Menjadi Pemuda Indonesia yang Anti Hoax

Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 atau tepatnya 90 tahun yang lalu menjadi momentum pemuda Indonesia untuk menunjukkan semangat persatuan dan kesatuan, bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia. Semangat persatuan dan kesatuan ini harus terus dijaga dan digelorakan oleh pemuda Indonesia, tidak terkecuali di jaman sekarang ini.

Baca Juga: Mengenal Museum Sumpah Pemuda

Dalam psikologi, pemuda termasuk dalam tahap perkembangan remaja, yaitu usia 11 tahun hingga 22 tahun. Selain mempersiapkan untuk memasuki masa dewasa, remaja dianggap sudah memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik dibandingkan anak-anak. Pemuda merupakan kaum intelektual dan merekalah yang nantinya akan menjadi pemegang kekuasaan di masa depan. Tindakan pemuda saat ini akan menentukan bagaimana persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia di masa kini dan masa depan. Cara untuk dapat mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa adalah dengan melawan segala bentuk yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa, salah satunya dengan melawan hoax.

Mengapa kita mudah mempercayai hoax?

Mempercayai hoaxadalah salah satu hasil dari cara berpikir yang heuristic. Cara berpikir heuristic adalah strategi yang mengabaikan informasi, untuk membuat keputusan dengan lebih cepat, hemat, dan atau lebih akurat dibandingkan metode lain yang lebih kompleks. Pengertian ‘lebih akurat’ disini bukan berarti dengan berpikir heuristicdipastikan keputusannya akan lebih akurat, namun akurat disini adalah dari sudut pandang si pembuat keputusan.

Dengan berpikir heuristic, kita akan “menelan mentah-mentah” (percaya begitu saja) informasi yang kita baca atau dengar, meskipun data atau fakta yang diberikan tidak sesuai atau bahkan tanpa adanya data atau fakta sama sekali. Selain heuristic, ada dua cara berpikir lainnya, yaitu berpikir logis dan berpikir statistik. Berpikir logis dan berpikir statistik berkaitan dengan penalaran rasional, sedangkan heuristicberkaitan dengan intuisi yang rentan akan kesalahan bahkan tidak rasional. Dengan kata lain, cara berpikir heuristic lebih mungkin menghasilkan kesimpulan atau keputusan yang tidak tepat.

Penggunaan berpikir heuristic dipengaruhi dua faktor, yaitu faktor situasional (misal tugas, tekanan waktu, bagaimana informasi ditampilkan, dan konteks) dan faktor personal (misal inteligensi dan kepribadian). Dengan banyaknya informasi yang beredar, terutama di internet dan media sosial, maka kita sering kali dituntut untuk mengambil keputusan dengan cepat; apakah percaya atau tidak percaya akan informasi tersebut.

Tidak jarang hoax memberikan judul yang bombastis atau dengan tampilan yang menarik perhatian, sehingga dengan cara berpikir heuristic membuat kita akan lebih cepat memutuskan untuk percaya tanpa berpikir panjangataupun memeriksa informasi-informasi lainnya. Hal ini disebut sebagai “recognition heuristic”, yaitu dimana kita hanya mengandalkan satu keping informasi dan mengabaikan informasi lainnya.

Baca Juga: BSD City Hadirkan Techpolitan Sebagai Sarana Berkreasi Anak Muda di Bidang Teknologi Digital

Bagaimana agar tidak mudah mempercayai hoax?

Gunakan berpikir kritis (critical thinking). Tentu saja ketika kita mendapatkan suatu informasi, kita tidak mengetahui apakah berita itu hoax atau bukan. Oleh karena itu, kita jangan terburu-buru untuk mempercayai semua informasi, apalagi yang kita belum tahu kebenarannya secara pasti.

Agar tidak mudah mempercayai hoax, kita dapat menggunakan cara berpikir kritis, yaitu:

  1. Melihat informasi dari dua sisi. Misalnya, bila kita menerima informasi tentang suatu kelompok tertentu, carilah juga informasi dari sudut pandang kelompok tersebut. Jangan hanya mempercayai suatu hal hanya berdasarkan satu informasi saja.
  2. Terbuka pada informasi-informasi baru yang berlawanan dengan dugaan Anda. Misalnya, Anda tidak suka pada kelompok tertentu karena tindakan dilakukan kelompok tersebut. Namun, ternyata ada informasi-informasi baru yang menyatakan bahwa sebenarnya kelompok itu tidak melakukan tindakan yang dituduhkan tersebut. Oleh karena itu, Anda harus mampu mengubah pandangan Anda terhadap kelompok itu berdasarkan informasi yang baru tersebut.
  3. Melakukan penalaran tanpa reaksi emosional yang berlebihan. Misalnya saja, ketika baru membaca suatu judul berita, Anda langsung merasa senang atau marah. Ini berarti Anda menggunakan emosi Anda terlebih dahulu sebelum menyimpulkan atau bernalar. Ketika mendapatkan informasi baru,olahlah informasi-informasi tersebut tanpa terlalu melibatkan perasaan mendalam. Kesampingkan perasaan Anda ketika mengolah suatu informasi karena perasaan sering kali dapat menyebabkan kesimpulan yang keliru. Dengan kata lain, berpikirlah dengan kepala dingin.
  4. Membuat kesimpulan yang didasari dari bukti-bukti yang beragam dan dari dua sisi. Apalagi saat ini beragam informasi dapatAnda peroleh dengan mudah di internet dan media sosial.Carilah informasi-informasi dari sumber-sumber yang terpercaya, dan bila perlu dapatkan informasi yang berlawanan. Setelah itu, barulah membuat kesimpulan berdasarkan informasi-informasi tersebut.

Baca Juga: Cara Mudah dan Ramah Bermedia Sosial

Apakah berarti dengan berpikir kritis kita harus tidak mempercayai semua informasi yang diterima? Tidak. Apabila Anda tidak yakin dengan informasi tersebut, tundalah untuk membuat kesimpulan terhadap informasi tersebut, jangan terburu-buru, hingga Anda mendapatkan informasi yang cukup.

Berpikir kritis merupakan suatu kemampuan yang harus dilatih dan dibiasakan, terutama pada pemuda yang memang sudah memiliki kapasitas kognitif yang memadai. Berpikir kritis tidak hanya berguna untuk menangkal hoax saja, namun akan berguna pada banyak pekerjaan atau profesi yang memang mengharuskan Anda mengambil sebuah keputusan.

Kesimpulan

Untuk menjaga semangat persatuan dan kesatuan yang sudah diikrarkan oleh para pemuda Indonesia pada 90 tahun lalu, pemuda Indonesia saat ini harus mampu menjaga diri dan melawan hoax. Hindari untuk menggunakan berpikir heuristic ketika menghadapi suatu informasi yang Anda belum yakin kebenarannya atau belum memiliki pengetahuan yang cukup. Jangan terburu-buru untuk mempercayai suatu informasi, apalagi menyebarkannya, mungkin saja informasi tersebut adalah hoax.

Dengan berpikir kritis Anda akan terhindar dari kesimpulan yang keliruserta berguna pada aktivitas-aktivitas lainnya. Berpikir kritis harus dilatih dan dibiasakan. Jadi, para pemuda Indonesia lawanlah hoax dengan membiasakan berpikir kritis.

Penulis:

Aries Yulianto, S.Psi., M.Si
Dosen Program Studi Psikologi
Fakultas Humaniora dan Bisnis Universitas Pembangunan Jaya

Referensi:

Defining critical thinking. Diambil dari http://www.criticalthinking.org/pages/index-of-articles/defining-critical-thinking/766

del Campo, C., Pauser, S., Steiner, E., & Vetschera, R. (2016). Decision making styles and the use of heuristics in decision making. Journal of Business Economics, 86(4), 389-412.

Gigerenzer, G., & Gaissmaier, W. (2011). Heuristic decision making. Annual Review of Psychology, 62, 451–482.

Kalat, J. W. (2014). Introduction to psychology. Belmont, California: Wadworth Cengage Learning.

Moshman, D. (2005). Adolescent psychological development: Rationality, morality, and identity. Mahwah, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

Our Concept and Definition of Critical Thinking. Diambil dari http://www.criticalthinking.org/pages/our-concept-and-definition-of-critical-thinking/411

Salkind, N. J. (2006). Encyclopedia of human development. Thousand Oaks, California: Sage Publications, Inc.

Scott, S. G., & Bruce, R. A. (1995). Decision-Making Style: The development and assessment of a new measure. Educational and Psychological Measurement,55(5), 818-831.

Willingham, D. T. (2008). Critical thinking: Why is it so hard to teach? Arts Education Policy Review, 109(4), 21-32.