…Well, I’m all grown up now
And still need help somehow
I’m not a child
But my heart still can dream

So here’s my lifelong wish
My grown-up Christmas list
Not for myself
But for a world in need

No more lives torn apart
That wars would never start
And time would heal all hearts

And everyone would have a friend
And right would always win
And love would never end..

(David Foster & Lisa Thompson- Jenner)

Saya paling bahagia ketika mendengar salah satu lagu dari Lea Salonga; Grown Up Christmas List. Bukan karena saya merayakan natal, tapi lirik dan makna lagu tersebut yang selalu mengingatkan saya untuk membuat resolusi: menjadi individu yang lebih baik di tahun yang akan datang. Sepertinya sederhana, tetapi ketika dicoba tidak semudah itu, khususnya ketika dihadapkan pada situasi yang sulit.

Tahun ini merupakan tahun yang cukup berat bagi kita semua. Terjadi perubahan sosial yang besar di seluruh dunia. Keadaan pandemi Covid 19 membuat kita semua memiliki kesulitan baik dalam berinteraksi, secara ekonomi, bahkan secara emosi. Kita berhadapan dengan situasi yang tidak terduga dan tidak menyenangkan. Bagi kita yang masih memiliki pekerjaan dan masih dapat hidup dengan baik, keadaan ini juga membuat kita menjadi cemas. Bagi sebagian lagi yang tidak seberuntung kita, mengalami pemutusan hubungan kerja, bahkan kesulitan dalam mencari makan sehari-hari. Tahun ini menjadi tahun yang begitu menyedihkan. Di satu sisi memang selalu ada peluang di setiap peristiwa, namun di sisi lain kaum marjinal juga kesulitan untuk berusaha mencari peluang. Kesulitan yang mungkin tidak terbayangkan bagi kita yang masih menikmati kenyamanan.

Lirik lagu karya Foster dan Jenner ini pada dasarnya mengingatkan kita bahwa ada orang yang tidak seberuntung kita. Di sisi lain apa yang bisa kita lakukan selain berdoa dan berharap bahwa dunia menjadi tempat yang lebih baik bagi kita semua. Kalau jawabannya berbuat baik, apa yang dimaksud dengan berbuat baik? Baik dalam hal ini dapat didefinisikan sebagai individu dengan kualitas yang lebih bersahabat, murah hati, lebih hangat dan peduli. Baik bukan berarti kita berhati lemah atau naif. Bahkan Darwin yang mengemukakan bahwa siapa yang dapat bertahan adalah yang kuat percaya bahwa manusia adalah spesies yang peduli secara sosial, bahkan mengemukakan bahwa kepedulian terhadap orang lain adalah perilaku instingtif. Jadi kita memang terlahir atau ada bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga peduli dan mau membantu orang lain.

Sebenarnya apakah perbuatan baik membutuhkan usaha besar?  Usaha perlu ada, namun bentuk perbuatannya tidak harus besar. Haruskah kita mengeluarkan uang untuk berbuat baik? Bisa saja, kalau memang rela dan memang mampu. Tetapi berbuat baik bisa saja tanpa modal. Di saat seperti ini, sapaan, email, dukungan untuk sahabat adalah salah satu perilaku baik. Kita juga lebih sabar menghadapi orang di sekitar kita, bahkan mau membantu pekerjaan orang lain untuk meringankan bebannya juga merupakan perbuatan baik.

Kita tidak harus kaya dan berkecukupan untuk berbuat baik. Saya pernah memberikan seorang tukang sampah dua kotak nasi rames. Saya pikir si Bapak akan membawa pulang makanan tersebut untuk keluarganya. Tidak disangka, ia malah membawa nasi kotak tersebut kepada teman-temannya dan mereka makan bersama. Bagi teman-temannya si Bapak sudah berbuat kebaikan, bagi dia perilaku itu hanyalah berbagi makanan kepada temannya yang memang belum makan. Mungkin tidak terpikir bahwa itu perbuatan baik atau tidak. Ia hanya melakukan saja. Jadi sudah siapkah Anda berbuat baik?

Penulis:
Clara Moningka
Prodi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

Referensi
Hall, K. (2017). The importance of kindness. Diunduh dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/pieces-mind/201712/the-importance-kindness

Leave a Reply