Mengangkat Ekonomi Lokal lewat Mi Sagu

Suatu kali, dalam suatu kunjungan ke Kabupaten Meranti, Riau, saya  (Nasihin Masha) mendapati di wilayah ini terbiasa makan dengan sajian makanan dari bahan sagu. Ada bubur sempolet yang maknyus, dan yang mengejutkan adalah mi sagu. Suatu kali, teman wartawan Malaysia menulis status di akun facebooknya setelah berkunjung ke Meranti. Lalu saya menulis bahwa di sana ada mi sagu. Ia menjawab, ia membeli 40 kg mi sagu sebagai oleh-oleh. “Ini khas dan enak,” katanya. Orang Meranti bahkan dengan bangga bercerita bahwa wilayahnya merupakan penghasil sagu terbesar di Indonesia. Jadi, bukan Maluku atau Papua.

Pekan lalu, 2-4 Maret 2021, Rachmat Gobel melakukan perjalanan kerja ke Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Gobel, wakil ketua DPR RI yang membidangi industri dan pembangunan. Mantan menteri perdagangan berdarah Gorontalo, Sulawesi, itu hendak meninjau pabrik pengolahan sagu. Ia juga didampingi pejabat dari BPPT yang membidangi agroindustri.

Selain ke pabrik pembuatan tepung sagu, Gobel juga ditunjukkan produk-produk yang dibuat dari limbah sagu hasil home industry ibu-ibu seperti sabun cuci, sanitizer, dan lain-lain. Pemilik pabrik pembuatan tepung sagu menyatakan bahwa tepungnya dijual ke Jawa, khususnya di Cirebon dan Surabaya.

Daik adalah ibukota kabupaten Lingga. Kabupaten ini memiliki ratusan pulau. Namun ada dua pulau besar, yang menjadi pulau utama kabupaten yang terletak di Kepulauan Riau ini. Pertama, Pulau Lingga. Nama pulau ini yang dijadikan nama kabupaten. Kedua, Pulau Singkep. Kabupaten ini memiliki sekitar 104 ribu penduduk. Jumlah penduduk terbanyak tinggal di Pulau Singkep, bukan di Pulau Lingga.

Ini karena di masa kolonial Belanda di pulau ini terdapat tambang timah – pabrik timahnya kini beralih menjadi museum dan sekolah. Karena itu di Singkep denyut ekonomi lebih hidup dan penduduk pun berdatangan. Lalu kenapa ibukotanya di Lingga? Ini masalah sejarah. Orang Melayu menyukai sejarah. Hal ini bisa dilihat mengapa ibukota Kepulauan Riau terletak di Tanjung Pinang, bukan di Batam.

Padahal Batam lebih ramai, lebih maju, dan lebih banyak penduduk. Namun mereka memilih Tanjung Pinang sebagai ibukotanya. Ini karena di Tanjung Pinang, yang terletak di Pulau Bintan, merupakan letak kerajaan/kesultanan awal.

Nah, mengapa ibukota Kabupaten Lingga terletak di Daik, bukan di Singkep? Ini karena di Daik terletak kesultanan Lingga. Kesultanan ini merupakan pindahan dari kesultanan di Bintan. Kesultanan Lingga membawahkan Riau, Johor, dan Pahang. Dua wilayah terakhir ini terletak di Malaysia. Ini semua gara-gara orang Eropa yang seenaknya mengerat-ngerat wilayah dan bangsa sesuai kepentingan kolonialisme.

Dua wilayah ini terlepas sejak terjadi Traktat London pada 1824, ketika Belanda dan Inggris berbagi wilayah jajahan, termasuk di wilayah Melayu. Karena kesultanan ini membawahkan empat tanah Melayu, maka kabupaten ini berjuluk Bunda Tanah Melayu. Seperti kita tahu, induk Bahasa Indonesia juga merupakan Bahasa Melayu Riau.

Di Lingga, tanaman sagu sudah menjadi tanaman budidaya yang sudah turun temurun. Sagu bukan lagi menjadi tanaman liar. Walau usia panen pohon sagu butuh waktu hingga tujuh tahun namun pasokan selalu tersedia. Karena itu, produksi tepung sagu terus berlangsung hingga kini. Tepung sagu merupakan basis bahan pangan dan penganan tradisional.

BACA JUGA  Senam Bersama Berti Tilarso di Plaza Bintaro Jaya

Butuh inovasi yang terus menerus agar sagu terus kekinian dan digemari generasi muda. “Makanan yang berasal dari tepung sagu indeks glikemiknya lebih rendah dibandingkan dengan makanan yang dari tepung gandum,” kata Arief Arianto, direktur Pusat Teknologi Agroindustri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Indeks glikemik tepung gandum berkisar 70 dan mi gandum sekitar 48, sedangkan indeks glikemik untuk tepung sagu sekitar 65 dan mi sagu 28.

Ini berarti waktu yang dibutuhkan untuk mengubah karbohidrat menjadi glukosa (gula) pada tepung sagu lebih lambat daripada tepung gandum. Hal ini bagus bagi orang yang ingin mengontrol gula darahnya maupun bagi yang bermasalah dengan kolesterol. Hal ini juga menjadi bagus untuk kesehatan jantung maupun untuk keseimbangan berat badan.

Pada sisi lain, tanaman gandum bukan tanaman tropis, tapi tanaman subtropis. Hingga kini, Indonesia belum berhasil mengembangkan tanaman gandum yang bisa beradaptasi dengan tanah dan iklim Indonesia. Hal ini misalnya sedikit berbeda dengan tanaman kedelai yang walaupun tanaman subtropis tapi sudah bisa beradaptasi dengan iklim tropis. Hingga kini Indonesia merupakan importir gandum terbesar di dunia, khususnya untuk dibuat menjadi mi.

Akibat impor yang besar ini, devisa negara tersedot cukup besar untuk impor gandum. Impor gandum Indonesia sekitar 10,7 juta ton pada tahun 2019 atau sekitar 2,8 miliar dolar AS. Dengan mengembangkan industri yang berhulu di tepung sagu ini maka Indonesia bisa berhemat dengan devisa negara.

“Kita harus mulai bisa memproduksi mi dari tepung sagu. Ini lebih sehat dan lebih baik,” kata Rachmat Gobel di hadapan bupati, wakil bupati, dan para pejabat di lingkungan pemda Kabupaten Lingga. Arief Arianto lalu menunjukkan contoh produk mi dari tepung sagu yang sudah dikemas secara modern seperti juga mi instan dari tepung gandum. Sebagai pimpinan DPR, Gobel akan memfasilitasi industri mi dari tepung sagu ini.

Tradisi makanan mi datang dari Tiongkok. Hal ini kemudian menyebar ke wilayah-wilayah sekitarnya di Asia Timur dan Asia Tenggara, bahkan ke seluruh dunia. Namun sejumlah negara mengadaptasi penganan ini dengan berbahan tepung lokal, karena gandum tak tumbuh di wilayah itu. Di misalnya lahir mi soba, yang berbahan tanaman lokal yang disebut soba.

Di Vietnam lahir mi berbahan beras, yang disebut pho. Mi Vietnam ini dikenal enak dan sudah menyebar di seluruh dunia. Vietnam seperti juga Indonesia adalah negeri tropis. Karena itu, sebagai negara yang ingin berdaulat di bidang pangan, sudah saatnya Indonesia beralih ke mi sagu.

Bahkan, di kalangan ahli pangan, banyak pendapat bahwa makanan pokok asli Indonesia sebetulnya adalah sagu. Orang Jawa, sebagai pemakan awal nasi dari beras di tanah Nusantara, juga disebutkan awalnya mengkonsumsi makanan dari sagu. Namun kedatangan orang-orang India di masa lampau telah mengubah perilaku makan orang Jawa dari sagu ke beras. Mirip dengan perubahan perilaku makan orang Papua dan Maluku yang beralih dari sagu dan ubi ke beras berkat pengaruh pembangunan di era Orde Baru.

Bukti-bukti sagu merupakan tanaman endemik di Jawa terlihat dari peninggalan kata sega (bahasa Jawa untuk nasi) atau sangu (bahasa Sunda untuk nasi) yang dekat dengan kata sagu. Faktor semantik dalam bahasa merupakan satu analisis tersendiri dalam melihat pengelompokan atau sejarah makna kata.

BACA JUGA  Enam Keuntungan Konsumen Melakukan Perawatan Berkala di Bengkel Resmi

Tanaman sagu juga masih dijumpai di pinggir Bengawan Solo maupun tradisi lampit dari sagu di Tasikmalaya. Penganan lokal di pedesaan-pedesaan Jawa juga banyak berbahan baku dari tepung sagu. Karena itu, sudah saatnya penganan berbahan baku tepung sagu untuk digalakkan lagi, khususnya mi sagu.

Pada 2020, berdasarkan estimasi Kementerian Pertanian, produksi tepung sagu Indonesia sekitar 472 ribu ton. Riau adalah produsen terbesar, sekitar 374 ribu ton. Sedangkan Papua 67 ribu ton dan Maluku sekitar 9 ribu ton. Angka ini tentu jauh di bawah tepung gandum. Namun jika konsumsi meningkat maka produksi akan mengiringinya.

Pekerjaan rumahnya adalah pada pembudidayaannya yang harus digalakkan. Satu pohon sagu bisa menghasilkan 150-300 kg tepung sagu. Penggalakan penganan dari sagu juga akan menyerap tenaga kerja yang besar serta menyejahterakan rakyat desa, khususnya di daerah-daerah remote yang selama ini tertinggal seperti di Papua, Maluku, Sulawesi, dan Riau serta Kepulauan Riau. Mereka inilah yang sudah terbiasa dengan tanaman sagu.

“Dengan menggalakkan mi sagu ini menunjukkan kemampuan kita dalam mengangkat kearifan lokal,” kata Gobel. Hal ini juga sesuai pesan Presiden Jokowi untuk membangun dari pinggiran. Jika Indonesia bisa menjadikan mi sagu sebagai makanan favorit maka mi sagu pada akhirnya bisa menjadi makanan global seperti halnya soba dan pho dari Jepang dan Vietnam.

Di Jakarta, untuk bisa makan mi pho khas Vietnam, maka harus pergi ke Pacific Place, sebuah mall mewah di Indonesia. Dunia kini memang sedang bergerak ke makanan yang lebih khas, apalagi jika makanan itu lebih sehat.

(EV)

Baca Juga

Leave a Reply