Perilaku Belanja Impulsif dan Self Esteem

Mengapa orang berbelanja? Jawaban mudahnya adalah demi memenuhi kebutuhan. Ternyata kenyataannya, berbelanja bukanlah perkara sederhana. Psikologi mengenal perilaku belanja impulsif, yaitu pembelian tidak terencana yang terjadi di tempat berbelanja secara spontan karena adanya perasaan terdesak agar individu segera melakukan pembelian.

Perilaku belanja impulsif memiliki beberapa elemen: 1) adanya keinginan secara tiba-tiba untuk membeli, 2) keinginan tersebut menyebabkan individu berada dalam kondisi ketidakseimbangan psikologis yaitu kondisi sementara di mana konsumen kehilangan kontrol emosi, 3) konsumen tersebut berjuang mempertimbangkan kepuasan dirinya dengan konsekuensi jangka panjang dari pembelian, 4) konsumen sering kali mengabaikan proses evaluasi tentang produk atau jasa tersebut, 5) konsumen tidak mempertimbangkan konsekuensi di masa depan akibat perilaku tersebut.

Apa yang menyebabkan seseorang melakukan perilaku yang irasional semacam ini? Ternyata harga diri (self-esteem) memiliki peran penting. Self-esteem merupakan evaluasi yang dibuat oleh individu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dirinya yang diekspresikan melalui bentuk penilaian setuju dan menunjukkan tingkat di mana individu meyakini dirinya sebagai individu yang mampu, penting dan berharga. Self-esteem merupakan kumpulan dari kepercayaan atau perasaan tentang diri kita atau persepsi kita terhadap diri sendiri tentang motivasi, sikap, perilaku, dan penyesuaian emosi yang mempengaruhi kita.

Di samping itu self-esteem merupakan salah satu faktor utama dari bagaimana individu melihat dirinya atau konsep diri dan menjadi determinan penting dalam perilaku manusia, termasuk di dalamnya perilaku belanja impulsif. Belanja impulsif berfungsi untuk keluar dari keadaan psikologis yang negatif seperti self-esteem rendah. Semakin seseorang merasa dirinya tidak berharga, maka semakin tinggi pula perilaku belanja impulsifnya.

Mereka yang memiliki harga diri rendah membeli barang-barang yang memberikan makna simbolik untuk meningkatkan harga diri dan menutupi perasaan rendah diri. Mereka yang memiliki self-esteem rendah akan sulit untuk menahan hasrat belanja, karena mereka beranggapan bahwa dengan pembelian produk terutama yang sedang tren ini akan mendatangkan perhatian dan penghargaan dari lingkungan yang akhirnya dapat meningkatkan harga diri mereka.

Salah satu sumber self-esteem adalah peran individu dalam organisasi. Hal ini dikenal dengan Organization-Based Self-Esteem (OBSE) yaitu sejauh mana kebutuhan akan harga diri tersebut diperoleh dari peran yang mereka jalankan dalam organisasi. Mereka yang memiliki OBSE positif merasa diri penting, berarti, memberikan efek yang signifikan, dan berharga sebagai pekerja. Pekerja dengan OBSE yang tinggi cenderung secara aktif berusaha menemukan materi yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah pekerjaan, dan menggunakan kemampuan serta keahlian mereka secara penuh sehingga hasil kerjanya lebih maksimal.

Seseorang akan mengembangkan OBSE dimulai di usia 20 tahun. Pada tahapan ini individu memiliki tugas perkembangan yaitu membangun pengembangan karir, kemandirian pribadi serta ekonomi. Ada tiga kriteria untuk mendefinisikan masa dewasa yakni penerimaan tanggung jawab untuk dirinya sendiri, membuat keputusan sendiri serta mulai mampu secara finansial.

Oleh karena itu, penting bagi dewasa muda terutama yang sedang memulai karir untuk membangun harga diri positif dengan membangun rasa berharga melalui pencapaian di organisasi. Hal ini penting mengingat di usia dewasa awal, perilaku belanja impulsif akan meningkat. Hal ini menyebabkan individu dewasa muda tersebut rentan belanja impulsif, antara lain untuk mengatasi harga diri yang rendah karena merasa belum bermakna di organisasi tempat ia berkarir.

Dapat disimpulkan bahwa dengan menyadari hubungan antara harga diri dan perilaku belanja impulsif ini, individu dapat mengelola dirinya antara lain dengan melakukan regulasi diri secara lebih baik dan menghayati perannya di dalam organisasi tempat ia bekerja.

Artikel ini disusun oleh:

  • Della Adelia, Mahasiswi Program Studi Psikologi UPJ yang tengah menyusun skripsi tentang perilaku belanja impulsif
  • Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo, Dosen Program Studi Psikologi UPJ

Referensi

  1. Anin, A., Rasimin, B. S., & Atamimi, N. (2015). Hubungan Self Monitoring Dengan Impulsif Buying Terhadap Produk Fashion Pada Remaja. Jurnal Psikologi, 35(2), 181–193.
  2. Henrietta, P. (2012). Impulsif Buying Pada Dewasa Awal Di Yogyakarta. Jurnal Psikologi Undip, 11(2), 6.
  3. Lestari, E. S., Silviandari, I. A., & Widyasari, S. D. (n.d.). Hubungan Antara Gaya Hidup Hedonis Dengan Kecenderungan Impulse Buying Produk Pakaian Imitasi Pada Pria Homoseksual Di Malang Raya. Diambil dari http://www.academia.edu/download/36158798/Eva_Sri_Lestari_105120307111041.pdf
  4. Nirza, L.R. (2014). Hubungan Self esteemdengan Impulsif Buying pada Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Bidang Kajian Public Relation Universitas Islam Bandung. Skripsi tidak dipublikasikan. Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung
  5. Papalia D.E., Olds, S.W, & Feldman, R.D. 2009. Human Development (Perkembangan Manusia edisi 10 buku 2). (Penerj. Brian Marwensdy). Jakarta: Salemba Humanika.
  6. Permana, R. A., & Kusdiyanti, S. (2016). Hubungan Self esteem dengan Impulsif Buying pada Mahasiswa angkatan 2013 Fakultas Ekonomi Universitas X Bandung. Diakses dari: http://karyailmiah.unisba.ac.id/index.php/psikologi/article/view/4009/pdf
  7. Pierce, J. L., Gardner, D. G., Cummings, L. L., & Dunham, R. B. (1989). Organization-Based Self-Esteem: Construct Definition, Measurement, And Validation. Academy of Management Journal, 32(3), 622–648. https://doi.org/10.2307/256437
  8. Rangkuti, Anin, A., Rasimin, B. S., & Atamimi, N. (2015). Hubungan Self Monitoring Dengan Impulsif Buying Terhadap Produk Fashion Pada Remaja. Jurnal Psikologi, 35(2), 181–193.
  9. Santrock, J.W. (2012). Developmental psychology. New York: Mc Graw Hill.
  10. Silvera, D. H., Lavack, A. M., & Kropp, F. (2008). Impulse buying: the role of affect, sosial influence, and subjective wellbeing. Journal of Consumer Marketing, 25(1), 23–33.
  11. Widjajani, S., Wiyono, J., & Romadoni, M. R. (n.d.). Menguji Model Hubungan Antara Organization-Based Self esteem Terhadap Organizatonal Citizenship Behavior; Self Efficacy Sebagai Variabel Pemediasian. Diambil dari http://jurnal.fe.uad.ac.id/wp-content/uploads/optimum-2014-09.pdf