Old Soldier will Never Die : Duel Meet Superkid vs SAS 2017

Old soldier will never die, they just fade away. Ungkapan lama dari kata-kata perpisahan Jenderal Douglas Mac Arthur ini sangat tepat menggambarkan para musisi rock tanah air generasi lama. Walaupun era kejayaan musik rock sudah berlalu, namun musik rock masih eksis sampai saat ini, begitupun dengan sebagian musisinya. Lagu-lagu rock tempo dulu nyatanya masih digemari, tidak hanya pada generasi ‘golden age’ yang sempat merasakan hingar bingar musik cadas ini, namun juga dengan generasi-generasi sesudahnya.

Hal ini ditunjukkan dengan penampilan para rocker gaek pada ajang Duel Meet Superkid vs SAS 2017, yang berlangsung di Bitoz, Jumat, 7 April 2017. Acara ini menampilkan 2 bintang musik rock tanah air, Jelly Tobing dan Arthur Kaunang, yang mewakili 2 band rock terkemuka di era 70-80an, Superkid dan SAS.

Kedua grup rock besar tanah air ini, lahir pada era yang kurang lebih sama, yaitu pertengahan tahun 70-an. Superkid adalah sebuah grup rock asal Bandung yang pernah melahirkan berbagai musisi rock terkemuka tanah air, seperti Dedy Stanzah, Harry Roesli, Jelly Tobing dan Deddy Dores. Dari nama-nama besar ini hanya tinggal Jelly Tobing yang masih ada. Sementara SAS, grup rock asal Surabaya yang kerap disejajarkan dengan God Bless, dinahkodai oleh Arthur Kaunang. Rekan-rekannya yang lain, Ucok ‘AKA’ Harahap, dan Syech Abidin telah duluan kembali ke Sang Pencipta. Adapun Soenata Tanjung, telah meninggalkan hingar bingar panggung musik rock dan menjadi seorang pendeta.

Tidak hanya para rocker-nya sendiri yang usianya sudah cukup lanjut, para penonton yang berdatangan pun mayoritas terllihat usianya sudah tidak muda. Mereka adalah saksi kejayaan musik rock yang pada saat itu sangat mendominasi dunia musik, tidak hanya di Indonesia melainkan juga di seluruh dunia.

Acara yang rencananya dimulai pada pukul 19.00, menjadi agak molor karena ada sedikit kendala pada sound. Namun hal itu tidak mengurangi antusiasme pengunjung yang sebagian berusia lebih dari 40-an tahun. Malahan semakin malam penonton semakin bertambah. Akhirnya, pada pukul 20.30 acara pun dimulai dengan penampilan drummer cilik asal Karawang, Oi, yang berusia 6 tahun. Penampilan drummer runner up festival Indonesian Drummer ini sangat memukau penonton dengan gebukan drumnya yang tidak kalah dengan para seniornya. Sesekali ia memutar-mutar stik drumnya sebelum menggebuk drum. Pada akhir penampilannya, Oi mendapat aplus yang cukup meriah dari penonton.

Selanjutnya Jelly Tobing giliran tampil dengan pemain-pemain cabutan bersama kedua anaknya Miko Tobing yang meneruskan bakat ayahnya menggebuk drum dan Jeje Tobing yang bergantian dengan ayahnya membetot bas. Sementara pada gitar adalah Taraz Biztara. Berbagai lagu rock dari Indonesia maupun mancanegara dimainkan dengan apik, seperti Enter Sandman-nya Metallica, I Want to Break Free Queen, maupun lagu-lagu God Bless, seperti Menjilat Matahari dan Rumah Kita. Sebagian penonton tampak menggoyangkan kepala dan ikut menyanyikan lagu-lagu yang sangat mereka kenal ini.

Giliran selanjutnya adalah Arthur Kaunang yang mewakili grup yang pernah membesarkannya, SAS. Seperti juga Jelly Tobing yang membawa kedua anaknya, bassist dan pemain keyboard kawakan ini juga membawa kedua anaknya, Mecko dan Genesy Kaunang. Mecko bermain gitar, sementara Genesy pada keyboard. Kekompakan bapak dan anak terlihat antara Arthur yang bermain bas gitar dengan Mecko, sesekali terlihat keduanya mengayun-ayunkan alat musiknya secara serempak.

Arthur yang juga sekaligus menjadi vokalis, terlihat masih cukup energik dengan penguasaan panggungnya yang prima. Sambil memainkan bas, suaranya masih cukup lantang menyanyikan berbagai lagu rock asal mancanegara, seperti Burn-nya Deep Purple yang bertempo cepat, atau Stairway to Heaven-nya Led Zeppelin yang memiliki oktaf cukup tinggi. Tentu saja, yang paling ditunggu penonton adalah saat Arthur bersama Mecko dan Genesy memainkan lagu-lagu hits dari SAS, seperti Baby Rock, Sirkuit maupun Nirwana, dimana Mecko mempertunjukkan permainan keyboard yang cukup kompleks pada intro dari Nirwana. Vokal khas Arthur Kaunang terdengar tidak berubah dalam menyanyikan lagu hits SAS, masih tetap sama seperti puluhan tahun yang lalu.

Malam pun semakin larut, sebagian penonton telah meninggalkan kursi-kursi di Bitoz, namun teriakan Arthur Kaunang masih terus menghangatkan udara Bintaro yang malam itu diguyur gerimis.

 

(ES)

Leave a Comment