Rab. Nov 13th, 2019

Pernak Pernik Dekorasi Menjelang Tahun Baru Imlek

Biasanya 10 hari menjelang tahun baru Imlek, warga keturunan Tionghoa mulai mendekorasi rumahnya untuk menyambut perayaan tahun baru. Apa saja pernak perniknya? Simak di artikel berikut.

Lampion Berwarna Merah – Mengusir Pergi Kemalangan

Lampion merah digunakan dalam berbagai pesta dan festival penting, seperti Festival Imlek, Festival Lampion (Cap Go Meh) dan Festival Pertengahan Musim Gugur (Tiong Chiu). Sementara lampion berwarna putih digunakan pada acara berkabung.

Selama Tahun Baru Imlek, lazim dijumpai banyak lampion yang tergantung di pohon-pohon di sepanjang jalan pusat pecinan, gedung-gedung perkantoran, dan pintu-pintu depan rumah. Menggantung sepasang lampion di depan pintu rumah dipercaya dapat mengusir pergi nasib buruk.

Seiring dengan perkembangan jaman, bentuk-bentuk lampion mulai dibuat unik. Salah satunya adalah lampion yang dibuat dari kertas pembungkus angpau.

Untaian Bait Sajak di Pintu – Harapan Baik di Tahun Mendatang

Untaian bait sajak Tahun Baru (对联; duìlián) ditempelkan pada pintu masuk rumah. Bait sajak tersebut mengungkapkan pernyataan atau pengharapan yang baik.

Harapan baik di tahun baru biasanya dinyatakan secara berpasangan (sajak 2 bait), karena dalam budaya Tionghoa, jumlah yang genap berkaitan dengan nasib baik dan keberuntungan. Untaian bait sajak berupa seni tulis kaligrafi yang ditulis menggunakan kuas bertinta hitam di atas sehelai kertas berwarna merah.

Kedua baris bait sajak biasanya terdiri dari 7 karakter yang ditempel pada kedua sisi pintu keluar masuk. Kebanyakan isi sajak bercerita mengenai datangnya musim semi. Beberapa berisi mengenai pernyataan harapan atau keyakinan si penghuni rumah, seperti keharmonisan dan kesejahteraan.

Sajak ini akan tetap berada di tempatnya sampai diperbarui kembali pada tahun baru berikutnya. Dalam nada yang sama, harapan baik berupa idiom 4 karakter juga sering ditambahkan mendatar pada bingkai pintu.

Karya Seni Ukir Kertas – Keberuntungan dan Kebahagiaan

Kerajinan ukir kertas merupakan karya seni disain memotong kertas (dalam warna apapun, tetapi untuk Festival Musim Semi terutama menggunakan warna merah), kemudian ditempelkan pada latar yang berwarna kontras atau pada permukaan yang transparan (seperti jendela).

Ini sesuai dengan adat masyarakat di Tiongkok utara dan tengah yang menempelkan karya seni ukir kertas berwarna merah pada pintu dan jendela rumah.

Gambar berupa tanaman atau hewan yang melambangkan keberuntungan biasanya menjadi tema dari karya seni ukir kertas di Tahun Baru. Setiap hewan atau tanaman mewakili harapan yang berbeda.

Beberapa contoh hasil seni ukir kertas, misalnya buah persik melambangkan umur panjang, buah delima melambangkan kesuburan, bebek mandarin melambangkan cinta, pohon pinus melambangkan awet muda, bunga peony melambangkan kehormatan dan kekayaan, burung murai yang bertengger di atas dahan pohon prem pertanda akan segera terjadi peristiwa yang menguntungkan, dsb.

Lukisan Tahun Baru – Simbol Salam Tahun Baru

Lukisan Tahun Baru (年画; niánhuà) dipasang pada pintu dan dinding selama tahun baru bertujuan sebagai dekorasi dan sebagai simbol salam tahun baru. Gambar pada lukisan biasanya berupa tanaman atau hewan yang menurut legenda melambangkan keberuntungan.

BACA JUGA  Untung Rugi Jika Pasangan Bekerja di Satu Kantor

Karakter Fu – Keberuntungan ‘Dicurahkan’

Yang mirip dengan untaian bait sajak dan karya seni ukir kertas adalah menempelkan kertas kaligrafi berbentuk wajik berukuran besar dengan karakter Mandarin 福 (fú) pada pintu rumah.

Adapun versi lain dari Karakter Fu ini adalah dengan sengaja dibuat / ditempel terbalik. Fu berarti ‘nasib baik’. Dengan menempatkan karakter tersebut dengan posisi bagian atas dibalik ke posisi bawah, mengartikan bahwa mereka menginginkan ‘nasib baik’ “ditumpahkan atau tercurah” ke atas mereka.

Posisi yang benar dari karakter ini menurut aslinya adalah piktogram dari sebuah kendi. Jadi dengan membalikkan posisi karakter tersebut ibarat sedang “menuang” nasib baik keluar dari kendi kepada semua orang yang masuk melalui pintu tersebut!

Legenda Fu yang Terbalik

Tradisi yang menarik ini mungkin berasal dari kesalahan yang tidak disengaja. Pada suatu hari di di Hari Tahun Baru Imlek (tidak diketahui tahun persisnya), sebuah keluarga membuat kesalahan ceroboh dengan memasang 福 (fu) secara terbalik.

Pada hari pertama di tahun baru, datanglah tamu pertama yang berkunjung, melihat huruf 福 dalam posisi terbalik, serta-merta berseru “你們的福倒了! (Nǐmen de fú dàole) Yang kira-kira berarti “berkah kalian telah turun!”

Huruf 倒 (dao) selain mempunyai arti ‘terbalik’, juga berarti “tumpah”. Sehingga kalimat “你們的福倒了!” juga dapat diartikan sebagai ‘fu (berkah) kalian sudah tercurah’. Lama kelamaan masyarakat mulai menggemari makna alternatif ini, sehingga mulailah dipasang dekorasi fu dalam posisi terbalik untuk “memohon” ‘curahan berkat’.

Konon tradisi menempel karakter Fu (福) secara terbalik ini digemari etnis Tionghoa di Malaysia, dan mulai menyebar ke Singapore dan Indonesia pada 1 dekade terakhir. Simak videonya di https://www.youtube.com/watch?v=NpHFDPuoNnE

Pohon Kumquat – Harapan akan Kekayaan dan Keberuntungan

Dalam bahasa kanton, kumquat (kumkuat) disebut ‘gam gat sue’. Kata ;gam; (金; Jīn) merupakan bahasa kanton untuk kata ‘emas’, dan kata gat memiliki lafal seperti kata ‘beruntung’ dalam Bahasa Kanton.

Demikian pula dalam Bahasa Mandarin, kumquat disebut Jinju shu (金桔树; jīnjú shù). Kata ‘jin’ (金) berarti ‘emas’. Sementara kata ‘ju’ memiliki pelafalan yang mirip seperti kata ‘beruntung’ (吉; jí).

Oleh sebab itu, keberadaan pohon kumquat di dalam rumah melambangkan harapan akan kekayaan dan keberuntungan. Pohon kumquat merupakan tanaman yang sangat populer dipajang selama festival tahun baru, terutama di Tiongkok selatan yang berbahasa kanton, seperti Hong Kong, Makau, Guangdong dan Guangxi. Ingin mengenal bentuk pohon kumquat? Simak di https://www.youtube.com/watch?v=UJrOSznVtpQ

Bunga yang Mekar – Harapan akan Tahun yang Sejahtera

Tahun Baru Imlek disebut juga dengan Festival Musim Semi, menandakan dimulainya periode musim semi. Menghias rumah dengan bunga yang bermekaran sangatlah umum, sebagai lambang tibanya musim semi dan harapan akan tahun baru yang lebih sejahtera.

Menurut tradisi, tanaman yang populer digunakan selama periode ini adalah : bunga prem yang berkembang, anggrek, peoni dan persik. Di Hong Kong dan Makau sendiri, tanaman dan bunga sangatlah populer digunakan sebagai dekorasi tahun baru Imlek.

BACA JUGA  L'oréal Professionnel Luncurkan Koleksi Tren Warna Rambut "Parisian Cool Balayage" di Jakarta Fashion Week 2019

Sementara di Indonesia, pohon sakura atau pohon Meihua (美花) yang lebih dikenal dengan sebutan pohon Imlek yang berwarna merah muda, sangat populer di masyarakat Tionghoa.

Pohon ini biasa dihias dengan aneka gantungan ornamen khas Imlek, seperti lambang shio2, ornamen ikan, dan kertas angpau (sering juga disebut pohon angpau). Pohon Meihua ini juga punya beberapa warna lho…simak di https://www.youtube.com/watch?v=cAurw2GTSl0

Angpau

Kalau diterjemahkan, angpau berarti amplop merah. Warna merah adalah warna yang dipercaya dapat menangkal pengaruh jahat. Oleh karena itu hadiah uang tahun baru pun dimasukkan ke dalam angpau (dialek Hokkian) atau Hongbao (bhs.Han). di atas angpau biasanya dituliskan aksara-aksara keberuntungan. Angpau diberikan mereka yang lebih tua kepada saudara yang belum menikah atau kepada yang dituakan, seperti kakek dan nenek. Bagi yang memberikan, angpau merupakan simbol berbagi rejeki. Bagi yang menerima, angpau dilambangkan sebagai pembawa kebahagiaan untuk satu tahun ke depan.

Petasan dan Kembang Api

Penemuan petasan dan kembang api diyakini berasal dari 2 ribu tahun lalu di China. Keberadaanya muncul saat koki China tidak sengaja mencampur materi KN03, belerang dan arang.

Bahan tersebut dipanaskan di atas api dan dikeringkan sehingga menghasilkan bubuk pipih hitam yang jika dibakar akan menghasilkan ledakan yang keras. Campuran awal ini dikenal sebagai bubuk mesiu.

Nama China bagi bubuk hitam itu adalah huo yao atau bahan kimia api. Campuran tersebut dimasukkan ke dalam bambu dan dilemparkan ke dalam api. Gas yang dihasilkan dari bubuk di dalam bambu tersebut akan menciptakan tekanan sehingga meledakkan tambung itu.

Keberadaan materi ledakan yang menghasilkan cahaya indah tersebut menjadi bagian penting bagi kebudayaan China seperti pernikahan, ritual agama, perayaan kepercayaan dan cara untuk menakut-nakuti roh jahat.

Baca juga: https://www.infobintaro.com/tradisi-kembang-api-di-malam-tahun-baru/

(EGS)

 

Baca Juga