Remaja Merokok, Bagaimana Mengatasinya?

Merokok adalah salah satu perilaku tidak sehat yang banyak ditemui di dunia, termasuk Indonesia. Indonesia berada di peringkat ketiga dari sepuluh negara dengan persentase perokok terbesar di dunia tahun 2009.

Perokok mengatakan bahwa rokok menjadi kebutuhan dalam keseharian. Hal ini didukung hasil survey Tobacco Control Support Center (TCSC) dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) tahun 2016, bahwa dalam pengeluaran harian rumah tangga rokok berada di urutan kedua tertinggi setelah beras.

Data yang dilansir dari Tribunews.com pada bulan April 2018, perokok aktif di Indonesia mencapai 60 juta orang. Mirisnya 70 persennya merupakan warga miskin dan anak-anak. Konsumsi rokok bagi masyarakat Indonesia sudah terbilang tinggi bahkan pengeluaran warga untuk membeli rokok melampaui belanja kebutuhan pangan keluarga. Simak liputan Kompas TV di  https://www.youtube.com/watch?v=5frRhw4WT0s

Merokok memang menjadi perilaku yang sulit dikendalikan. Umumnya usia merokok dimulai pada saat remaja yakni antara 12-21 tahun. Anggapan tentang kesulitan berhenti merokok menjadi salah satu tantangan dalam menyiapkan generasi bebas rokok. Dapat disebut bahwa rokok menjadi routinized choice behavior yaitu kebiasaan konsumsi yang menjadi bagian di rutinitas.

Bahaya Merokok pada Perempuan

Bahaya rokok memang dapat menyerang kepada siapa saja, namum risiko terbesar dari perilaku merokok lebih mengancam pada perempuan. Perokok perempuan berisiko 25% lebih tinggi daripada perokok laki-laki. Perokok perempuan memiliki risiko ganda terhadap penyakit jantung dan kanker paru-paru bila dibandingkan dengan perokok laki-laki. Penyebabnya karena perempuan memiliki berat badan dan saluran darah yang lebih kecil dari laki-laki.

Bahaya merokok pada perempuan antara lain: Merusak kulit, mengganggu sistem reproduksi, mengganggu siklus menstruasi termasuk timbulnya rasa nyeri, menurunkan kesuburan, meningkatkan risiko terkena kanker payudara, rahim, dan kanker paru-paru, mengganggu pertumbuhan janin dalam rahim, menganggu kelancaran ASI, keguguran, hingga kematian janin. Simak penjelasan lebih lanjut dr. Boyke mengenai bahaya merokok bagi wanita hamil https://www.youtube.com/watch?v=r1OOsmHkWPM

Komunikasi Interpersonal yang dapat Mengurangi Minat Merokok

Komunikasi interpersonal orang tua dapat mempengaruhi interaksi merokok pada anak. Orang tua berperan penting dalam masa pertumbuhan anak dan pengambilan keputusan.

Adanya consumer socialization dapat membantu anak untuk mendapatkan keterampilan, pengetahuan, sikap dan pengalaman agar dapat berfungsi sebagai konsumen. Hubungan yang baik antara orang tua dan anak dapat mempengaruhi interaksi anak dalam mengkonsumsi rokok.  Di sisi lain, meningkatkan pengetahuan tentang rokok dan bahayanya dapat mengurangi intensitas minat untuk merokok

Jadi mulai sekarang apa yang harus dilakukan orang tua? Orang tua berpotensi meningkatkan kualitas kehidupan anaknya. Caranya dengan membangun komunikasi interpersonal antara orang tua dan anak sehingga hal ini dapat mengurangi minat interaksi merokok pada anak dan dapat mengarahkannya mengkonsumsi ke arah yang lebih baik.

Satu hal yang patut Anda sadari bahwa komunikasi interpersonal antara orang tua dan sang anak/ remaja dapat menjadi tolak ukur kemampuannya dalam membentuk kepercayaan serta berkomunikasi dengan orang dewasa lain di luar keluarganya, bahkan dengan atasannya di masa depan. Oleh karena itu, orang tua dan remaja memiliki kepentingan yang sama besarnya untuk berjuang dalam mengasah dan mengembangkan keterampilan dalam berkomunikasi. Hal ini pernah diulas Info Bintaro dan Universitas Pembangunan Jaya pada artikel berikut: http://www.infobintaro.com/remaja-dan-orang-tua-mari-berkomunikasi/

Penulis:

Nurlihidayat Taufik (Mahasiswa) dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo (Dosen)
Program Studi Psikologi – Fakultas Humaniora dan Bisnis Universitas Pembangunan Jaya

Referensi

Kurniafitri, D. (2015). Smoking behavior of women in urban areas. IOM FISIP UR, 2(2), 1-15.

Priherdityo, E. (2017, Mei 31). Di indonesia, rokok sudah jadi kebutuhan ‘primer’. Cnn Indonesia. Diakses dari  https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160531020808-277-134583/di-indonesia-rokok-sudah-jadi-kebutuhan-primer/

Sandy, A. M., & Setyawan, I. (2017). Efektivitas komunikasi interpersonal orang tua-anak dengan intensi merokok. Jurnal Empati, 5(1), 33-36.

Santrock, J. W. (2010). Life-span development. (13th ed.). New York: Mc-Graw Hill.

Schiffman, L. G. & Kanuk, L. L. (2010). Consumer behavior. New Jersey: Person Education Inc.

Setiadi, N. J. (2013). Perilaku konsumen. Jakarta: Kencana.

Setyowati, Y. D., Krisnatuti, D., & Hastuti, D. (2017). Pengaruh kesiapan menjadi orang tua dan pola asuh psikososial terhadap perkembangan sosial anak. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen 10(2), 95-106.

Tjalla, A., Komalasari, G., & Asharika, E. (2017). Pengembangan hipotetik buku bantuan diri tentang bahaya merokok. Jurnal Bimbingan Konseling, 5, 169-183. doi: https://doi.org/10.21009/INSIGHT.052.03

Wibowo, M. (2017). Perspektif hambatan terhadap kemungkinan remaja berhenti merokok. Unnes Journal of public health, 6, 137-140. doi: http://dx.doi.org/10.15294/ujph.v6i2.13735