Sel. Jun 25th, 2019

Memaafkan: Sebuah Upaya Merawat Kesehatan Mental

Hari Lebaran, bagi masyarakat Indonesia, biasanya menjadi momentum yang tepat untuk saling bersilaturahmi dan memaafkan. Memaafkan saudara, memaafkan rekan kerja, memaafkan sahabat, memaafkan tetangga atau memaafkan orang lain yang telah membuat kesalalahan, kekhilafan dan kekeliruan.

Tradisi memaafkan di hari Lebaran ini merupakan sesuatu yang unik dan khas budaya Indonesia sebagai simbol dan perayaan bahwa kita sebagai manusia kembali suci, bersih setelah sebulan penuh berpuasa. Selain itu, memaafkan juga memberikan makna bahwa kita siap untuk berdamai dengan masa lalu dan merajut kembali hubungan sosial secara lebih baik dengan orang lain.

Memaafkan dapat memberikan dampak positif, bukan hanya kepada orang yang telah melakukan kesalahan, namun juga kepada kesehatan mental dan kesejahteraan diri (psycho-wellbeing) kita. Oleh karena itu, ritual memaafkanhendaknyatidak kita lakukan sebatas pada saatHari Raya saja. Memberi maaf dan pengampunan juga bisa kita lakukan dalamkonteks sehari-hari ketika kita berinteraksi dengan sesama.

Memaafkan Dalam Perspektif Psikologi

Ketika seseorang mampu memaafkan, ia sudah tidak mempunyai keinginan lagi untuk membalas dendam. Meskipun pengertian dari memaafkan bisa bervariasi, namun menurut Rubin Khoddam (2014), memaafkan memiliki 3 komponen umum, yaitu:

  1. Mendapatkan pandangan yang lebih seimbang terhadap kejadian dan orang lain yang menyakiti diri kita
  2. Menurunkan perasaan-perasaan negatif terhadap orang lain yang melukai perasaan kita.
  3. Menghindari keinginan untuk menghukum, membalas atau menuntut ganti rugi terhadap orang yang menyakiti perasaan kita.

Perlu diperhatikan bahwa proses memaafkan akan bisa berbeda pada setiap orang. Bagi orang-orang tertentu, memaafkan adalah proses yang relatif mudah, cepat dan tidak membutuhkan usaha atau energi yang besar. Namun bagi sebagian yang lain, memberi maaf kepada orang  yang telah menyakiti dan melukai perasaannya adalah proses yang sulit untuk dilakukan.

Keinginan seseorang untuk memaafkan orang lain tidak muncul begitu saja, namun dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya tingkat empati, penilaian terhadap pelaku dan tingkat kesalahannya, tingkat keterlukaan, karakteristik kepribadian, kualitas hubungan interpersonal, permintaan maaf yang tulus, dan variabel-variabel sosial kognitif, yaitu kecenderungan untuk terus-menerus mengingat kejadian yang dapat menimbulkan kemarahan dan dapat menghalangi untuk memaafkan.

Bagaimana Cara Memaafkan?

Langkah pertama, kita harus mampu mengidentifikasi dengan jujur dan berusahadeal dengan perasaan-perasaan yang menyakitkan tersebut sebelum kita beranjak untuk memberikan maaf. Coba cermati dan hargai proses-proses untuk berdamai dengan perasaan negatif yang masih tertinggal dalam diri kita.Dengan mengeksplorasi situasi, alasan, konteks dan mengakui dampak dari peristiwa yang menyakitkan, makalangkah ini dapat menjadi awal untuk memulai proses memaafkan. Prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh Thomas Plante (2014) berikut dapat kita lakukan untuk memaafkan:

  1. Memaafkan bukan berarti melupakan. Orang-orang yang telah dilecehkan, diabaikan, dan menjadi korban tidak akan melupakan peristiwa menyakitkan dan traumatis yang mereka alami. Mereka dapat belajar untuk memaafkan, namun ingatan-ingatan mengenai peristiswa tersebut masih tersimpandalam memori mereka.
  2. Memaafkan tidak berarti meminimalkan pengalaman kita sebagai korban. Dengan melakukan pengampunan, bukan berarti kita bisa mengatakan “tidak apa-apa…, sekarang tidak seburuk itu.” Kita dapat memaafkan, namun perlu diakui bahwa posisi kita sebagai korban, bukanlah pelaku.
  3. Memaafkan adalah sebuah proses. Memaafkan bukanlah sesuatu hal yang dalam sekejap bisa dilakukan secara sempurna. Memaafkan membutuhkan pergulatan, waktu dan energi mental untuk melakukannya. Kita mungkin tidak pernah mencapai angka 10 dari 10 poin pada skala memaafkan, tetapi kita dapat mengubah angka 6 menjadi angka 7 atau angka 8.
  4. Memaafkan tidak tergantung dari orang yang meminta maaf dan memohon pengampunan. Kadang kita tidak dapat berharap bahwa orang yang melakukan kesalahan dapat sepenuhnya memahami bahwa apa yang ia lakukan adalah hal yang salah. Mereka mungkin tidak pernah mengakui bahwa mereka melakukan sesuatu yang bermasalah. Bila hal ini terjadi, kita tetap bisa memulai untuk memaafkan, karena kita mengampuni orang lain  untuk keuntungan kita sendiri, bukan kepentingan mereka.
  5. Memaafkan berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan psikologis. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa menyimpan dan mempertahankan amarah adalah racun bagi kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis kita. Memaafkan mungkin bisa membantu memperbaiki kondisi orang lain yang telah melakukan kesalahan, namun perlu diingat bahwa memaafkan terutama adalah untuk menjaga dan merawat kesehan mental kita.
  6. Melepas amarah.Melepaskan rasa benci dan marah yang menyelimuti diri kita merupakan kunci dari memaafkan. Mereka yang berhasil melakukan coping dan mampu merawat kesehatan mentalnya adalah mereka yang telah menemukan cara untuk memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain. Dibutuhkan kerja keras untuk melepaskan amarah dan kebencian, lalu kemudian beralih untuk melanjutkan kehidupan. Pada akhirnya perlu ditekankan bahwa memaafkan berarti tidak membiarkan diri sendiri terus-menerus menjadi korban. Memaafkan adalah sebuah kemenangan.
BACA JUGA  Kuliah Sambil Kerja, Mengapa Tidak?

Penutup

Memaafkan memberikan manfaat bagi diri kita, baik secara psikologis dan fisiologis. Secara psikologis, individu-individu yang memiliki level memaafkan yang lebih tinggi, cenderung memiliki tingkah laku sehat yang lebih baik dan cenderung lebihrendah tingkat depresi, kecemasan, dan kemarahannya. Sedangkan secara fisiologis, mereka dengan tingkat memaafkan yang lebih tinggi dilaporkan memiliki jumlah sel darah putih dan tingkat hematokrit yang lebih rendah.

Sel darah putih adalah bagian integral dari sistem pertahanan tubuh yang berguna untuk memerangi penyakit dan infeksi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa memaafkan adalah sebuah hal yang positif bagi diri kita. Oleh karena itu, jangan biarkan pikiran dan tubuh kita terbelenggu oleh perasaan dendam dan marah.Mari kita memaafkan!!! Selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri 1440H.

Penulis:

Supriyanto, S.Psi. M.Si.
Program Studi Psikologi
Fakultas Humaniora dan Bisnis
Universitas Pembangunan Jaya

Referensi:

Firmansyah, F. (2012). Hubungan religiusitas (keberagamaan) dengan forgiveness (memaafkan) pada mahasiswa psikologi Universitas Islam Negeri Malang yang tinggal di Ma’had Sunan Ampel Al’aly.Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

Khoddam, R. (2014).The Psychology of Forgiveness: A how-to guide on the science behind learning to forgive. Diunduh dari:
https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-addiction-connection/201409/the-psychology-forgiveness

Plante, T. (2014). 7 Rules of Forgiveness. Diunduh dari:
https://www.psychologytoday.com/us/blog/do-the-right-thing/201403/7-rules-forgiveness

Sutton, G.W. (2010). Forgiveness, Reconciliation, and Restoration: Multidisciplinary Studies from a PentecostalPerspective. Wipf & Stock Pub

Baca Juga

Tinggalkan Balasan