Memahami Survey Menjelang Pilpres

Menjelang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) pada hari Rabu, 17 April 2019, berita-berita di media massa makin marak, salah satunya mengenai hasil survei. Misalnya saja ringkasan hasil survei beberapa lembaga survei di Indonesia (Elektabilitas Jokowi vs Prabowo, 2019) yang dipaparkan baru-baru ini.

Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan Joko Widodo-Maruf Amin saat acara pengambilan nomor urut di Kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, Jumat (21/9/2018).(KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)

Mungkin saja bagi pendukung pasangan capres-cawapres yang dimenangkan dalam survei-survei ini akan meloncat kegirangan setelah membaca hasil survei, sedangkan pendukung pasangan yang dikalahkan dalam survei akan mencurigai hasil survei tersebut.

Di luar reaksi yang beragam terhadap hasil survei pilpres ini, sebenarnya yang perlu diketahui adalah bagaimana memahami hasil survei ini, terutama bagi orang awam yang tidak terjun di dunia politik.

Pertimbangan dalam membaca hasil survei Pilpres

Penulis mencoba untuk memberikan empat pertimbangan umum yang dapat digunakan oleh orang awam untuk memahami survei-survei semacam ini.

  1. Pertanyaan yang diajukan.Hasil-hasil survei tersebut tentunya diperoleh dengan mengajukan pertanyaan kepada sejumlah orang, baik secara tatap muka maupun tidak. Pertanyaan yang diajukan ini akan menentukan bagaimana hasil survei dapat disimpulkan. Misalnya saja, diajukan pertanyaan berikut: “pada pemilu 17 April 2019 nanti, apakah Anda akan memilih pasangan capres-cawapres A?”. Apabila ada yang menjawab “tidak”, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa orang tersebut pasti memilih pasangan B, karena tidak memilih pasangan A bukan hanya berarti pasti memilih pasangan B namun mungkin saja bisa tidak memilih keduanya. Bentuk pertanyaan seperti tentunya tidak tepat bila digunakan dalam survei pilpres, sehingga hasil surveinya dapat kita ragukan bila diajukan pertanyaan tersebut. Pertanyaan berikut,“pada pemilu 17 April 2019 nanti, apakah Anda akan memilih pasangan capres-cawapres A atau pasangan capres-cawapres B?”, tentunya lebih baik dibandingkan pertanyaan pertama, karena jawabannya sudah menunjukkan manakah pasangan yang dipilih. Untuk lembaga-lembaga survei yang kredibel, tentunya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sudah dipertimbangkan dengan matang.
  2. Bagaimana sampel diambil. Pertimbangan berikutnya adalah bagaimana cara memilih orang-orang yang akan ditanyakan. Apabila sampel hanya berasal dari suatu tempat tertentu yang kebetulan saja ditemui dan diwawancarai, hasil survei ini kemungkinan besar tidak dapat secara tepat menggambarkan pilihan masyarakat sehingga tidak dapat kita percaya. Misalnya saja, survei dilakukan terhadap orang-orang yang hadir pada kampanye pasangan atau partai tertentu, ataupun kepada warga yang tinggal di daerah yang dikenal sebagai pendukung pasangan tertentu. Untuk survei pemilu pastinya harus mewakili seluruh Indonesia, dimana orang-orang yang diwawancarai harus berasal dari 34 propinsi, termasuk pertimbangandemografis dan psikologis dari daerah-daerah dimana orang-orang akan diwawancarai. Setelah menentukan daerah yang akan disurvei, selanjutnya adalahmemilih secara acak orang-orang yang diwawancarai, bukan hanya secara kebetulan yang ditemui di daerah-daerah itu. Pengambilan sampel yang dilakukan pada lembaga-lembaga survei yang kredibel biasanya sudah mempertimbangkan keterwakilan secara nasional, misalnya dengan multistage random sampling.
  3. Jumlah sampel. Selain cara pengambilan sampel, yang perlu diperhatikan adalah jumlah sampel. Survei-survei pastinya tidak mungkin mewawancarai seluruh anggota populasi yaitu seluruh pemilik hak suara di Pemilu 2019, berjumlah190.770.329 orang (Daftar lengkap rekapitulasi, 2018), namun hanya mengambil sebagian saja. Kalau jumlah sampel terlalu kecil (misal 100 orang), maka hasil survei dapat diragukan karena dianggap tidak mewakili 190 juta lebih pemilik hak suara. Berapa jumlah sampel yang dianggap baik? Prinsipnya, semakin banyak sampel, semakin baik hasil survei. Mengacu pada Taherdoost (2017), dengan populasi 1 juta atau lebih, minimal sampel 384 orang untuk tingkat kepercayaan 95% dan margin of error 5%. Artinya, apabila sampel yang diambil lebih dari jumlah ini, maka hasil survei akan semakin baik. Melihat informasi jumlah sampel pada sejumlah lembaga survei terkemuka (Elektabilitas Jokowi Vs Prabowo, 2019; Carina, 2019), semuanya berjumlah lebih dari 1.000 orang. Artinya, jumlah sampel sudah dianggap dapat mewakili.
  4. Margin of error. Karena survei diambil dari sampel, ada kemungkinan hasilnya untuk berbeda dengan populasi. Seberapa besar kemungkinan hasil survei berbeda dengan populasi dapat diperkirakan dalam bentuk margin of error. Margin of error yang kecil menunjukkan semakin kecil perbedaan dengan populasi. Biasanya margin of error pada hasil survei dari lembaga survei kredibel tidak lebih dari tiga persen. Apa arti margin of error 3%? Contoh, apabila dari hasil survei diperoleh pasangan A mendapatkan 37%, maka persentase di populasi berkisar plus minus 3%, yaitu dalam rentang antara 35% hingga 40%. Lebih lanjut lagi margin of errordapat digunakan untuk membandingkan hasil survei dua pasangan. Misalnya, hasil survei menunjukkan pasangan A mendapat 37% dan pasangan B 42%, apakah berarti pasangan B lebih unggul? Dengan margin of error 3%, artinya pasangan A sebenarnya mendapat 35% hingga 40% dan pasangan B mendapat 39% hingga 45%. Dengan demikian, tidak dapat dikatakan pasangan B lebih unggul karena perolehan kedua pasangan masih dalam rentang yang sama, yaitu antara 39% hingga 40%. Maksudnya, bisa saja pasangan A mendapat 40% sedangkan pasangan B 39%. Namun bila hasil survei yang sama dengan margin of error1,5%, maka dapat dikatakan pasangan B lebih unggul (40,5% hingga 43,5%) karena perolehan suara keduanya tidak dalam rentang yang sama.
BACA JUGA  Ayo Berkebun! (Bagian 2)

Simak video penjelasannya : https://www.youtube.com/watch?v=I0urUhwfwTU

Apakah hasil survei dapat meramalkan hasil pemilu?

Tidak. Hasil survei dilakukan sebelum berlangsungnya pemilu, yang belum tentu dapat meramalkan perilaku memilih secara tepat. Seperti kita ketahui, hasil akhir perhitungan suara Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada sejumlah pemilihan kepala daerah (pilkada) berbeda dengan survei-survei sebelum pilkada.

Hal ini bukan berarti bahwa lembaga-lembaga survei tersebut melakukan secara asal-asalan atau ada kepentingan pasangan tertentu (survei bayaran). Ini dikarenakan perilaku memilih saat di bilik suara dipengaruhi oleh banyak faktor. Bisa saja orang yang saat diwawancarai menjawab akan memilih pasangan A, namun saat pemilu malah memilih pasangan B. Selain itu, karena survei biasanya dalam bentuk wawancara, belum tentu orang akan terbuka untuk mengatakan pilihannya nanti di bilik suara.

Bagaimana menyikapi hasil survei ini?

Bagi kita, orang awam yang tidak terjun ke dunia politik, survei-survei ini hendaknya dilihat sebagai informasi terhadap dinamika demokrasi di Indonesia. Yang perlu diingat adalah siapa pun pasangan capres-cawapres, mereka pastinya bertujuan untuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia.

Jangan sampai hasil survei ini memberi dampak negatif terhadap interaksi sosial Anda.Misalnya, karena berbeda mendukung pasangan capres-cawapres dengan teman Anda, hasil survei ini membuat Anda saling mengejek bahkan menghujat hingga pertemanan Anda menjadi terganggu.

Bagi Anda yang mendukung pasangan yang dimenangkan dari hasil survei, janganlah kemudian menjelek-jelekkan atau merendahkan pendukung pasangan lain. Sedangkan bagi Anda yang mendukung pasangan yang dikalahkan pada hasil survei, janganlah langsung berpikir bahwa survei tersebut adalah survei yang dibayar atau tipuan dari pasangan capres-cawapres tertentu.

Hindari juga menuliskan hal-hal negatif di media sosial terkait hasil survei.Coba lihat kembali pertimbangan-pertimbangan di atas. Akhir kata, bijaklah menyikapi hasil survei pilpres.

BACA JUGA  Mengajar dan Melatih Anak Menabung

Penulis:

Aries Yulianto, S.Psi., M.Si.
Staf Pengajar Program Studi Psikologi
Fakultas Humaniora dan Bisnis Universitas Pembangunan Jaya

Referensi:

Carina (2019, 6 Maret). Elektabilitas Terbaru Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga Menurut 4 Lembaga Survei. Kompas.com.

Diambil dari: https://nasional.kompas.com/read/2019/03/06/07152831/elektabilitas-terbaru-jokowi-maruf-dan-prabowo-sandiaga-menurut-4-lembaga

WhatsApp chat