Mengubah Tantangan Menjadi Peluang, Tiga Sahabat Ini Kompak Membangun Bisnis

Masa-masa kuliah seringkali menjadi tonggak penting dalam kehidupan seseorang. Berbagai ide pemikiran seringkali berkembang saat masa kuliah dan menentukan arah hidup seseorang nantinya. Di bangku kuliah juga seringkali seseorang menemukan sahabat-sahabat yang memiliki kecocokan prinsip dan pandangan. Persahabatan seperti ini sering berlanjut setelah lulus kuliah dengan membangun bisnis bersama, seperti yang dilakukan oleh ketiga sahabat ini.

Berawal dari kekompakan semasa kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Desti Rahmawati dan Nala Royhana yang berasal dari Psikologi dan Tri Ertina dari Perbankan Syariah memiliki ide untuk menjalankan bisnis ala mahasiswa. Ketiganya mulai saling mengenal sejak tahun 2006 sebagai sesama mahasiswi yang tinggal pada satu asrama putri di UIN. Interaksi setiap hari di asrama membuat mereka merasa memiliki kecocokan satu dengan yang lain. Ketiganya yang merupakan mahasiswi perantauan ingin memiliki tambahan uang saku untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Sambil menjalankan kuliahnya, mereka pun mulai menjalankankan bisnis. Dari mulai Multi Level Marketing (MLM), memasarkan donat, parfum, kompor, pakaian batik, sosis bakar sampai dengan Event Organzer (EO) mereka lakoni.

Walaupun usaha-usaha itu tidak memberikan perkembangan yang cukup signifikan, namun seperti pepatah mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik, dari sini ketiga sahabat ini semakin terlatih intuisi bisnisnya sekaligus makin memperkuat saling pengertian satu dengan yang lain, sesuatu yang dibutuhkan saat mereka mengembangkan bisnis bersama kelak.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, bisnis yang dilakukan semasa kuliah sempat vakum karena mereka bekerja sebagai karyawan. Namun hal ini tidak menyurutkan keinginan mereka untuk mengembangkan bisnis. Setelah kurang lebih bekerja selama 2 tahun, ketiga sahabat ini kemudian memutuskan untuk kembali membangun bisnis. Business plan pun disusun dengan konsep bisnis yang berbeda dari bisnis ala mahasiswa yang pernah mereka jalankan sebelumnya.

Jalanpun tidak mudah mereka lalui untuk mewujudkan impiannya. Latar belakang keluarga masing-masing yang bukan merupakan keluarga yang kaya raya membuat mereka harus memutar otak mencari modal usahanya. Mereka sangat sadar tidak bisa meminta modal dari orangtuanya. Dari sinilah muncul pemikiran untuk menawarkan ide bisnis kepada investor-investor yang memiliki modal. Proposal bisnis pun dibuat dan dipresentasikan ke berbagai investor. Tidak mudah, sebagian besar menolak, namun ketiga sahabat ini pantang menyerah.

Setelah melalui berbagai kegagalan, akhirnya mereka berhasil meyakinkan seorang investor dan mendapat kucuran dana. Dari sini kemudian berdirilah Sambal Setan, sebuah gerai kuliner prasmanan yang menyajikan berbagai menu rumahan dengan menyajikan sambal yang pedas. Perkembangan Sambal Setan cukup pesat, hanya dalam waktu 1 tahun omzet berkembang. Saat ini Sambal Setan sudah memiliki 10 gerai di berbagai wilayah.

Tidak puas hanya mengembangkan Sambal Setan, ketiga sahabat ini kemudian mulai berpikir alternatif bisnis yang lain. Rencana bisnis pun dibuat dengan konsep yang berbeda. Dari situ lahirlah Sop Ayam Jago Klaten (baca juga : Di Sini Jagonya Sop Ayam : Sop Ayam Jago Klaten). Sama seperti Sambal Setan, sumber pendanaan bisnis baru ini berasal dari investor. Bekal pengalaman mengembangkan Sambal Setan membuat mereka lebih percaya diri dalam mengajukan proposal bisnis baru ini. Gerai pertama di Pondok Pucung dibuka pada 27 Maret 2017, menyusul gerai kedua di Kampung Utan, Ciputat, pada 7 April 2017. Cita-cita ketiga lajang ini, pada tahun 2017 mereka bisa membuka 10 cabang Sop Ayam Jago Klaten.

Ada hal yang sangat menarik seperti diungkapkan ketiganya, mereka meyakini tidak ada yang bisa diandalkan selain Allah dan doa dari orang tua. Doa orang tualah yang mereka minta dalam setiap komunikasi yang dilakukan dengan orang tua masing-masing. Memang faktor reliji menjadi dasar mereka dalam mengembangkan bisnisnya. Dalam mencari karyawan, hal yang ditanyakan kepada calon karyawan adalah bagaimana sholatnya. Dalam keseharian, semua karyawan pun jika sudah waktunya sholat harus meninggalkan pekerjaannya untuk melakukan sholat dulu.

Selain itu karyawan juga dihimbau untuk berbagi rezeki yang diperolehnya ke orang tuanya. Karena memang sudah sewajarnya seoranganak untuk berbakti kepada orang tuanya.

Tidak heran, dengan menganggap karyawan sebagai keluarga, bisnis-bisnis yang dibangun ketiga sahabat ini berkembang dengan pesat. Sampai saat ini (Mei 2017) jumlah karyawan yang bekerja di semua gerai Sambal Setan dan Sop Ayam Jago Klaten telah mencapai 80 orang dan terus bertambah. Ke depannya mereka pun berencana untuk mengembangkan berbagai bisnis, tidak hanya bisnis kuliner.

Desti Rahmawati, Nala Royhana dan Tri Ertina merupakan contoh anak muda yang memiliki pandangan berbeda dari anak muda kebanyakan. Mereka memilih untuk mengembangkan bisnis yang bisa memberikan manfaat bagi banyak orang ketimbang bekerja sebagai karyawan. Berbagai kesulitan yang dihadapi membuat mereka menjadi pribadi-pribadi yang lebih tangguh dan tetap menganggap setiap keberhasilan berasal dari Allah. Suatu contoh yang perlu ditiru oleh anak-anak muda yang lain.

 

(ES)

Leave a Comment