Sen. Okt 14th, 2019

Membangun Karakter Anak Menggunakan Sketsa

sketcher_2

Persaingan kehidupan yang keras pada saat ini mengharuskan setiap orang berusaha untuk menjadi yang terbaik. Untuk menjadi yang terbaik, orang harus memiliki keunggulan dibandingkan orang lain, sayangnya hal ini mendorong orang untuk berlomba-lomba menggunakan segala cara untuk menjadi nomor 1, bahkan termasuk hal-hal yang merugikan orang lain atau melanggar aturan dan etika. Sayangnya hal ini juga berimbas terhadap sikap orang tua terhadap anak-anaknya, Banyak orang tua yang menuntut anaknya untuk menjadi yang paling unggul di sekolahnya dalam hal prestasi, orang tua berharap dengan anak-anaknya menjadi unggul hal itu akan menjadi karpet merah kesuksesan anak-anaknya di kehidupannya kelak. Sebetulnya hal ini adalah hal yang wajar jika dilakukan dengan cara yang tepat. Sayangnya keinginan orang tua ini belum tentu sejalan dengan yang keinginan si anak. Si anak seringkali merasa tertekan, karena mungkin saja minatnya dalam bidang yang lain, misalnya seni. Si anak merasakan tuntutan orang tuanya terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan minatnya. Yang terjadi akhirnya orang tua dan anak sama-sama mengalami stress karena perbedaan keinginan. Hal ini seringkali malah membuat orang tua mau pun anak memiliki hubungan yang kurang harmonis, atau, si anak memutuskan untuk mengikuti keinginan orang tuanya namun dengan setengah hati, sehingga hasil yang diperoleh pun tidak pernah maksimal.

Seringnya timbul stress pada anak dapat mengganggu kondisi mentalnya, bahkan karena kerasnya keinginan orang tua dapat mengajarkan hal yang negatif kepada si anak, misalnya anak menganggap bahwa jika ia ingin mendapatkan sesuatu, ia harus melakukannya dengan segala cara, bahkan dengan cara yang paling tercela sekali pun.

Pada waktu belakangan ini berkembang suatu kesadaran bahwa anak pun harus memiliki cara untuk melakukan relaksasi (stress released), sehingga ia dapat memiliki perasaan tenang sekali pun ia dituntut untuk melakukan yang terbaik. Dengan melakukan relaksasi, anak dapat memiliki pandangan yang positif terhadap hidupnya. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk melakukan relaksasi pada anak adalah dengan menggunakan sketsa.

Sketsa adalah gambar kasar dari suatu obyek. Dengan menggunakan sketsa, anak diajak untuk melukis sketsa suatu obyek dengan media-media lukis yang bisa didapatkan dengan mudah dengan harga yang relatif terjangkau, misalnya kertas gambar dan cat air. Dengan melukis sketsa ini, anak dibiarkan untuk mengendalikan emosinya dan menuangkannya dalam guratan-guratan lukisan yang dibuatnya. Tidak ada kriteria yang menyatakan bahwa hasil lukisan si anak itu bagus atau jelek. Yang diutamakan dari metode ini adalah proses bukan hasil. Anak belajar bagaimana menarik garis tebal dan tipis, kapan ia harus memberikan suatu aksen terhadap sketsa buatannya. Seperti apa pun hasil lukisannya nanti, semuanya adalah baik jika dilakukan sesuai proses yang semestinya.

BACA JUGA  EKTIZO Coding, Pelopor Kursus Coding Jarak Jauh di Indonesia

sketcher_4

Menurut Ahmad Bobby Ashari, yang akrab dipanggil Bobby, seorang aktivis dan penggagas komunitas Sketcher Indonesia di Bogor maupun Sketcher Indonesia, pada saat berlangsungnya workshop yang bertajuk Watercolor Monochrome Technique di Perpus Sktr9, Ruko Emerald Avenue 1, Bintaro Sektor 9, hari Minggu, 8 Mei 2016, melukis sketsa dapat dilakukan dengan menggambar langsung di depan obyeknya, mengimajinasikan obyeknya, mau pun meniru suatu gambar. Seorang anak dapat menggunakan salah satu dari ketiga cara itu bahkan ketiga cara tersebut. Melukis sketsa juga sebaiknya dilakukan secara berkelompok karena si anak dapat bersosialisasi dengan temannya, mungkin dia pun akan meniru sketsa buatan temannya, tapi itu justru menambah kekayaan kreativitas anak. Intinya adalah anak dibuat sebebas mungkin untuk mewujudkan idenya tanpa dinilai hasil akhirnya.

sketcher_3

Lebih lanjut Booby menambahkan, untuk melukis sketsa tidak diperlukan bakat melukis, siapa pun dapat melakukannya sekali pun orang yang tidak bisa menggambar sama sekali.Ia mencontohkan dirinya adalah orang yang sama sekali tidak bisa menggambar atau melukis, namun toh ia bisa menjadi seorang arsitek. Yang dipentingkan bagi seorang sketcher adalah kemauan dan prosesnya, sehingga metode ini sangat baik untuk diterapkan dalam membangun karakter seorang anak untuk menghargai proses, bukan hasil akhir semata. Metode sketsa ini juga sangat baik untuk menetralisir stress seperti yang dilakukannya bersama komunitasnya, Sketcher Indonesia.

 

(ES)

 

 

Baca Juga

Tinggalkan Balasan