Melestarikan Permainan Gasing di Era Milenial, Komunitas Gasing Indonesia

Masih ingat dengan permainan gasing? Permainan dengan melilitkan benang atau tali pada benda bulat bernama gasing dan melemparkan ke lantai atau landasan licin sambil menarik benang/tali sehingga gasing pun berputar. Ada keasyikan tersendiri bagi anak-anak saat menyaksikan gasing yang berputar dalam waktu yang cukup lama.

Bagi Anda yang lahir pada sebelum 1990-an mungkin Anda masih ingat dengan permainan masa kecil ini. Namun sayangnya, dengan berkembangnya zaman dan pengaruh teknologi, salah satu permainan tradisional ini semakin terlupakan. Kebanyakan anak-anak pada saat ini tidak mengenal permainan gasing. Padahal, gasing menggambarkan kekayaan budaya Indonesia yang bila tidak dilestarikan akan semakin hilang ditelan zaman.

Endi Aras, penggagas dan pendiri Komunitas Gasing Indonesia, yang ditemui Info Bintaro di sela-sela acara perayaan 17-an Puri Bintaro, 19 Agustus 2017, menyatakan, setiap daerah di Indonesia memiliki ragam corak gasing tersendiri. “Kita memiliki 600-an jenis gasing dari berbagai daerah, itu baru dari tingkat propinsi. Kalau kita gali lagi dari setiap kabupaten atau kota, jumlahnya mungkin luar biasa,” jelas Endi.

Baca juga:
Foto : Berbagai Kemeriahan Perayaan 17-an Puri Bintaro

Endi melanjutkan, istilah gasing di tiap daerah berbeda-beda, misalnya di Lampung namanya bukang, Jawa Timur kekean, Jawa Tengah gangsingan, Jawa Barat panggal, Ambon apyong, Sulawesi Selatan magasing, Bali dan Lombok begasing, dll. Bahan kayu yang digunakan dalam pembuatan gasing di masing-masing daerah juga berbeda, tergantung jenis kayu yang banyak terdapat di situ. Bentuknya pun bermacam, namun kalau dikelompokkan gasing-gasing dari berbagai daerah di Indonesia memiliki 3 bentuk: jantung pisang, bulat lonjong dan pulat pipih. Cara memainkannya pun bisa dikelompokkan menjadi 3 kategori: adu putar, adu pukul dan adu bunyi.

Gasing sendiri memiliki makna filosofi berharga bagi generasi muda, misalnya mengapa gasing bisa berputar lama? Hal ini disebabkan karena gasing seimbang. Hal ini mengajarkan kita jika kita ingin memiliki hidup yang panjang, maka hidup kita harus seimbang. Selain itu, keanekaragaman gasing ternyata memiliki kesamaan, yaitu adanya sebuah permainan yang memiliki ciri khas memainkan sebuah benda yang sama, yang bernama gasing. Hal ini juga memberikan makna filosofis keberagaman di Indonesia namun tetap satu Indonesia.

Komunitas Gasing Indonesia berdiri pada tahun 2007 dengan tujuan untuk melestarikan permainan gasing yang semakin terlupakan, dengan cara mengadakan pameran, workshop, atraksi atau main bareng seperti di bazaar-bazaar supaya banyak masyarakat yang mengenal berbagai permainan tradisional Indonesia. Sampai saat ini Komunitas Gasing Indonesia memiliki anggota ratusan orang dari seluruh Indonesia. Anggotanya pun bermacam-macam, mulai dari EO, penulis, wartawan, pengacara, dan lainnya. Siapapun bisa bergabung dengan datang setiap kali ada acara,

Komunitas Gasing Indonesia sendiri merupakan bagian dari Komunitas Gudang Dolanan Indonesia yang bertujuan melestarikan berbagai permainan tradisional Indonesia.

Gudang Dolanan Indonesia berdiri pada tahun 2005. Komunitas ini memiliki sebuah museum kecil berisi berbagai permainan tardisional Indonesia di Taman Serua, Bojongsari, Pondok Petir Depok. Siapa pun dapat datang dan bermain di situ untuk mengenal berbagai permainan tradisional Indonesia. Koleksi permainan tradisionalnya masih didominasi oleh gasing.

Selain museum kecil dan sarana permainan di Depok ini, Gudang Dolanan Indonesia memiliki 4 Kampung Dolanan Nusantara yang berada di Magelang, Tasikmalaya, Prambanan dan Jawa Timur. Adanya Kampung Dolanan Nusantara ini bisa mendekatkan siapa pun yang ingin mengenali berbagai permainan tradisional Indonesia, sehingga tidak perlu jauh-jauh ke Depok.

Endi menambahkan, di Indonesia ada 2500 lebih permainan tradisional, dan baru 740-an yang teridentifikasi. Masih banyak pekerjaan rumah bagi Gudang Dolanan Indonesia untuk mengenal dan mendokumentasikan berbagai permainan tradisional yang merupakan bagian dari kekayaan budaya nusantara, Endi mengakhiri penjelasannya.

 

(BON)