Memahami Obesitas dan Cara Mengatasinya – Seminar Awam RS Omni Alam Sutera

Saat ini semakin baik kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan diri. Hal ini ditandai dengan banyaknya para ibu yang hadir di seminar obesitas yang diselenggarakan RS Omni Alam Sutera pada hari Sabtu, 9 September 2017.

Sekilas Tentang Obesitas

Obesitas atau penumpakan lemak berlebih merupakan sebuah kondisi kronis di mana terjadinya penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh, yang melebihi ambang baik bagi kesehatan tubuh.
Pada pria penumpukan sel lemak biasanya terdapat di bagian perut, sedangkan pada wanita biasanya dipinggul.

Body Mass Index (BMI)

Cara menghitung BMI adalah dengan membagi berat badan (kg) ke tinggi badan (m)2. Dari situ dapat dihitung apakah Anda termasuk obesitas atau tidak. Untuk ukuran orang barat, BMI 25 baru dianggap masuk katagori obesitas. Sedangkan untuk orang Asia, BMI 23 sudah termasuk katabori obesitas. Hal ini dikarenakan perawakan orang Asia yang lebih kecil dibanding orang Barat.

Klasifikasi Obesitas

Secara umum obesitas diklasifikasikan menjadi obesitas perifer dan obesitas sentral.
Obesitas perifer adalah penumpukan lemak yang terjadi di bagian bawah seperti pinggul, pantat dan paha dan resiko terhadap penyakit pada tipe ini umumnya kecil, sedangkan obesitas seperti apel (sentral lemak banyak di simpan pada bagian pinggang dan rongga perut. Resiko kesehatan pada tipe ini lebih tinggi dibandingkan dengan tipe menyerupai perifer karena sel-sel lemak di sekitar perut lebih siap melepaskan lemaknya ke dalam pembuluh darah dibandingkan dengan sel-sel lemak di tempat lain.

Penyebab Obesitas

Ada beberapa faktor yang menyebabkan obesitas. Pertama, adalah faktor genetika. Bila bapak atau ibu kandungnya mengidap kegemukan, maka kemungkinan besar anaknya menjadi gemuk.Faktor penyebab kedua adalah faktor lingkungan dan gaya hidup. Lingkungan ini melingkupi perilaku atau pola gaya hidup misalnya jenis makanan, frekuensi maakn dan jenis aktivitas. Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya tetapi ia bisa mengubah pola makan dan aktivitasnya.

Pada masa kini, rata-rata penyebab obesitas adalah kesalahan pola makan. Apakah Anda kerap makan asal kenyang? Menyantap makanan yang kaya lemak, karbohidrat dan protein serta kalap melahap makanan lebih dari porsi sewajarnya? Anda harus berhati-hati. Faktor penyebab obesitas yang ketiga adalah faktor fisik. Memang sukar dipercaya bahwa emosi bisa mempengaruhi kebiasaan makan seseorang seperti binge eating (orang yang makan dalam jumlah sangat banyak) dan sindrom makan malam.

Orang yang tidur malam alias begadang seringkali ditemani dengan makanan atau camilan yang tinggi karbohidrat seperti nasi atau mie instan. Kebisaan ini biasanya dipacu oleh stress dan kekecewaan yang banyak terjadi pada wanita.

Kaitan Penyakit dan Obat-Obatan Tertentu Dengan Obesitas

Patut diwaspadai ada beberapa penyakit yang bisa menyebabkan obesitas di antaranya hipotiroidsme. Hipotiroid merupakan penyakit yang terjadi karena kurangnya/defisiensi hormon tiroid ataupun gangguan respon jaringan terhadap hormon tiroid. Hormon tiroid sangat berperan dalam metabolisme tubuh. Bila hormon berkurang, maka metabolisme tubuh melambat. Akibatnya tubuh menjadi lebih cepat gemuk.

Penyakit yang lain yang dapat menyebabkan obesitas adalah Sindrom Cushing. Ini merupakan sindrom yang menyebabkan hormon kortisol meningkat berlebihan dan dapat mengakibatkan bertambahnya berat badan. Penyakit yang lain adalah sindrom Prader-Willi (gangguan genetik sangat langka yang berpengaruh pada kecerdasan). Hal penting lain yang perlu Anda ketahui adalah obat-obatan steroid dan beberapa anti depresan pun dapat memicu penambahan berat badan.

Penyebab Obesitas Lainnya

Ada beberapa hal lain yang juga menyebabkan adalah bertambahnya usia. Metabolisme tubuh yang melambat seiring dengan pertambahan usia mengakibatkan obesitas. Begitu pula kebiasaan mengkonsumsi alkohol, menopause bagi wanita dan stress atau kurang tidur dapat memicu nafsu makan.

Alkohol

Tahukah Anda bahwa alkohol meningkatkan kortisol, hormon yang menciptakan lemak. Minum alkohol yang banyak atau bahkan kadang-kadang meningkatkan rilis tubuh kortisol – hormon yang memecah otot dan mempertahankan lemak. Ini hilangnya otot dapat berarti penurunan besar dalam metabolisme seseorang, sehingga lebih mudah untuk menambah berat badan. Selain itu, alkohol menyebabkan penurunan testosteron pada pria, hormon yang membantu membakar lemak.

Menopause

Kaum perempuan mudah menjadi gemuk daripada laki-laki. Kemungkinan menjadi cepat gemuk akan semakin besar pada saat perempuan menginjak fase menopause. Oleh karena itu, jika tidak diantisipasi, perempuan akan menderita obesitas dan rentan terhadap berbagai macam penyakit.Apa yang menjadi gejala obesitas?

Kurang Tidur

Kurang tidur atau lebih tepatnya kurang tidur malam memiliki dampak yang berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia, tidur yang cukup dan berkualitas tidak hanya untuk melepas lelah karena seharian bekerja tetapi juga penting bagi keseimbangan fisiologis tubuh. Semua orang mungkin sudah sadar bahwa akibat kurang tidur bisa merugikan kesehatan, namun kenapa masih saja banyak orang yang tidurnya tidak cukup, bahkan setelah diupayakan semaksimal mungkin.

Apa penyebab kurang tidur? Paling tidak ada dua hal, kurang tidur bisa disebabkan oleh kondisi patologis (kondisi penyakit) atau hanya terjadi ketika berubahnya perilaku/kebiasaan seseorang. Kondisi patologis dalam hal ini berarti bukanlah hal yang dibuat-buat atau disengaja, bahkan ketika seseorang mencoba untuk tidur ia tidak dapat melakukannya, kondisi ini disebut sebagai insomnia.

Insomnia atau kurang tidur yang tidak disengaja dapat dipicu oleh depresi, stres dan kecemasan. Ini merupakan penyebab utama. Sedangkan kurang tidur yang disengaja terutama disebabkan oleh perubahan tertentu pada kebiasaan tidur individu. Misalnya asyik mengerjakan tugas, menonton televisi, atau sedang asyik menggunakan gadget hingga larut malam. Masalahnya jika ini dibiasakan maka jam tidur seseorang menjadi berubah. Kurang tidur begitu cepat mempengaruhi hormon kortisol. Ini merupakan hormon stress, biasanya di siang hari hormon kortisol kadarnya rendah, namun akibat kurang tidur hal ini tidak terjadi. Sebagai akibatnya seseorang akan cendrung stress di siang hari.

Ketika kejadian seperti ini terus berlanjut itu sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan penyakit dalam tubuh seperti diabetes dan obesitas (kegemukan). Dan inilah akibat kurang tidur berkepanjangan atau terus menerus. Kurang tidur juga berhubungan langsung dengan kebiasaan makan seseorang, hal ini terkait dengan regulasi hormon leptin. Leptin adalah penekan nafsu makan yang diproduksi oleh sel-sel lemak. Akibat Kurang tidur, kadar hormon leptin akan menurun secara signifikan dan pada gilirannya memaksa korban terus merasa lapar.

Simak artikel selanjutnya di www.infobintaro.com

Untuk info lebih lanjut, hubungi:

RS Omni Hospital
Jl. Alam Sutera Boulevard Kav. 25
Pakulonan, Serpong

Website: www.omni-hospitals.com
Facebook: @omnihospitalsgroup
YouTube: @omnihospitalsgroup
Instagram: @omnihospitalsgroup
E-mail: sales.alamsutera@omni-hospitals.com

 

(EGS)