Dari situlah Dewi memiliki keinginan mengembangkan rumah kerja seperti itu. Dewi berharap Rumah I’m Star kelak dapat menerima order pengemasan barang dari perusahaan-perusahaan lokal seperti rumah sakit, atau supermarket dll. Saat bercerita kepada 2 rekannya, gayung pun bersambut, sehingga akhirnya berdirilah Rumah I’m Star semenjak Desember 2016.

Bahan-bahan dari makanan ringan yang dikemas di Rumah I’m Star didatangkan dari supplier yang ada di Jawa Tengah. Selanjutnya makanan ringan yang sudah selesai dipacking tersebut dipasarkan via toko online. Dewi berharap kelak snack-snack ini dapat dipasarkan di minimarket, super market, kantin sekolah dan kampus, sehingga kelak Rumah I’m Star bisa mandiri yang selama ini masih disubsidi.

Proses Kerja Pengemasan Snack

Layaknya karyawan di kantor, mereka memiliki jam kantor yang tetap dari hari Senin hingga Jumat, dari jam 08.30-15.30. Setiap pagi mereka harus mengisi absensi sebelum mulai bekerja. Mereka juga menerima gaji yang dibayar setiap tanggal 1 setiap bulannya. “Gaji tersebut dihitung berdasarkan jumlah hari di mana mereka masuk kerja. Ini untuk melatih kedisiplinan mereka. Jadi bila mereka absen pada hari tertentu, maka mereka tidak mendapat upah untuk hari itu,” jelas Dewi. Bahkan anak-anak ini juga menerima Tunjangan Hari Raya (THR) saat hari besar keagamaan. Menerima gaji dan THR merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka. “Bahagia melihat mereka gembira menerima gaji dari hasil kerja mereka,” sambung Dewi.

Tidak hanya berlatih bekerja, para ABK pun dilatih bertanggung jawab mengurus Rumah I’m Star. Masing-masing anak bergantian mendapatkan jadwal piket pekerjaan rumah sederhana seperti mengisi air, menyiram tanaman, merapikan meja, merapikan kursi dan menyapu. Tujuannya agar kelak mereka pun dapat mengurus rumahnya sendiri secara mandiri.

Syarat Bergabung

Jika Anda memiliki anak berkebutuhan khusus dan ingin memasukkan untuk belajar bekerja di Rumah I’m Star dikenakan biaya Rp. 3 juta rupiah per bulannya. Biaya tersebut adalah untuk biaya operasional Rumah I’m Star, termasuk memberikan gaji dan THR bagi mereka. Ada syarat lain yang harus dipenuhi yakni ABK yang mau bergabung harus sudah mandiri dan berusia minimal 19 tahun. Sifat mandiri mereka memang terlihat pada waktu Info Bintaro meliput. Para ABK secara mandiri menyantap makan siang yang dibawa dari rumah masing-masing. Sebagian lain, membeli makan siang di warung yang berada di dekat Rumah I’m Star.

Snack-Snack Hasil Kerja Anak-Anak Berkebutuhan Khusus yang Dipasarkan di Rumah I’m Star

Kesempatan Menjadi Volunteer/Magang

Mengingat banyaknya kegiatan yang diadakan di Rumah I’m Star, saat ini terbuka kesempatan untuk menjadi sukarelawan/magang di sini. Syaratnya: Mahasiswa psikologi atau program ilmu kesejahteraan sosial, yang ingin mempraktekkan ilmu yang sudah diperolehnya. Bagi Anda yang tertarik untuk menjadi sukarelawan di Rumah I’m Star ini dapat menghubungi kontak di bawah ini.

Info lebih lanjut:
Rumah I’m Star
Ruko Sentra Menteng Bintaro
Blok MN 30 Bintaro Sektor 7
Telp: 021 – 2221 4292
E-mail: rumah.imstar@gmail.com

 

(EGS)

“>

Leave a Comment