Sel. Sep 17th, 2019

Menuju Kota Tangerang Selatan Cerdas, Modern, dan Inovatif

“Today’s youth are the key to tomorrow’s smart cities”
By Mark Sparvell, Senior Manager, School Leader Audience, Microsoft Corporation

Tulisan ini memenangkan juara III Festival Jurnalistik Tangsel 2017.

Pembangunan sebuah negara, dilihat dari kemajuan dari pembangunan kotanya.   Pembangunan kota yang maju hanya dapat dicapai jika pembangunan manusianya juga maju dan cerdas.   Untuk membangun manusia menjadi manusia yang cerdas tentunya diperlukan kehadiran manusia yang berkualitas tinggi , melek dari buta huruf.

Untuk menjadi manusia berkualitas tinggi  diperlukan syarat agar warga yang tinggal dalam kota itu selalu ikut berpartisipasi aktif dalam setiap aspek dan berpikir secara kreatif dan inovatif.   Kemampuan untuk berperan aktif, kreatif dan inovatif hanya didapatkan jika warga dari kota itu mendapatkan kesempatan untuk akses pendidikan yang tinggi, bebas dari buta huruf dan menguasai teknologi .

Mendapatkan pendidikan tinggi agar warga dengan mudah mencari pekerjaan baik itu  bekerja di perusahaan atau berwiraswasta.    Pendidikan mampu mengangkat derajat dan harkat warga menjadi manusia cerdas.   Warga cerdas  suatu kota menjadi salah satu parameter dari IPM (Index Pembangunan Manusia).  Pendidikan tinggi perlu diperjuangkan karena untuI sebuah kota cerdas harus berkompetisi baik secara nasional maupun global.   Kompetisi yang tinggi memampukan kota dan negara berada di peringkat setara dengan negara maju.

Dalam konteks ini, Tangerang Selatan, sebagai sebuah kota baru yang terlahir tahun 2007 dari pemekaran dari Kota Tangerang.    Lahirnya Tangerang Selatan berdasarkan   Keputusan Bupati Tangerang Nomor 130/Kep.149-Huk/2007 tanggal 19 Februari 2007 tentang Persetujuan Pembentukan Kota Tangerang Selatan.

Dalam melaksanakan otonomi daerah, Kota Tangerang Selatan sebagai daerah penyangga ibukota Jakarta, Tangerang Selatan  melakukan berbagai upaya peningkatan kemampuan ekonomi, penyiapan sarana dan prasarana pemerintahan, pemberdayaan dan peningkatan sumber daya manusia, serta pengelolaan sumber daya alam sesuai dengan peraturan perundang- undangan.

Fokus utama dari Pemerintah Tangerang Selatan dalam pendidikan warganya adalah setiap warga dapat mengakses pendidikan paling minimal 12 tahun (dari SD sampai SMA).   Kemampuan pendidikan untuk menjadi manusia kreatif dan innovatif harus ada dalam program pembinaan dari Pemerintah Tangerang Selatan.

Membangun pendidikan yang berkualitas untuk warganya membutuhkan pemikiran, pelaksanaan dan pembinaan bagi para guru.    Pemerintah kota Tangerang Selatan telah memiliki roadmap jangka panjang dari pendidikan warga Tangerang Selatan yang mengacu kepada standar pendidikan nasional.

  • Standar Kompetensi Lulusan
  • Standar Isi
  • Standar Proses
  • Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan
  • Standar Sarana dan Prasarana
  • Standar Pengelolaan
  • Standar Pembiayaan Pendidikan
  • Standar Penilaian Pendidikan

Dalam pembangunan manusia yang berkaitan dengan pendidikan , Pemerintah Kota Tangerang Selatan menitik beratkan kepada 4 standar dalam pendidikan SD – SMA.     Pertimbangan kenapa harus berfokus hanya 4 saja untuk mengurangi ketimpangan dari jumlah sekolah yang kualitasnya sangat berbeda-beda.  Ke empat pilar itu adalah standar   Kompetensi Lulusan, Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Sarana dan Prasarana, Pembiayaan dan Penilaian Pendidikan.

Standar Kompetensi Lulusan, diimplementasikan dengan cara agar setiap anak yang bersekolah dari SD hingga SMA memiliki kemampuan untuk belajar sesuai dengan standar yang diberlakukan sesuai dengan standar nasional.

Untuk menambah wawasan untuk anak sejak SD sudah diperkenalkan dengan lingkungan maka pada tanggal 23 Agustus 2017,  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel menggelar Pelatihan Bahan Ajar Tentang Pendidikan Lingkungan . Tujuan dari kegiaan ini untuk pelajaran mulok (muatan lokal) wajib Pendidikan Lingkungan di seluruh SD yang ada di Kota Tangsel.  Sebanyak 30 SD di Tangsel sudah menjadi pilot projek pelajaran Pendidikan Lingkungan. 321 SD negeri dan swasta dilatih agar menerapkan Pendidikan Lingkungan.  Diharapkan dengan pengetahuan tentang Pendidikan Lingkungan,  timbul kesadaran betapa pentingnya menjaga dan memelihara lingkungan hidup misalnya sampah, membersihkan .

BACA JUGA  Rizka Julia, Memilih Bisnis Kue Cubit Ketimbang Berkarir di Perusahaan Multinasional

Standar Tenaga Pendidikan juga diutamakan karena pendidikan jadi soko guru dalam pendidikan.  Peningkatan mutu Guru dengan diadakan dengan  program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang merupakan kelanjutan dari program guru pembelajar tahun 2016. Tujuan dari kegiatan PKB ini adalah untuk meningkatkan Kompetensi Guru, untuk tahun 2017 ini ada peningkatan capaian nilai UKG (Post Test).

Kegiatan ini diikuti oleh para Kepala Sekolah, Guru dan Pengawas sebanyak 227 guru pada 28 Juli 2017 yang lalu.

Sarana dan Prasarana suatu sekolah tetap menjadi prioritas bagi Pendidikan di Tangerang Selatan.   Pembangunan gedung sekolah sebanyak 37 untuk meningkatkan efektivitas belajar .  Penggabungan 150 sekolah dan dibangun kembali dengan kondisi yang lebih nyaman.  Tujuan pengabungan selain untuk kondisi yang lebih nyaman, juga lebih dapat menampung lebih banyak siswa dan lebih mudah untuk memonitor pendidikan

Program Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) SD Negeri dan SMP Negeri tidak ada pungutan karena sudah dicover oleh Bantuan Operational Sekolah (BOS) dan BOSDA (Daerah).  Setiap kegiatan yang ada kaitannya dengan keuangan dibuatkan berita acara dan dilaporkan ke Disdik.

Wawancara eksklusif dengan seorang guru  bahasa Indonesia, Ibu Lusia Andriyani, mengajar di SMP Negeri 12, Jl.Jurangmangu Barat No.62 , Tangerang Selatan.  Peran Dinas PendidikanTangerang Selatan dalam pembinaan guru negeri dirasakan manfaatnya oleh Ibu Lusia .  Fasilitas yang diberikan kepada Ibu Lusia dalam mengikuti Pelatihan Pembelajaran  Guru atau disebut “CTL – Contextual Learning Teaching” pada tanggal 16-18 Agustus 2017 yang lalu.   Dalam CTL itu setiap sekolah negeri diwakili oleh seorang guru untuk dibina sebagai fasilitator untuk diseminasikan ilmunya kepada guru yang lain.   Manfaat yang dipelajari dari CTL itu sangat bagus karena guru diberikan metode pembelajaran secara langsung ke situasi yang nyata.   Dalam hal ini guru yang sudah faham dengan teori mengajar harus mengimplementasi  pelajaran dalam kelas di mana murid sebagai subjek  bukan lagi objek, metode pun dimodifikasi sesuai dengan  kondisi subjek yang akan menyerap ilmu .

Penerapan metode yang sesuai dengan subjek itu dibicarakan dalam suatu  MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran).   Suatu sharing bersama antar guru, bertemu satu sama lain seminggu sekali, terkait dengan pelajaran menggunakan metode yang aplikatif.

Bantuan dari Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) , juga dirasakan oleh Ibu Lusia di mana para guru diberikan wawasan untuk mengembangkan diri untuk perubahan metode yang baru dan memilahnya, menggunakan yang sesuai dengan kondisi sekolah dan mengembangkannya untuk kreativitas anak didiknya.   Ibu Lusia merasakan manfaat bantuan ini karena sebagai guru bahasa Indonesia, beliau menyatakan untuk mengetahui suatu konsep guru belajar secara menyeluruh dan menyatu dulu.   Barulah guru dapat mengajarnya kepada  anak dengan berkesinambungan dan terangkai dan berbasiskan teks, hasilnya  literasi pun tergarap dengan baik sekali.

Harapan sebagai Guru untuk dapat memiliki kreativitas dalam mengajar agar  Dana Independen atau dana Hibah yang disalurkan untuk Pembinaan Guru secara terorganisir tentang Metode pembelajaran, fasilitator dapat diaplikasikan kembali.    Jika dana sudah tidak mungkin diperoleh karena hibah itu sudah dihapuskan maka cara lain dengan  memanfaatkannya  dari mereka yang sudah pernah menerima pembinaan atau pembelajaran  agar pemerataan pembinaan guru yang belum pernah ikut  pembinaan dapat terealisasi dan pada akhirnya ada pemerataan bagi semua guru ikut dalam pembinaan.

Opini:

Mewujudkan Tangerang Selatan sebagai kota  yang kreatif, innovatif dan modern, melalui pendidikan hanya dapat tercapai jika faktor-faktor dari sumber daya manusia terintegrasi dengan sosial, ekonomi, teknologi. Sumber daya manusia terdiri atas Dinas Pendidikan Nasional Tangerang , Guru-Guru Pengajar, siswa,  orangtua bersatu dalam satu persepsi bahwa Pendidikan dasar, menengah itu merupakan titik tolak untuk menjadi manusia yang kreatif dan innovatif.

BACA JUGA  Ketimbang Bekerja di Luar Negeri, Thiyen Memilih Mengembangkan Bisnis Sendiri di Indonesia

Fasilitas dan sarana bangunan hanyalah satu  dari suatu bagian pendidikan.  Penting untuk membangun tempat belajar yang nyaman, tetapi yang terpenting  adalah manusia yang ada di dalamnya.  Memajukan pola pikir anak untuk berpikir kreatif dalam suatu pelajaran menjadi hal yang penting, bukan belajar secara menghafal teks itu sudah tidak  zamannya.   Aplikatif dalam setiap pelajaran,  membuat suasana belajar menjadi hal yang menyenangkan, membantu dan mendorong , menemukan  passion anak dan mengembangkannya adalah hal yang utama dari suatu pendidikan.

Rata-rata siswa yang masuk ke sekolah negeri, adalah mereka yang orangtuanya dari ekonomi menengah ke bawah.   Dana yang harus dikeluarkan untuk biaya sekolah baik itu SPP maupun sekolah masuk, sangat memberatkan. Sejatinya keberlangsungan untuk bersekolah dengan pendidikan gratis itu dapat diperoleh terus tanpa kehilangan makna substantif pendidikan dasar.     Diperlukan peran dari pemerintah daerah untuk membantu , mengasah anak-anak yang berprestasi sehingga  mutiara-mutiara kecil ini nantinya  dapat membangun kota Tangerang Selatan di masa mendatang.

Di  samping sekolah negeri yang sudah mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan, ada sekolah yang pendidikan non-formal seperti PKBM jumlah terdata 11 pada tahun 2010 dan Home Schooling seperti UNSR dengan peserta  sejumlah 327 pada tahun 2010.   Ada kesenjangan antara pendidikan non formal dengan formal  dengan ujian nasional bagi sekolah formal dan ujian lokal bagi sekolah informal.

Sebaiknya pendidikan non formal pun diberikan perhatian khusus tentang apa yang ingin dicapai oleh anak-anak. Apakah tujuan pendidikan non-formal hanya untuk mengejar ketertinggalan atau hanya sekedar ijazah.   Apabila hanya mengejar ijazah pun lulusan informal dengan kerja paket A-, B, dan C itu setelah lulus mereka  merasa bahwa stigma yang terbangun di masyarakat sebagai pendidikan yang asal-asalan.  Setelah lulus pun mereka tetap bekerja sebagai pekerja kasar yang tidak mampu untuk memperbaiki masa depan mereka.

Tentang Penulis:

Ina Tanaya, lahir di Semarang, 15 April 1957.  Lulusan dari Akademi Sekretaris Tarakanita tahun 1978. Melanjutkan Sekolah Tinggi Penerjemah di Universitas Nasional, tamat tahun 2003. Bekerja di  Embassy of Ceylon, Representative of Mitsui, dan Citibank selama 28 tahun

Sejak pensiun dini,  belajar aktif untuk Penulisan dari Seminar, Workshop maupun On-line Penulisan serta Digital Mommie.   Sebagai penulis bebas di beberapa majalah, blogger , komunitas dari beberapa ibu penulis serta  membantu penulisan buku “Star” untuk anak-anak GKI Pondok Indah.

Blog:

 

Baca Juga