Membangun Karakter Kebangsaan Kids Zaman Now

Salah satu kritik yang acapkali ditujukan pada kids zaman now adalah kepribadian yang kebarat-baratan dan meninggalkan nilai-nilai Indonesia. Tulisan ini mengajak kita untuk sejenak bercermin tentang kritik tersebut.

Sejak sekolah dasar, bahkan sampai di Perguruan Tinggi, kita mengalami upacara – baik upacara tiap hari Senin sampai upacara kemerdekaan. Dalam kesempatan tersebut, pembacaan Pancasila selalu diperdengarkan. Lalu bagaimana hal ini dapat membangun karakter?

Sebelum sampai ke situ, kita perlu mundur sejenak perlu untuk memahami bahwa proses pembentukan identitas tidak bisa terjadi secara tiba-tiba. Proses tersebut dijalani setiap orang sejak usia kanak-kanak. Memasuki usia remaja, individu mulai dapat bertindak sesuai pengetahuan yang telah ia peroleh sejak lahir.  Pada tahap remaja tersebut, individu mencari kejelasan identitas diri.

Proses ini bisa jadi panjang dan berlarut-larut, sarat dengan pertentangan sekaligus penegasan, terhadap berbagai peran dan wajah. Dalam proses pencarian identitas tersebut, terdapat dua tahap utama yaitu eksplorasi dan komitmen. Eksplorasi terjadi ketika seseorang masih menjajaki berbagai alternatif, sedangkan komitmen dibangun pada saat seseorang menunjukkan keseriusan pada satu pilihan dan berketetapan untuk mewujudkannya.

Seperti disebutkan sebelumnya, proses ini tak selalu berjalan mulus. Apabila remaja telah berhasil menemukan identitas dirinya, ia akan memasuki tahap berikutnya yaitu masa dewasa. Sebaliknya, ketika identitasnya tidak juga ajeg, maka remaja berpotensi mengalami kebingungan identitas (identity diffusion).

Wah, apa yang disebut sebagai kebingungan identitas ini? Hal ini tak lain adalah krisis saat memutuskan tujuan hidup. Individu yang masih serba bingung tak hanya galau menentukan pilihan-pilihan hidup, termasuk di antaranya memilih akan jadi apa di masa depan, tetapi juga bisa menunjukkan ketidaktertarikan pada hal-hal tersebut. Kids zaman now yang seperti ini menghadapi hidup tanpa arah, tidak punya orientasi serta tanpa tujuan yang ingin dicapai.

Lalu kembali ke awal tulisan, apakah hal ini bisa dihindari, salah satunya dengan upacara? Upacara adalah satu dari banyak hal yang bisa dilakukan bersama remaja. Upacara membantu untuk mengingatkan remaja secara sistematis tentang  jati diri bangsa. Kegiatan semacam ini bisa memperkuat tahap komitmen pada remaja.

Di sisi lain, orang tua dan guru pun punya peran penting, baik untuk tahap komitmen maupun eksplorasi. Kedua pihak ini berperan untuk menarik benang merah antara Pancasila yang dibacakan saat upacara dan Pancasila dalam keseharian melalui berbagai eksplorasi bersama. Misalnya, nasionalisme bisa dibangun dengan berbagai cara – salah satunya sambil menonton pertandingan bulutangkis bersama-sama di ruang keluarga. Penghayatan terhadap lagu Indonesia Raya yang berkumandang saat atlet Indonesia naik ke podium menerima medali emas bisa jadi satu momen yang dilakukan sebagai satu keluarga.

Kegiatan berkesenian melalui program ekstrakurikuler di sekolah pun ikut membangun karakter. Tampil di atas pentas dengan bangga membawakan keberagaman budaya bisa memberikan pengalaman yang berdampak pada pembentukan identitas seorang remaja, apalagi ketika dilanjutkan dengan berbagai kesempatan seperti pertukaran budaya. Eksplorasi identitas dengan cara menghayati macam ragam budaya di Indonesia juga menjadi bagian penting dari pembentukan identitas remaja.

Dinamika antara eksplorasi dan komitmen sepanjang proses mencari identitas tersebut merupakan perjalanan yang penuh lika liku. Di satu sisi remaja mencoba berbagai identitas kemudian menetapkan komitmen, di sisi lain orang tua dan guru berperan memberikan arah dan umpan balik di seluruh proses yang dilalui.

Pertanyaan seperti “Bagaimana menurut pandanganmu?” “Menurut pendapatmu, apa yang sebaiknya dilakukan?” “Apa yang terbaik menurutmu?” dari orang tua dan guru bisa menstimulasi eksplorasi yang dilakukan oleh remaja. Hal ini juga bisa diterapkan dalam membangun karakter kebangsaan saat membahas hal-hal relevan seperti upacara bendera dan  pandangan terhadap atlet seusia mereka yang membela nama baik negara. Guru dan orang tua juga dapat memperkuat tahap komitmen remaja.

Manakala remaja berketetapan untuk menentukan pilihan, guru dan orang tua bisa jadi teman diskusi, memuji jika pilihan tersebut sesuai dan memberikan masukan untuk menyempurnakan pilihan tersebut. Contohnya saat terlibat dalam ekstrakurikuler budaya, guru dan orang tua bisa ikut sumbang saran, memberikan dukungan serta semangat. Yang penting adalah orang tua dan guru menjadi sahabat pada remaja sepanjang tahap eksplorasi dan komitmen di proses pencarian diri tersebut.

Memasuki masa dewasa, remaja tak lepas dari berbagai pengaruh negatif. Bicara karakter kebangsaan, pengaruh negatif dapat muncul dalam berbagai bentuk, antara lain ketidakmampuan menghargai kelompok, agama, ras yang beragam di Indonesia. Jika tahap eksplorasi telah ia lalui dengan tuntas, lalu komitmen yang ia ambil sudah berdasarkan pada berbagai pertimbangan –di antaranya pendampingan orang tua dan guru sebagai sahabat sepanjang perjalanan. Ketika tumbuh dewasa, maka dirinya diharapkan menjadi mampu untuk berpikir kritis dan menentukan pilihan yang benar – termasuk di dalamnya berpegang pada pilar kebangsaan yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penulis:
Sofia Maharani Primanusovi (Mahasiswa) dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo (Dosen)
Program Studi Psikologi – Fakultas Humaniora dan Bisnis Universitas Pembangunan Jaya

Referensi
Santrock, J. W. (2011a). Educational Psychology (11th ed.). Mc-Graw Hill: New York
Santrock, J. W (2011b). Life Span Development (13th ed.). Mc-Graw Hill: New York