Mengajak Memahami Saudara Kandung Sebagai Individu Autistik Komunitas Jakarta Sibs Club dan Rumah I’m Star Menggelar Sesi Berbagi

Komunitas Jakarta Sibs Club dan Rumah I’m Star menggelar Sesi Berbagi #1 dengan tema Mengenal Saudaraku dan Autisme pada Minggu 6 Agustus 2017, dari pukul 14.00-17.00 dengan mengambil tempat di Rumah I’m Star, Ruko Sentra Menteng Blok MN, Bintaro Jaya Sektor 7. Kegiatan ini dikhususkan bagi para remaja dan dewasa yang merupakan kakak atau adik dari individu autistik, yang menghadirkan narasumber Adriana S. Ginanjar, seorang pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, psikolog dan ibu dari seorang anak individu autistik.

Acara ini sendiri merupakan kegiatan pertama dari Komunitas Jakarta Sibs Club yang merupakan komunitas dari kakak dan adik dari individu autistik di Jakarta dan sekitarnya, sementara Rumah I’m Star adalah rumah pembinaan individu autistik dengan memberikan kesempatan mereka yang telah berusia dewasa untuk bekerja selayaknya orang yang normal  (baca juga: Rumah I’m Star, Di mana Anak-Anak Berkebutuhan Khusus Merajut Asa).

Adriana memulai pemaparannya dengan menjelaskan ciri-ciri gangguan Spektrum Austik (SA). Menurut Adriana, gangguan SA bersifat permanen yang disebabkan gangguan fungsi otak. Artinya upaya yang bisa dilakukan adalah mengurangi efek gangguan SA namun tidak bisa menghilangkannya sama sekali. Individu austik mengalami kendala dalam melakukan komunikasi verbal dan non verbal pada interaksi sosialnya yang menyebabkan masalah dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

Ciri lainnya dari individu austik memiliki tingkah laku, minat dan aktivitas yang terbatas dan diulang-ulang. Keluarga terdekatnya bisa melihat ciri-ciri ini bahkan saat anak berusia di bawah usia 3 tahun.

Dampaknya, keluarga termasuk saudara kandung dari individu autistik akan merasakan pengaruh dari adanya anggota keluarga yang mengalami SA. Efek yang paling umum adalah stress, baik dikarenakan perilaku dari individu autistik sendiri, pandangan dan sikap masyarakat maupun beban yang diberikan orang tua. Banyak orang tua yang menaruh harapan besar kepada saudara kandung dari individu autistik untuk meneruskan tanggung jawab mengasuh saudaranya kelak saat orangtuanya sudah tidak ada.

Pada umumnya stress yang muncul disebabkan kombinasi dari berbagai perasaan yang muncul pada si saudara kandung, seperti rasa malu, perasaan bersalah, perasaan kesepian, marah, iri dan rasa cemas. Bila perasaan ini tidak bisa diatasi maka akan meningkat pada tahap depresi. Di sinilah Adriana menekankan pentingnya bagi saudara kandung (siblings) untuk memahami autis itu sendiri, termasuk mengenal dirinya sendiri sebagai saudara kandungnya.

Namun di samping kecenderungan munculnya karakter yang negatif, saudara kandung dari individu autistik juga memiliki kecenderungan memiliki karakter-karakter positif yang bisa menjadi kelebihannya dibanding orang lain yang tidak memiliki saudara kandung individu autistik, seperti senang membantu orang lain, menghargai perbedaan, memahami perasaan orang lain, lebih matang secara emosional, dan cenderung memiliki motivasi yang tinggi untuk berprestasi.

Adriana pun menutup penjelasannya dengan menyampaikan pesan, meskipun menjadi saudara kandung dari individu autistik merupakan hal yang berat dan tentunya tidak ada satupun orang yang menginginkannya, namun hal ini bisa disikapi secara positif dan bisa menjadikan si saudara kandung menjadi pribadi yang lebih baik.

 

(ES)

Leave a Comment