Sel. Des 10th, 2019

Mata Uang Virtual: Bagaimana Dengan Masa Depan ”Cryptocurrency”?

Investor kondang Warren Buffett mengatakan, mata uang digital, seperti bitcoin dan sejenisnya, akan berakhir dengan buruk. ”Secara umum tentang cryptocurrencies, saya bisa katakan dengan keyakinan penuh bahwa semua itu akan berakhir dengan buruk.” Hal itu dia katakan kepada CNBC, Rabu (10/1).

Cryptocurrency merupakan julukan bagi mata uang digital dan penggunaannya hanya lewat internet. Mata uang ini sarat kode atau terenkripsi sehingga sulit atau mustahil diretas.

Ini bukan pertama kali Buffett mengatakan ketidakyakinan pada cryptocurrency. ”Kapan itu terjadi dan bagaimana atau soal lainnya, saya tidak tahu. …Saya tidak akan pernah menaruh uang sepeser pun,” kata Buffett tentang penempatan investasi pada bitcoin dan sejenisnya.

Buffett menambahkan, ”Kami tidak memiliki satu pun dan tidak akan pernah menaruh uang seberapa pun. Kami tidak akan pernah memegang atau mengambil posisi,” ujarnya. Alasannya, bitcoin tidak memiliki nilai instrinsik sama sekali.

”Saya sudah cukup memiliki masalah dengan segala sesuatu yang saya tahu…. Lalu mengapa pula saya mengambil posisi atas sesuatu yang saya tidak tahu sama sekali,” demikian komentar Buffett.

Pernyataannya muncul sehari setelah pimpinan umum JP Morgan Chase Jamie Dimon berubah opini. Dimon sebelumnya menyerang, bahkan menuduh, bitcoin adalah sejenis wadah penipuan. Dia menyatakan menyesal pernah menyatakan hal itu pada 12 September 2017, seperti dikutip CNBC.

”Blockchain itu nyata,” kata Dimon. Dia merujuk pada sistem mata uang virtual, salah satunya bitcoin, yang sarat dengan kode-kode matematis serta pengelolaannya independen dan hanya bisa lewat jaringan internet.

”Anda bisa bisa memiliki cryptodollar dalam denominasi yen dan sejenisnya,” kata Dimon menyinggung mata uang terenkripsi dalam denominasi dollar AS atau yen.

”…Kini bitcoin bagi saya adalah selalu soal bagaimana pemerintah menanggapinya jika sudah berkembang makin besar,” ujar Dimon. Dia tidak lagi menolak eksistensi cryptocurrency (termasuk bitcoin) tetapi semata soal bagaimana pengaturannya.

Sekadar informasi tambahan, Royal Bank of Canada dan Australia and New Zealand Banking Group termasuk mitra dalam transaksi mata uang digital, disebut Interbank Information Network.

Penipuan tak dimungkinkan

Lalu, bagaimana sebenarnya prospek cryptocurrency? Situs majalah Forbes edisi 9 Januari menuliskan, skeptisme sudah melanda bitcoin dan sejenisnya sejak muncul pada 2009. Uniknya, skeptisme yang datang dari pakar investasi tidak menghambat minat peminat bitcoin.

Forbes menuliskan pernyataan Michael Graziano, pendiri Global Degree, salah satu komunitas daring terbesar untuk generasi milenial yang senang melanglang buana. Dia pria termuda Amerika Serikat yang telah berkunjung ke 193 negara di dunia.

Dari perjalanan ini, dia terbawa pengalaman tentang blockchain, sebutan bagi sistem pembayaran, pengelolaan transaksi dengan mata uang digital, seperti bitcoin, ripple, dan etherium. Ada sekitar 1.200 lebih jenis mata uang digital dan pengelolaan transaksinya disebut sebagai blockchain.

BACA JUGA  Foto : Mengenal School Science Center (SSC) Sekolah Pembangunan Jaya

Blockchain juga merupakan basis data daring untuk transaksi dengan mata uang digital. Siapa saja yang tersambung dengan internet dapat memakainya. Basis data tradisional biasanya dimiliki secara terpusat, seperti oleh bank, perusahaan, dan pemerintah. Adapun blockchain bukan milik pihak tertentu, melainkan milik semua dan transaksinya langsung antara orang ke orang tanpa perantara. Pembeli dan penjual langsung bertransaksi tanpa ada pihak ketiga.

”Selain transaksinya dua arah, sistemnya tidak mungkin menjadi ajang penipuan,” kata Graziano. Blockchain menyimpan secara permanen informasi di jaringan komputer pribadi, terdesentralisasi, tercatat di kolom publik di mana setiap orang bisa melihat. Akan tetapi, informasi yang tertera bukan merupakan informasi pribadi, tetapi sarat kode.

Karena animo dan antusiasme atas sistem ini, menurut Graziano, para pemain besar, seperti eBay, Microsoft, Expedia, McDonald’s, dan Subway, mulai menerima bitcoin dan mata uang digital lainnya sebagai alat pembayaran. Pemerintah Swiss menerimanya untuk alat pembayaran pajak. Dubai mengumumkan akan menjadi kota blockchain pertama di dunia pada tahun 2020.

Kepercayaan menjadi inti blockhain seperti dialami Uber, Lyft, dan Airbnb. Akan tetapi, jaringan seperti Uber ini menghilangkan pesaingnya dan meraih semua laba. Di sisi lain, blockchain menciptakan pasar umum di mana orang saling jual beli mobil, rumah, apa saja tanpa perantara. Aplikasi lain akan mengumpulkan semua informasi pribadi. Di blockchain, informasi pribadi kita tidak terbuka untuk publik.

Generasi milenial

Generasi muda menyukai sistem ini. Sebuah survei kecil oleh situs Coin Desk pada 15 Desember 2017 memperlihatkan 77 persen responden berusia muda dan warga AS yakin bitcoin akan terus melejit pada 2018. Untuk pemakaian, 51 persen responden mengatakan akan memakai bitcoin sebagai alat tukar.

Para responden mengatakan tidak suka dengan peraturan berlebihan pada bitcoin karena prinsip utamanya adalah relatif tidak ada aturan dan aturan akan membuat mundur peminat. Hanya 30 persen responden yang setuju dengan peraturan.

Dalam berbagai kesempatan, pengamat bitcoin, Ronnie Moas, pendiri Standpoint Research, pernah mengomentari Buffet yang sudah beberapa kali menegaskan bahwa dia tidak yakin pada bitcoin. ”Buffett sering salah dan dia akan segera mengakui kesalahannya. Lepas dari rasa hormat saya, Buffett bukan ahli tentang Bitcoin,” kata Moas, dalam sebuah wawancara pada 18 Desember.

BACA JUGA  Siswa Belajar Perspektif Karir Masa Depan melalui JA Job Shadow Day Bersama PermataBank

Bukan saja tidak ahli, Buffett sendiri mangakui tidak tahu apa-apa tentang bitcoin dan sejenisnya.

Moas juga mengenang ketika pada September lalu Dimon mengatakan sikap skeptisme pada bitcoin, harga bitcoin jatuh. ”Saat jatuh, saya menyarankan justru beli saat jatuh,” kata Moas tentang Dimon. Dia benar, harga bitcoin naik hingga Desember.

Meski demikian, tetap saja ada kegamangan. Bagaimana masa depan mata uang digital ini? Moas mengatakan, setiap permulaan selalu ada pertanyaan dan kebingungan. Moas tetap pada pendiriannya, bitcoin tidak bisa diabaikan dan akan terus melejit. (REUTERS/AP/AFP)

Dikutip dari harian Kompas, 11 Januari 2018
Penulis: Simon Saragih, Wartawan Senior Kompas

 

 

Baca Juga

You may have missed

Dalam rangka merayakan Hari Belanja Nasional (Harbolnas), Bukalapak meluncurkan kampanye bertajuk Kalap 12.12. Kampanye yang berlangsung 1-15 Desember 2019 ini mengajak masyarakat di seluruh Indonesia untuk kalap berbelanja di Bukalapak karena diskon yang diberikan mencapai total Rp 50 Miliar, ditambah beragam promo, mulai dari diskon langsung, voucher diskon, gratis ongkir, Flash Deal Rp 12, Cashback 99%, hingga kesempatan untuk mendapatkan barang-barang luar biasa seperti Mobil Toko, Ruko, hingga Kos-Kosan seharga Rp 12.000 saja di program Serbu Seru Kalap. “Setiap orang pada dasarnya butuh pelampiasan untuk menyalurkan emosi dan keinginan, termasuk di dalamnya keinginan dan napsu belanja. Oleh karena itu, di momen Harbolnas ini, momen yang sudah menjadi tradisi di dunia belanja online dan selalu ditunggu-tunggu, kami memberikan kesempatan pada seluruh masyarakat Indonesia untuk melampiaskan napsu belanjanya hingga kalap, karena asik menikmati semua promo dan penawaran spesial di Kalap 12.12”, ujar Erick Wicaksono, VP of Marketing Bukalapak. “Untuk menambah semangat agar semakin kalap, Kalap 12.12 juga menghadirkan Serbu Seru Kalap mulai tanggal 10 Desember, di mana para pengguna Bukalapak bisa menyerbu Mobil Toko, Ruko, hingga Kos-Kosan yang tidak hanya luar biasa dan berbeda dari tahun sebelumnya, tapi juga bisa mendorong para penyerbu yang berhasil untuk memulai usaha dan meningkatkan kualitas hidup mereka”, tambah Erick. Informasi lebih lanjut mengenai promo KALAP 12.12 bisa dilihat di bukalapak.com.