Mari Mengenal Penyakit Demensia

Hampir setiap minggu ada berita orang lanjut usia yang  hilang. Sanak saudaranya memposting berita kehilangan kerabatnya di sosmed. Di antara orang lanjut usia yang hilang tersebut menderita  demensia. Apa ciri-cirinya? Dia lupa nama dirinya. Lupa alamat tempat tinggalnya sehingga orang yang menemukan bingung mau mengantarkannya ke mana.

Demensia bukanlah sebuah penyakit namun merupakan suatu gejala yang disebabkan oleh penyakit atau kelainan pada otak. Demensia ditandai dengan terganggunya mental seseorang yang menyebabkan gangguan berpikir dan hilang ingatan. Demensia juga dapat menyebabkan perubahan sifat dan perilaku seseorang.

Banyak penyebab yang membuat seseorang mengalami Demensia, umumnya karena penyakit-penyakit kronik seperti Stroke dan Parkinson. Namun diketahui bahwa penyebab utama seseorang mengalami Demensia adalah penyakit Alzheimer.

Penyakit Alzheimer sendiri adalah suatu kondisi sel-sel saraf di otak mati, yang mengakibatkan sinyal-sinyal otak sulit tersalurkan dengan baik. Hampir sama dengan Dimensia, Alzheimer juga membuat penderitanya mengalami gangguan pada ingatan, penilaian, dan sulit berpikir.

Hingga saat ini, terdapat 1 juta penderita Demensia di Indonesia. Menurut penelitian, pada tahun 2009 lalu kasus penderita Demensia bertambah satu orang setiap 4 detiknya. Menurut perkiraan, pada tahun 2050 akan ada sekitar 3 juta penderita Demensia di Indonesia atau 3,5 persen dari total penduduk. Sementara menurut perkiraan, pada tahun 2050 mendatang kasus Demensia di Asia Pasifik akan mencapai 20 juta insiden pertahun.

Serangan Demensia terjadi secara perlahan namun pasti. Dr. dr. Martina WS Nasrun, Geriatric Psychiatrist dari Alzheimer’s Indonesia mengatakan, Demensia pelan-pelan merampas daya kognitif seseorang hingga pada tahap akhir ia tidak lagi berdaya melakukan apa-apa. “Demensia mengembalikan kondisi kita seperti anak kecil lagi, ibaratnya surut seperti kondisi kita waktu kecil,” terang dr. Martina.

Jalannya kondisi Demensia berproses, memakan waktu kurang lebih 10 hingga 20 tahun lamanya. Rata-rata Demensia menyerang orang-orang lanjut usia di atas 80 namun tidak menutup kemungkinan hal ini bisa terjadi mulai dari usia 40. Demensia juga lebih banyak menyerang perempuan dibanding laki-laki.

Beberapa tanda dan gejala Dimensia adalah terlalu banyak menangis atau terlalu banyak tertawa, pelupa akut bahkan untuk hal-hal yang paling penting sekalipun. Selain itu seringkali merasa kebingungan sedang berada di mana, hari apa, dan sebagainya serta bicaranya tidak lancar atau sulit menemukan kata-kata yang tepat bahkan kata yang sederhana sekalipun.

Gejala lainnya adalah kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari dan perilaku atau mood yang mudah berubah-ubah atau labil.

Cara merawat Orang Dengan Demensia (ODD)

Menjaga atau merawat lansia dengan gejala lupa atau pikun memang bukan perkara mudah. Bahkan tidak bisa disepelekan. Ekstra sabar dan beberapa antisipasi lain untuk mencegah mereka hilang dari rumah harus disiapkan.

Dokter Tara P Sani dari Alzheimer’s Indonesia menyebut ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghindari ‘kehilangan’ orang tua. Pertama, perkara kenyamanan dan keamanan di dalam rumah menjadi hal penting yang harus diperhatikan.

Orang dengan demensia (ODD) di rumah dapat dikenakan gelang tanda pengenal. ODD juga harus tetap dilibatkan dengan berbagai aktivitas, sesuai kemampuannya.

Beri tanda dengan kertas berwarna terang di beberapa sudut-sudut tembok, dan pasang bantalan di sudut-sudut yang tajam. Samarkan pintu, laci, kenop pegangan pintu dan kuncinya untuk mengurangi kecendrungan membuka pintu atau laci.

“Untuk aktivitas sehari-hari, keluarga harus memerhatikan kamar mandi agar tidak licin dan aman. Selain itu, contohkan juga cara menyikat gigi dan menggenggamnya. Bawa ODD ke dokter gigi minimal enam bulan sekali,” katanya.

Dalam berpakaian, batasi jumlah pakaian ODD. Pilih pakaian dengan kancing jepret atau velkro dibanding kancing konvensional. “ODD dengan kecendrungan membuka pakaian di tempat umum, dapat diberikan pakaian berkancing belakang.”

Soal makan, keluarga disarankan untuk memberikannya dalam porsi kecil tetapi sering. Gunakan juga alat makan yang berwarna kontras dengan bahan makan yang mudah digenggam.

Hindari meletakkan gula dan garam di atas meja. Hal ini untuk mengurangi impuls untuk menambahkannya. Keluarga lebih baik menambahkan rempah-rempah yang dapat menambah nafsu makan.

“Agar tidak tersedak, beri makanan yang konsistensinya homogen, seperti kentalkan sup dan jus dengan maizena atau pisang,” ujar Tara.

Mengenai kamar kecil, keluarga harus membuat jadwal rutin ke toilet. Batasi juga asupan cairan menjelang tidur. Sebagai antisipasi, letakkan alas tahan air di bawah seprai dan underpad di atas seprai.

 

(EGS)

Leave a Comment