Metode Diet 16:8

Sesudah Lebaran apakah berat badan Anda bertambah? Hati-hati bila hal ini dibiarkan terus Anda dapat menderita obesitas alias kegemukan. Berbagai cara diet dapat dipilih. Di antaranya adalah membatasi waktu makan.

Menurut penelitian pembatasan waktu makan adalah cara efektif mengurangi berat badan dan menurunkan tekanan darah. Diet ini dinamai diet 16:8, yaitu 16 jam puasa dan 8 jam “pesta”. Maksudnya, antara jam 10.00 dan 18.00 pelaku diet bisa makan berbagai jenis makanan apa pun dengan jumlah yang diinginkan, tetapi selama 16 jam sisanya mereka hanya bisa minum air atau minuman bebas kalori.

Hal itu adalah hasil penelitian baru oleh tim peneliti Universitas Illinois di Chicago (UIC), Amerika Serikat, yang diterbitkan dalam jurnal Nutrition and Healthy Aging.

Hasil penelitian tersebut juga disiarkan sciencedaily.com edisi 18 Juni 2018.Peneliti yang terlibat dalam penelitian ini adalah Krista Varady, Kelsey Gabel, Kristin Hoddy, Nicole Haggerty, Jeehee Song, Cynthia Kroeger dan John Trepanowski dari UIC, serta Satchidananda Panda dari Institut Studi Biologi Salk.

Penelitian ini, kata mereka, adalah studi pertama untuk menguji efek dari pembatasan waktu makan  yang membatasi konsumsi makanan dengan cara memilih jam setiap hari. Model puasa ini diterapkan untuk penurunan berat badan pada individu dengan obesitas atau kegemukan.

Untuk mempelajari efek dari jenis diet ini, peneliti bekerja dengan 23 sukarelawan obesitas berusia rata-rata 45 tahun dan indeks massa tubuh rata-rata atau BMI sebesar 35.

Pada sukarelawan antara jam 10.00 pagi dan 18.00 makan dengan jenis dan kuantitas makanan apa pun yang mereka inginkan. Akan tetapi selama 16 jam yang tersisa mereka hanya bisa minum air atau minuman bebas kalori. Penelitian ini diikuti para peserta selama 12 minggu.

Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa mereka yang mengikuti diet makan waktu terbatas mengkonsumsi lebih sedikit kalori, kehilangan berat badan dan mengalami perbaikan dalam tekanan darah. Rata-rata, peserta mengkonsumsi sekitar 350 kalori lebih sedikit, kehilangan sekitar 3 persen dari berat badan dan tekanan darah sistolik menurun sekitar 7 milimeter merkuri (mm Hg), ukuran standar tekanan darah.

“Pesan dari penelitian ini adalah bahwa ada pilihan untuk menurunkan berat badan yang tidak termasuk penghitungan kalori atau menghilangkan makanan tertentu,” kata Krista Varady, profesor kinesiologi dan nutrisi di Fakultas Ilmu Kesehatan Terapan UIC.Varady mengatakan, hasil penelitian itu sejalan dengan penelitian sebelumnya pada jenis diet puasa intermiten atau puasa selang-seling lainnya.

Namun salah satu manfaat dari diet 16: 8 mungkin adalah lebih mudah bagi orang untuk mempertahankan dietnya.“Kami mengamati bahwa lebih sedikit peserta yang keluar dari studi ini apabila dibandingkan dengan studi tentang diet puasa lainnya. Diet 16: 8 adalah cara lain untuk menurunkan berat badan dengan dukunganbukti ilmiah awal,” kata Varady.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS memperkirakan bahwa lebih dari sepertiga orang dewasa di AS obesitas. Obesitas sangat meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti penyakit jantung koroner dan diabetes tipe 2. Di AS, obesitas umum terjadi di kalangan kulit hitam non-Hispanik dan orang dewasa paruh baya.Di Indonesia, obesitas juga terjadi pada usia paruh baya seperti yang diteliti di AS tersebut. Berdasarkan data Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas) Kementerian Kesehatan Tahun 2016, prevalensi obesitas, yaitu perbandingan jumlah orang dengan obesitas dan jumlah penduduk, secara nasional 27,2 persen.

Jika jumlah penduduk Indonesia tahun 2016 sebanyak 261,1 juta jiwa, maka jumlah orang gemuk di Indonesia sebenyak  71.019.200 jiwa. Jumlah orang gemuk di Indonesia itu lebih banyak daripada jumlah penduduk Perancis yang sebanyak 67 juta jiwa. Obesitas terbanyak terjadi pada usia 40 – 44 tahun yaitu sebesar 25 persen.

Prevalensi obesitas pada laki-laki di Indonesia sebesar 13,1 persen, sedangkan pada perempuan 27,2 persen. Artinya perempuan lebih banyak yang kegemukan dibanding laki-laki di Indonesia tahun 2016.Dari data Sirkesnas 2016 tersebut terlihat bahwa obesitas lebih banyak terjadi di kota dibanding di desa. Prevalensi obesitas di kota sebesar 24,3 persen, sedangkan di desa 17,1 persen. Penganggur lebih banyak yang obesitas yaitu 22 persen, sedangkan obesitas di kalangan buruh, nelayan, dan petani hanya 7,8 persen.

Dokter Samsuridjal Djauzi dalam rubrik Kesehatan di Harian Kompas 1 Juli 2017 membahas khusus topik “Bahaya Obesitas”. Menurut Samsuridjal, pada prinsipnya terapi obesitas dilakukan dengan kombinasi beberapa cara.Cara yang tersedia adalah diet rendah kalori, rendah lemak, kegiatan olahraga yang teratur, terapi perubahan perilaku, penggunaan obat penurun berat badan, serta tindakan operasi.

Terapi obesitas melalui dua tahap, yaitu tahap pertama penilaian beratnya obesitas serta penyakit lain yang menyertai, tahap kedua menurunkan berat badan serta tindakan terapi lain untuk mengatasi penyakit penyerta. Jadi, sebenarnya penatalaksanaan obesitas tidaklah sesederhana menurunkan berat badan. Tujuan akhir tetap adalah menjaga kesehatan. Mungkin saja berat badan turun secara cepat, tetapi jika akibat penurunan cepat tersebut timbul gangguan kesehatan, tentu tidak kita inginkan.

“Motivasi pasien amat penting untuk penatalaksanaan obesitas. Pemahaman mengenai bahaya obesitas terhadap kesehatan dapat merupakan salah satu faktor dalam meningkatkan motivasi untuk menurunkan berat badan,” kata Samsuridjal menjawab pertanyaan tertulis pembaca Harian Kompas.

Pengalaman masa lalu, kegagalan dalam menurunkan berat badan, atau berat badan berhasil turun namun meningkatkan kembali juga memengaruhi motivasi pasien. Dukungan keluarga dan teman sudah tentu juga akan meningkatkan motivasi.

“Nah, kepedulian keluarga Anda untuk memperoleh berat badan normal merupakan modal yang bagus. Tinggal melakukan identifikasi berbagai kebiasaan yang kurang mendukung, termasuk makan di restoran serta hobi istri memasak. Anda dan keluarga tentu dapat meneruskan kebiasaan tersebut, tetapi dengan kesadaran akan tetap memelihara berat badan yang normal,” kata Samsuridjal.

Kesimpulannya, berat badan Anda akan turun jika otak Anda menginginkan penurunan berat badan. Jadi, motivasilah diri sendiri untuk menurunkan berat badan. Mudah, bukan?

(EGS)