Jum. Nov 15th, 2019

Positive People, Positive Mind

Siapa sih yang tidak kenal dengan kata stres? Pasti semua orang yang hidup di dunia ini sudah pernah mengalaminya. Mulai dari usia muda hingga dewasa pasti pernah mengalami suatu kejadian di dalam hidup mereka yang dapat memicu terjadinya stres. Apalagi jika kita tinggal di lingkungan perkotaan yang memiliki banyak tuntutan mengenai gaya hidup, tentu saja banyak stimulus-stimulus yang membuat kita stressetiap harinya!

Baca Juga:

Stress Dengan Kemacetan? Ini Alternatif Solusi Jalan Keluarnya

Stresdapat didefinisikan sebagai respon individu terhadap keadaan dan kejadian yang mengancam keberlangsungan hidup mereka. Penyebab stres itu biasanya lahir dari faktor-faktor yang ada di dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari faktor lingkungan, faktor kepribadian, faktor pekerjaan, dan faktor sosial budaya.

Baca Juga:

Memahami Stres Kerja
Tips Menghilangkan Stres Kerja
Kenali Gejala Stress Anda

Adanya konflik dalam kehidupan manusia memang bagian dari kodrat. Kita tidak bisa menyangkal ataupun lari dari kenyataan itu. Hal yang dapat kita lakukan adalah hadapi dan selesaikan konflik yang terjadi melalui pemikiran positif. Beberapa orang dapat berhasil untuk menyelesaikan konfliknya dengan baik, namun beberapa orang lainnya tidak seberuntung orang yang berhasil.

Beberapa individu mengalami masa dimana mereka menyimpan terlalu banyak beban, sehingga tidak mampu untuk mengatasi konflik yang sedang mereka alami dan menimbulkan stres. Namun ternyata ada faktor lain yang mempengaruhi seberapa besar keinginan manusia untuk menyelesaikan konflik dan seberapa besar perasaan stresyang dialami, yaitu bagaimana kita membuat jaringan sosial dengan orang-orang di sekitar kita.

Banyak orang yang tidak tahu jika ternyata jaringan sosial dengan orang-orang di lingkungan sekitar kita ternyata bisa mempengaruhi tingkat stres yang kita alami. Apabila kita sedang mengalami stres¸ lalu kita berteman dengan orang yang juga sedang mengalami stresdan mudah putus asa, tentu saja motivasi kita untuk bertahan hidup akan menurun.

Belum lagi jika orang tersebut sudah terjerumus ke dalam lingkaran setan seperti menggunakan narkoba, melakukan tindak kejahatan, bunuh diri dan sebagainya, pasti makin terasa berat beban hidup rasanya. Pasti kita juga akan ikut-ikutan supaya bisa lari dari konflik. Tindakan ini sesungguhnya bukanlah suatu jalan keluar!

BACA JUGA  Mengajar dan Melatih Anak Menabung

Beda cerita jika kita berteman dengan orang-orang yang penuh humor dan penuh dengan semangat hidup. Saat kita sedang berkumpul dengan orang yang penuh humor, tentu saja kita akan terbawa untuk menjadi senang dan akan ikut tertawa oleh humor yang mereka lontarkan.

Apabila kita berteman dengan orang yang penuh semangat hidup, kita pasti akan merasa malu jika kita menunjukkan keputusasaan akan hidup yang kita alami karena mereka memiliki motivasi untuk sukses serta untuk bertahan hidup yang tinggi. Secara tidak langsung kita pasti akan terbawa untuk semangat dan bangkit juga dari masalah.

Hal-hal diatas menjelaskan bahwa manusia itu adalah makhluk yang ikut-ikutan atau konformitas. Konformitas memiliki definisi yaitu keadaan seseorang dimana mereka akan bertingkah laku sesuai dengan pengaruh dari standarisasi kelompok yang ada. Jadi intinya, manusia itu akan bertingkah sesuai dengan lingkungannya dan manusia juga akan berpikir sesuai dengan pemikiran orang-orang yang ada di dekat mereka.

Baca juga:

Mewarnai Bagi Orang Dewasa Dapat Meringankan Stress, Melatih Konsentrasi dan Ketekunan

Bila demikian, mengapa kita tidak mencoba untuk berteman dengan orang-orang yang positif? Orang positif itu adalah orang yang pantang menyerah, mau bekerja keras, humoris, selalu memiliki motivasi untuk sukses dan dapat melakukan manajemen hidup dengan baik. Yuk, kita lakukan interaksi yang baik dengan cara berteman bersama orang yang positif supaya kita akan ikut menjadi orang yang positif  dan meringankan tingkat perasaan stres yang kita alami.

Tim Penulis

Vidinia Ramadhani (Mahasiswa) dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo (Dosen)
Fakultas Humaniora dan Bisnis
Universitas Pembangunan Jaya

Referensi

Santrock, J.W. (2006). Human Adjustment. New-York: McGraw-Hill.https://www.amazon.com/Human-Adjustment-University-John-Santrock/dp/0073400521

Baca Juga

Tinggalkan Balasan