Penari Istana Yang Tampil di Festival Kuliner Serpong

Saat ini sedang berlangsung event Festival Kuliner Serpong 2017 (FKS) yang digelar di Summarecon Mal Serpong. dari tanggal 10 Agustus hingga 10 September 2017. Di event ini pengunjung dapat mencicipi aneka hidangan nusantara. Tak hanya itu berbagai kegiatan seni juga digelar di event ini. Salah satunya adalah pertunjukan Sisingaan yang berasal dari tanah Pasundan.

Saat Info Bintaro tiba di lokasi, di panggung sedang ada pertunjukan Sisingaan yang ditampilkan oleh Sanggar Tari Maya Pasundan. Penamaan kesenian Sisingaan diambil dari alat utama kesenian ini, yaitu “sisingaan, suatu benda yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai wujud seekor singa.

Kata “sisingaan” itu sendiri adalah kata jadian dalam bahasa Sunda yang kata dasarnya adalah “singa”, kemudian diberi imbuhan berupa awalan “si” dan akhiran “an”. Dalam bahasa Sunda, kata jadian yang dibentuk oleh pengulangan suku kata awal dari suatu kata dasar dan diberi akhiran ”an” mempunyai arti menyerupai. Contohnya: “me-meja-an”, “bu-buku-an”, “a-anjing-an”, “ma-manuk-an”, “ku-kuda-an”, “si-singa-an”, yang artinya tiruan dari kata dasarnya atau bukan yang sebenarnya.

Jadi dalam kesenian Sisingaan, alat utamanya bukan singa yang sesungguhnya, melainkan singa tiruan yang terbuat dari kayu. Uniknya kepalanya dapat bergerak ke segala arah dengan tuas yang ada di bagian belakang kepala boneka tsb. Rangka dan kepala usungan boneka-boneka singa tersebut terbuat dari kayu dan bambu yang dibungkus dengan kain serta diberi tempat duduk di atas punggungnya. Sedangkan, untuk bulu-bulu yang ada di kepala maupun ekor dibuat dari benang rafia.

Penari istana

Sanggar tari yang tampil di Festival Kuliner Serpong ini benar-benar istimewa. Belum lama ini mereka tampil diundang ke upacara HUT RI tanggal 17 Agustus lalu di Istana Negara. Tentu merupakan kebanggan bisa tampil di hadapan kepala negara RI. Menurut Mas Joko Santoso dari Sanggar Maya Pasundan, sanggarnya ini sebelumnya telah sering diminta Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI untuk tampil di luar negeri dalam rangka misi kebudayaan RI.

Tahun lalu sanggar ini baru tampil di Misi Kebudayaan RI ke Italia. Dan belum lama ini mempertunjukkan tariannya di Swiss. Ada syarat yang tidak mudah bagi satu sanggar untuk ikut ke misi kebudayaan tersebut. “Sanggar tersebut harus mampu membawakan tarian dari 33 propinsi di Indonesia. Tidak sembarang sanggar sanggup memenuhi persayaratan tersebut,” ujar Mas Joko. Seharusnya pertunjukan Sisingaan ini juga diiringi penari wanita namun rombongan penari wanita tersebut sedang tampil di misi kebudayaan RI ke Korea.

Tari Yang Dinamis

Pertunjukan Sisingaan dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis khas Pasundan. Para penari beratraksi seperi pertunjukan liong atau barongsai. Pasang kuda-kuda, berguling serta mengangkat barong ke atas dengan seorang anak yang duduk di atas barong.

Pembentukan formasi para penari penggotong sisingaan diatur dan dikomando oleh seorang pemimpin. Melalui aba-aba pemimpin, para penggotong sisingaan mulai membuat formasi untuk menggotong sisingaan. Mereka membagi diri dalam 2 kelompok, masing-masing kelompok terdiri atas 4 orang. Sambil tetap melakukan gerak-gerak tarian, masing-masing kelompok mendekati sisingaan yang akan diusungnya. Mereka pun mulai membuat gerakan-gerakan atraktif dan akrobatis sambil mulai mengangkat sisingaan dan meletakkannya di atas pundak. Masing-masing kelompok mengusung sebuah sisingaan yang ditunggangi oleh masing-masing satu orang anak.

Sejarah Sisingaan

Sisingaan diilhami dari cerita serial Reog di Jawa Timur, yang menceritakan suka cita perjalanan para pengawal raja Singa Barong dari kerajaan Lodaya saat menuju kerajaan Daha. Meskipun sang raja terkenal bengis dan angkuh, tetapi para pengawal selalu setia memikul tandu yang ditiduri oleh Raja Singa Barong.

Selain itu sebagai lambang perlawanan rakyat Subang terhadap kesewenangan Belanda yang di gambarkan sebagai sosok singa pada lambang VOC, Hal ini bertujuan sebagai edukasi pembelajaran sejarah yang menenangkan bagi para pelajar. Di samping itu Sisingaan memiliki makna spiritual di mana masyarakat mengadakannya dalam rangka selamatan atau syukuran.

Saat ini, kesenian Sisingaan dimainkan untuk acara-acara khusus seperti acara menerima tamu kehormatan, acara khitanan anak, acara hari-hari besar dan sebagainya. Di daerah asalnya, di kabupaten Subang diadakan festival Sisingaan pada tanggal 5 April setiap tahunnya diikuti oleh semua kecamatan yang ada di Subang untuk memeriahkan acara peringatan hari jadi Kabupaten Subang.

Sangat beruntung para pengunjung di Festival Kuliner Serpong yang berkesempatan menyaksikan langsung pertunjukan sisingaan ini. Hadirin sangat antuasias menonton sisingaan ini. Bahkan seusai pertunjukan ada yang maju ke depan panggung untuk menaikkan anaknya ke atas sisingaan.

Sanggar Maya Pasundan

Kelompok ini berlatih setiap akhir pekan. Di weekdays, mereka bekerja di masing-masing bidang. Mayoritas anggota merupakan generasi ketiga dari Wayang Orang Bharata yang merupakan kelompok wayang orang ternama di tanah air. Saat ini Sanggar Maya Pasundan telah menjadi kelompok binaan dari Pemprov DKI Jaya. Anggota sanggar ada yang berumur 10 hingga 40 tahun. Sejak umur 10 tahun seorang anak dianggap sudah mampu menghafal langkah tari Sunda yang merupakan dasar tarian Sisingaan.

Libur sekolah

Mas Joko Santoso dari Sanggar Maya Pasundan menuturkan bahwa  pertunjukan Sisingaan biasanya ramai digelar pada saat libur sekolah di mana anak-anak menjalani upacara sunat. Pertunjukan sisingaan merupakan makna ucapan syukur bagi sang pengantin sunat. Di saat pertunjukan akan  ada momen di mana sang pengantin sunat naik ke atas sisingaan, yang merupakan boneka berbentuk singa ditandu 4 orang.

Bila Anda berminat untuk memesan pertunjukan Sisingaan ini, Anda dapat mengontak Mas Joko satu bulan sebelumnya. Saat-saat sibuk biasanya pada saat liburan sekolah di mana banyak orang tua yang menyunatkan putranya.

Info lebih lanjut:
Sanggar Maya Pasundan
Telp: 0897 311 7167

 

(EGS)