Pasopati Studio Photo, Studionya Orang Bintaro

Seringkali kesuksesan suatu bisnis  justru dimulai dari ketidaksengajaan. Hal inilah yang dialami oleh David Suhim, pendiri dan pemilik Pasopati Studio Photo, saat membangun Pasopati sehingga menjadi salah satu studio photo terkemuka bukan hanya di Bintaro, melainkan juga di Indonesia.

Berawal dari ketertarikan David melihat wartawan-wartawan yang kerap datang ke toko kamera tempatnya bekerja di daerah Dharmawangsa, Jakarta Selatan pada tahun 1985, yang bisa mengambil foto berbagai obyek dengan baik, David pun kemudian memiliki keinginan kuat untuk belajar fotografi. Sambil tetap bekerja, David pun kemudian mulai menerima order-order pengambilan foto dengan menggunakan nama Pasopati. Nama Pasopati itu adalah nama yang diusulkan oleh seorang temannya, saat David bertanya mengenai nama untuk usaha fotografi yang dijalankannya. Inspirasi semangat Pasopati sendiri berasal dari suatu acara kompetisi anak sekolah di TVRI pada masa itu, Cepat Tepat. Semangat inilah yang diharapkan menjadi kelebihan dari Pasopati dalam memberikan pelayanan.

pasopati_photo_studio_info_bintaro_1

Pada tahun 1989, David pun mengajukan pengunduran diri dari tempatnya bekerja di toko kamera dan menjadi wartawan freelance untuk fotografi di Media Indonesia. Selama bergelut sebagai wartawan inilah kemampuan fotografi David makin terasah. Ia kerap mendapat order-order pengambilan foto dari berbagai instansi, salah satu diantaranya adalah order dari Departemen Luar Negeri RI (Deplu) untuk meliput program pariwisata dari Deplu pada saat itu. Tahun 1993, David pun berhenti bekerja di Media Indonesia dan mulai menjalankan jasa fotografi freelance. Ia juga sempat ikut mendirikan majalah Film & Artis maupun Bintang Indonesia, namun majalah-majalah ini tidak berumur panjang karena keburu ditutup oleh rezim yang berkuasa pada saat itu.

Dari pengalamannya bekerja di media, David banyak berinteraksi dengan berbagai tokoh-tokoh penting, baik pemerintahan, swasta maupun selebritis. Namanya pun semakin berkibar sebagai fotografer, order pun semakin mengalir deras. Namun sejatinya, David ingin membuat nama Pasopati lebih dikenal dibanding namanya. Untuk itu pada tahun 1997, David pun membuka gerai pertama Pasopati di Bintaro Plaza.

Namun kesan yang terbangun pada saat orang melihat gerai Pasopati di Bintaro Plaza ini, Pasopati merupakan studio photo yang eksklusif dan harga layanannya mahal. Seminggu pertama Pasopati Bintaro Plaza dibuka, tidak ada pengunjung yang datang. Barulah setelah itu mulai ada pengunjung yang mengunjungi Pasopati Bintaro Plaza. Namun tetap saja masih jauh dari harapan.

pasopati_photo_studio_info_bintaro_2Krisis Moneter pada tahun 1998 malah menjadi berkah tersendiri bagi Pasopati, order-order fotografi mulai mengalir deras. Hal ini disebabkan, banyak orang yang sebelumnya memiliki simpanan mata uang dollar tiba-tiba memiliki banyak uang karena meningkatnya nilai tukar dollar terhadap rupiah. Kelebihan uang ini juga digunakan untuk membuat foto-foto yang berkualitas tinggi. Banyak tokoh-tokoh penting yang mulai menjadi pelanggan setia Pasopati.

Masa keemasan ini berlangsung sampai pada tahun 2004. Setelah munculnya era kamera digital sekitar tahun 2003, Pasopati mulai mulai merasakan bisnisnya meredup, yang membuat David harus berpikir keras untuk mengubah strategi bisnisnya.

Di masa-masa ini, pada tahun 2003, David sempat membuka gerai keduanya di Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan. Walaupun Pasopati Dharmawangsa terletak di daerah berkategori eksklusif, nyatanya gerai ini hanya dapat bertahan sampai tahun 2005, karena tidak seimbangnya antara pendapatan dan pengeluaran. David harus menutup gerai ini dan berfokus hanya kepada gerainya di Bintaro Plaza. Gerai Pasopati di Bintaro Plaza ditutup pada tahun 2012. Sebelumnya David telah mempersiapkan gerai barunya di Bintaro Sektor 5 sejak tahun 2006, yang ditempati hingga saat ini.

Pada tahun 2003 juga, Pasopati menjadi pelopor bagi photo booth di Indonesia. Pasopati mendapat tantangan dari BCA dengan programnya Tahapan BCA yang melibatkan berbagai penyanyi terkenal tanah air, seperti Ekki Soekarno, AB Three, dll. Tahapan BCA ini berlangsung marathon di berbagai kota, dari mulai Banda Aceh sampai Papua. David pun mempersiapkan berbagai peralatan dan timnya untuk melakukan sesi photo booth yang diminta. Walaupun Pasopati sudah menggunakan kamera digital, namun teknologi kamera digital pada saat itu belum secanggih kamera-kamera digital yang beredar di pasaran saat ini dan belum ada studio photo di Indonesia yang pernah melakukannya. Ia dan timnya harus bekerja keras sepanjang program ini, namun sesi photo booth ini sukses dijalankannya sampai keseluruhan program Tahapan BCA berakhir.

Untuk mempertahankan Pasopati di tengah derasnya berbagai produk kamera digital masuk di pasaran, David memilih ‘positioning’ bagi Pasopati sebagai studio photo yang berkonsep tradisional. Pengertian tradisional ini, Pasopati tidak menggunakan ‘retouch’ bagi foto-foto yang dihasilkannya walaupun dalam pengambilan foto, Pasopati telah menggunakan kamera digital. Hasil-hasil foto yang dihasilkan adalah murni berasal dari skill yang dimiliki fotografer-fotografernya. Konsep ini tetap dipertahankan sampai saat ini, berbarengan dengan pengembangan konsep Pasopati sebagai studio photo keluarga. Nyatanya konsep-konsep ini berhasil membuat Pasopati terus eksis sampai sekarang, di tengah-tengah menjamurnya studio-studio photo baru yang kebanyakan mengandalkan ‘retouch’ dengan software-software photo editor.

Selain foto-foto keluarga, Pasopati juga fokus terhadap foto-foto wedding, acara-acara perusahaan maupun kampanye-kampanye politik. Namun ada sesi foto yang tidak dilakukan oleh Pasopati: tidak menerima order untuk peliputan wisuda. Khusus untuk wisuda, Pasopati hanya menerima photo studio.

pasopati_photo_studio_info_bintaro

Dengan pengalamannya yang panjang di bidang fotografi, David saat ini sudah merasa puas dengan keberadaan Pasopati yang dibangunnya. Saat ini Pasopati dikenal sebagai studio photo keluarga dengan hasil-hasil photo berkualitas tinggi tanpa rekayasa. Warga Bintaro pun menjuluki Pasopati sebagai Studio Orang Bintaro, karena begitu menyatunya Pasopati dengan kebutuhan warga Bintaro. Mendengar nama Pasopati, terbayang foto-foto berkualitas, walaupun kualitas tidak selalu identik dengan harga yang mahal. Bisa dikatakan, harga-harga yang ditawarkan Pasopati cukup bersaing dengan studio-studio photo yang lain. Tidak heran, banyak perusahaan yang menjadikan Pasopati sebagai pilihan studio photo saat ada acara-acara resmi perusahaan.

Saat ini Pasopati memberikan promo berupa diskon yang cukup menarik. Dari Selasa-Kamis, pelanggan akan mendapatkan potongan harga 20% + 20%, sedangkan Jumat-Minggu, potongan harga yang berlaku hanya sebesar 20%. Jadi jika Anda ingin mendapatkan harga yang menarik, Anda harus datang antara hari Selasa sampai dengan Kamis.

Pasopati buka setiap hari dari pukul 10.00-19.00, kecuali hari Senin merupakan hari libur bagi Pasopati. Jika Anda memiliki rencana untuk berfoto, silakan kunjungi:

Pasopati Studio Photo
Jl. Bintaro Utama 59, Bintaro Jaya 5
Telp. 021 – 734 2629, 021 – 7388 5886, 021 – 735 8350
Email: studio@pasopati-studio.com
Website : www.pasopati-studio.com

 

(ES)

 

Leave a Comment