Ming. Nov 17th, 2019

Resolusi 2018: Diet Ketat Miliki Resiko Eating Disorder

Ada banyak dari kita yang ingin menurunkan berat badan secara cepat di tahun ini. Tapi apakah kita sudah mengontrol makanan yang kita makan dan berolahraga? Banyak orang yang lebih memilih jalan pintas agar berat badan berkurang banyak dalam waktu singkat. Ancamannya Anda dapat terkena eating disorder.

Eating disorder (kelainan kebiasaan makan) adalah suatu kelainan atau gangguan yang terjadi pada kebiasaan makan seseorang yang disebabkan oleh beberapa hal. Apakah kelainan ini berbahaya? Lalu, apa saja penyebab dan solusi dari eating disorder?

Menurut sebuah artikel yang dilansir pada situs nhs.uk, eating disorder diartikan sebagai kelainan yang terjadi pada kebiasaan makan seseorang yang diakibatkan oleh kekhawatiran orang tersebut akan bentuk tubuhnya. Kekhawatiran yang berlebih itulah yang menyebabkan orang – orang tersebut terobsesi menjaga bentuk tubuh mereka dengan berbagai cara yang malah membahayakan mereka.

Ada 2 jenis eating disorder yang paling banyak dikenal, meliputi:

  • Anorexia, kelainan yang membuat seseorang terobsesi akan berat badan yang sangat kecil sehingga membuat mereka rela kelaparan atau bahkan berolahraga berlebihan.
  • Bulimia, kelainan pada seseorang yang membuat dia memuntahkan setiap makanan yang telah dikonsumsi untuk menjaga berat badannya tidak berubah.

Penyebab terjadinya eating disorder diyakini sebagian besar diakibatkan oleh tekanan lingkungan sekitar. Tren hidup yang menggemari postur tinggi langsing membuat banyak orang mencemooh orang berpostur tubuh tambun. Namun, selain faktor sosial, beberapa faktor biologis diyakini ikut andil sebagai penyebab eating disorder.

Efek dari eating disorder adalah gangguan kesehatan yang harus diterapi panjang, tidak bisa menghadiri acara sosial seperti orang normal, berat badan tidak pernah ideal, mengganggu pekerjaan sehari-hari, memiliki gangguan jiwa lainnya (gampang cemas, depresi, dll)

Di samping eating disorder, juga terdapat masalah-masalah dan penyimpangan pola makan yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan serta menimbulkan berbagai penyakit kesehatan, yaitu:

  • Social eater. Di sini Anda mudah terpengaruh godaan makan bersama lingkungan dan sulit menolak ajakan lingkungan.
  • Emotional eating. Perilaku menggunakan makanan sebagai pelarian dari emois negatif ataupun sebagai reward dan pembangkit emosi positif.
  • Yoyo syndrome, sulit mempertahankan penurunan berat badan yang konsisten.
  • Compulsive overeating, perilaku makan berlebih dan sulit mengendalikan diri terhadap makanan.

Keinginan memiliki postur tubuh proporsional itu sah – sah saja. Selain sebagai alasan mempercantik penampilan, bertubuh proporsional akan menghindarkan seseorang dari risiko terserang penyakit. Namun, Anda harus melakukan cara yang benar untuk mendapatkan postur yang proporsional yaitu dengan menjalankan pola hidup sehat yang benar.

BACA JUGA  Kesehatan Jantung, Kematian Mendadak, Olahraga dan Tidur

Berdasarkan data National Institute of Mental Heatlh di Amerika, 1 dari 60 remaja mengalami masalah makan dan diperkirakan 1,7% remaja mengalami gangguan makan atau eating disorder (ED). Bukan hanya itu, gangguan makan merupakan masalah mental dengan tinggat kematian yang tinggi. Setiap 62 menit paling tidak seseorang mengalami kematian karena gangguam makan. Lebih spesifiknya, 1 dari 5 pendeita anoreksia meninggal dunia.

Di Indonesia sendiri data angka penderita gangguan makan belum terdeteksi karena minimnya pemahaman terhadap masalah ini. Namun pasien yang datang berkunjung ke klinik dengan keluhan gangguan makan semakin bertambah dari waktu ke waktu.

Salah satu hal yang membuat orang sulit untuk mengenali gejala gangguan makan adalah karena sering kali dianggap sebagaim masalah makan yang sepele, akan hilang, atau berubah seiring dengan berjalannya waktu.

Sebaliknya, ED adalah gangguan yang dapat menetap dan terus mempengaruhi kehidupan seseorang apabila tidak segera dilakukan penanganan. Masalah gangguan makan sangat menyentuh aspek kepribadian, perilaku, kebiasaan, emosi, dan pola pikir seseorang. Jika perubahan hanya dilakukan sebatas pada pengetahuan mengenai pola makan, maka tidak akan pernah cukup. Karena itulah, penanganan yang terintegrasi dan terstruktur sangat diperlukan.

Berikut ini adalah terapi-terapi yang dianjurkan dan telah sukses mengatasi gangguan makan berdasarkan penelitian :

Family Behavior Therapy (FBT)

Salah satu terapi yang terbukti memiliki tingkat kesuksesan tinggi untuk menangani gangguan makan, khususnya untuk remaja dan anak-anak, adalah Family Behavior Therapy (FBT). Dalam terapi ini, seluruh keluarga dilibatkan sebagai proses pemulihan. Bagaimanapun juga remaja atau anak-anak masih sangat bergantung pada keluarga. Keluarga merupakan pusat kehidupan mereka. Bagi mereka, mencoba untuk melawan gangguan makan sendiri akan jauh lebih sulit dengan kepribadian yang belum matang dibandingkan dengan adanya dukungan dari seluruh keluarga. Proses terapi akan diikuti oleh seluruh anggota keluarga dengan supervisi dari psikolog.

Cognitive Behavior Therapy (CBT)

Penderita ED memiliki pola berpikir yang salah terhadap bagaimana memandang tubuh, penampilan, diri sendiri dan juga lingkungan. CBT memfokuskan pada modifikasi pola pikir agar perubahan perilaku dan emosi dapat tercapai.

Selain dua terapi tadi, masih ada terapi-terapi penunjang lain, seperti :

Hipnotherapi

Hipnoterapi memfokuskan pada perubahan alam bawah sadar yang berkontribusi pada munculnya kebiasaan-kebiasaan dan perilaku makan yang salah.

Relaksasi

BACA JUGA  Allianz Indonesia Sediakan Layanan Penjaminan Langsung untuk Pasien COB BPJS Kesehatan

Berlatih relaksasi diperlukan untuk dapat mengatasi emosi negatif yang berlebihan yang dapat memicu atau memperkuat gangguan makan serta membantu  melatih pegendalian diri dengan tepat.

Eating coaching

Merupakan pendampingan makan yang bertujuan untuk melatih cara makan yang tepat dan benar agar dapat mengatasi pola makan yang salah yang berkontribusi pada munculnya gangguan makan dan penyimpangan makan lainnya.

lightHOUSE Indonesia

Bagaimana cara mendapatkan layanan-layanan terapi tadi? Kebetulan selain menjadi Weight Control Center, lightHOUSE Indonesia juga merupakan Eating Disorder Center. Silahkan hubungi kontak di bawah ini.

Info lebih lanjut:
LightHOUSE Indonesia Weight Control & Eating Disorder Center
Kebayoran Baru, Cilandak, Sudirman, Thamrin, Kelapa Gading, BSD, Cibubur, PIK
Telp: 0812 8811 500
E-mail: info@lighthouse-indonesia.com
www.lighthouse-indonesia.com

(EGS)

 

Baca Juga