Rab. Mei 22nd, 2019

Perilaku Konsumen Belanja Online di Indonesia

Apakah ada dari antara Anda yang berjualan produk atau jasa secara online? Bila iya, Anda patut menyimak liputan berikut ini agar dapat mempelajari perilaku konsumen dengan seksama. Fenomena penutupan sejumlah nama besar di bidang retail di Indonesia dan beralihnya konsumen berbelanja di online menjadi bahasan pada kuliah tamu Consumer Behaviour yang diselenggarakan Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya.

Dosen pengampu dari mata kuliah tersebut mengundang salah seorang alumninya Nurin Nadhilla, S.Psi untuk berbagi pengalaman bekerja sebagai Cross Border Agent di Divisi Operation Analyst di Shopee Jakarta. Bekal ilmu psikologi ia manfaatkan untuk memotret perilaku konsumen belanja online, yang ia paparkan dalam kegiatan Alumni / Praktisi Berbagi di kampus UPJ pada tanggal 1 November 2017.

Nurin mengungkapkan bahwa online shopping menjadi alternatif utama masyarakat untuk berbelanja. Bebas macet, bebas parkir dan bebas ribet – hal-hal tersebutlah yang lazimnya menjadi alasan. Oleh karenanya, penting untuk memahami perilaku konsumen belanja online agar dapat memahami perkembangan terkini.

Lebih lanjut Nurin menjelaskan bahwa konsumen online terbilang teramat sangat sensitif akan harga. Oleh karenanya, acapkali konsumen belanja online membandingkan harga antara satu e-commerce market place dengan yang lain, serta acapkali meminta gratis ongkos kirim. “Biaya yang dihemat terkadang tidak sampai lebih dari Rp. 10.000, tetapi itulah yang dikejar oleh konsumen online,” papar Nurin.

Selain itu, kecepatan dan kelengkapan Live Chat, adanya foto barang, testimoni dan sistem rating menggunakan bintang mempengaruhi konsumen untuk memutuskan berbelanja atau tidak. “Yang terkadang membuat gemas,” kata Nurin sambil tergelak, “Ada konsumen yang bertanya terus dan terus dengan teramat detil, eh, ujung-ujungnya… ga jadi beli.”

Membandingkan dengan konsumen pasar konvensional, konsumen online, menurut Nurin, jauh lebih menuntut alias demanding. Dalam kasus khusus, bahkan terjadi insiden konsumen memaki dengan kata-kata kasar. Psikologi membuat Nurin mencoba memahami motivasi di balik perilaku konsumen – termasuk yang unik seperti ini.

BACA JUGA  Trailblazer Membuat Perjalanan Panjang Akhir Pekan Semakin Nyaman

Yang juga Nurin temukan adalah, “Ternyata konsumen online Indonesia itu terbilang tidak telaten membaca.” Dirinya memotret hal ini karena pengalamannya melayani bombardir aneka pertanyaan, padahal semua informasi sudah lengkap tersedia di deskripsi produk.

Menekuri hal ini, Gita Soerjoatmodjo selaku dosen pengampu melihat adanya benang merah antara pasar tradisional dan pasar virtual – di mana proses persuasi dan negosiasi melalui interaksi penjual pembeli yang dulunya berlangsung riuh rendah di lapak kini bergeser ke chat room.

Kuliah tamu ini diikuti secara antusias oleh mahasiswa – di mana nyaris semuanya merupakan konsumen belanja online. Consumer Behaviour ini merupakan mata kuliah Kelas Open To All (KOTA) karena terbuka untuk mahasiswa dari sepuluh Program Studi yang ada di Universitas Pembangunan Jaya, dari Teknik Sipil sampai Teknik Informatika, dari Akuntansi sampai Arsitektur yang bertujuan menghadirkan  kajian-kajian terkini tentang gaya hidup kota (urban lifestyle) termasuk perilaku belanja online.

 

Penulis: Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo M.A., M.Psi., Psikolog, Staf Pengajar Program Studi Psikologi UPJ

 

 

 

Baca Juga