Sen. Jan 20th, 2020

Misteri Penemu Bitcoin: Susahnya Mencari Satoshi Nakamoto

”Saya bukan Satoshi Nakamoto, si penemu bitcoin,” kata Elon Musk seperti diberitakan Bloomberg edisi 28 November. Musk mengatakan itu karena ada dugaan bahwa pendiri PayPal ini adalah si penemu bitcoin dengan memakai nama Jepang. ”Saya bahkan lupa di mana saya menyimpan bitcoin yang pernah diberikan teman ke saya,” kata pria kelahiran Afrika Selatan yang juga pemimpin Tesla Inc itu.

Dugaan ini muncul di sebuah blog Medium, didasarkan pada argumen bahwa Musk memiliki kemampuan teknis. Dia disamakan dengan tokoh penemu AS, Benjamin Franklin, yang awalnya juga muncul dengan nama anonim. ”Bitcoin memerlukan pertolongan Musk,” demikian Sahil Gupta, penulis blog itu. Akan tetapi, bantahan Musk itu membuyarkan dugaan tentang Satoshi Nakamoto tersebut. Siapa Satoshi Nakamoto dengan demikian tetap merupakan misteri hingga sekarang. Hal yang jelas, nama Satoshi Nakamoto muncul pertama kali dalam dokumen asli yang menawarkan sistem transaksi elektronik pada tahun 2008.

Harian Inggris, The Sun, edisi 2 Desember, juga menuliskan kisah perburuan siapa sebenarnya Satoshi Nakamoto. ”Misteri ini membawa kita ke dalam pencarian, mulai dari negara matahari terbit (Jepang) hingga sebuah kota kecil di California, AS, bernama Temple City dan kemudian balik ke Samudra Pasifik, ke seorang doktor asal Australia,” demikian tulis The Sun. Dugaan kemudian beranjak ke ahli komputer yang lain bernama Hal Finney, penerima pertama bitcoin.

Tidak pernah ditemukan siapa sebenarnya Satoshi Nakamoto walau disebutkan bahwa dia kelahiran 1975 dan tinggal di Jepang. Pada 2014, media dunia pernah mengira dia adalah sosok ahli komputer bernama Satoshi Nakamoto yang tinggal di Temple City, Los Angeles County.

Media mengira, warga AS berdarah Jepang dengan nama asli Dorian Satoshi Nakamoto itulah pencipta bitcoin. Dorian juga kukuh membantah bahwa dia adalah orang yang dimaksud. Dia bahkan belum pernah mendengar bitcoin.

Penerima Transaksi Pertama

Dugaan kemudian beranjak ke ahli komputer yang lain bernama Hal Finney, penerima pertama bitcoin. Dia tinggal beberapa blok dari orang yang dikira Satoshi Nakamoto asli di California, AS. Oleh sebab itu, pada Mei 2014 majalah Forbes mewawancarai Finney di rumahnya saat dia sedang tergeletak karena sakit. Finney telah meninggal pada 2014. Ini juga meleset. Finney hanya sempat mengatakan bahwa dia mengenal orang yang sangat antusias soal mata uang terdesentralisasi, yakni seorang ilmuwan bernama Nick Szabo, warga AS.

BACA JUGA  Camping Bareng Keluarga di Maxi Yamaha Day Sulawesi

Pada 2013, seorang penulis keuangan termasuk buku berjudul Bitcoin: The Future of Money bernama Dominic Frisby menduga Szabo adalah Satoshi Nakamoto yang sebenarnya. Akan tetapi, Szabo menuliskan kepada Frisby, ”Terima kasih telah memberi tahu saya. Anda salah jika mengira saya adalah Satoshi, dan saya sudah terbiasa mendapatkan dugaan seperti itu”. Dan pernyataan Szabo pada 2011 sudah menegaskan bahwa hanya Finney (Wei Dai) yang tahu soal mata uang digital itu dan kisah terkait.

Berani mengaku-ngaku

Lalu pada 2016 mendadak muncul nama lain, Craig Wright, seorang ahli komputer dan pebisnis Australia kelahiran Brisbane. Wright malah tanpa tedeng aling-aling mengatakan dia adalah Satoshi Nakamoto. Dia pun berani mengatakan itu kepada BBC, The Economist, dan GQ (majalah berbasis di New York).

Namun, muncul kecurigaan bahwa Wright bukan Satoshi Nakamoto asli karena tidak mampu memperlihatkan proses pembuktian lengkap. Wright kemudian menyatakan tidak mampu memberikan bukti nyata. Uniknya Wright muncul di Netflix serta menyatakan lagi bahwa dia adalah Satoshi Nakamoto. Namun, Bitcoin Core Project, sebuah lembaga, memunculkan pernyataan pada Mei 2016. ”Tidak ada publisitas dan bukti tentang siapa penemu bitcoin”.

Akan tetapi, siapa pun Satoshi, dia sudah pasti kaya raya. ”Dari nilai bitcoin sebesar 75 poundsterling pada 2010, kini bitcoin sudah bernilai 9,5 juta poundsterling. Dan ini tergantung seberapa banyak dia memiliki bitcoin,” demikian The Sun.

Transaksi bitcoin yang anonim membuat penjual dan pembelinya tidak bisa diketahui. Akan tetapi, ketika bitcoin diuangkan, seharusnya pembeli dan penjual bisa dilacak. Hanya siapa penemunya tetap saja sulit dilacak. (REUTERS/AP/AFP)

Dikutip dari Harian Kompas, 19 Desember 2017
Penulis: Simon Saragih

 

 

Baca Juga