Mari Berteman…

Banyak penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki teman dan melakukan aktivitas pertemanan akan memiliki kesehatan mental dan kesejahteraan (wellbeing) yang lebih baik. Mempunyai harga diri (self-esteem) lebih tinggi, lebih percaya diri, jarang merasa kesepian, menunjukkan sikap yang lebih positif terhadap kegiatan sekolah, mampu coping secara lebih baik terhadap stres serta cenderung terhindar dari bully yang dilakukan oleh teman-temannya.

Melalui berteman juga akan membantu anak-anak mempelajari kemampuan bersosialisasi (social skills) yang penting, seperti: kemampuan berempati, membangun dan membina relasi, belajar mengontrol diri sendiri, mengembangkan kemampuan berkomunikasi serta belajar bekerja sama dengan anak-anak yang lain.

Perkembangan kemampuan anak dalam berteman

Psikolog Robert Selman telah merumuskan 5 tahap pertemanan anak berdasarkan level usianya. Mengingat tingkat kematangan anak berbeda-beda dan faktor temperamen dapat mempengaruhi pembentukan pertemanan, Selman menyusun tahapan tersebut secara overlap dan bervariasi.

Usia 3-6 tahun
Anak-anak pada tahap ini memandang konsep teman sebagai teman bermain sesaat. Mereka memandang anak lain sebagai teman bila anak tersebut tinggal di dekatnya dan berbagi kegiatan yang serupa. Anak-anak pada tahap ini menyukai gagasan bahwa mereka mempunyai teman dan mereka dapat menyukai anak tertentu sebagai teman dibandingkan anak yang lain, meskipun pertemanan mereka bersifat sementara.

Usia 5-9 tahun
Pada tingkat ini, anak-anak mulai memahami bahwa pertemanan bukan sekedar aktivitas yang sesaat. Mereka mamandang teman sebagai seseorang yang bisa memberikan sesuatu kepadanya, seperti: memberikan kursi di bus/kendaraan, memberikan hadiah, dsb. Pada tahapan ini, anak-anak tidak memikirkan kontribusi apa yang dapat ia berikan pada pertemanan.

Usia 6-12 tahun
Pada tahap ketiga, anak-anak sudah mampu mempertimbangkan sudut pandang dari temannya selain pendapatnya sendiri. Anak-anak mengerti pentingnya berbagi, bergiliran dan sangat concern tentang fairness dalam sebuah hubungan pertemanan. Meskipun begitu, anak-anak yang berada pada tahap ini masih berharap imbalan/balas jasa dari temannya.

Usia 8-15 tahun
Karakteristik pertemanan pada tahap ke-4 yaitu anak-anak sudah saling membantu antara satu dengan yang lain, memecahkan masalah bersama serta saling mencurahkan pikiran dan perasaan. Mereka mengetahui bagaimana berkompromi dengan temannya dan bisa memperlakukan temannya dengan baik. Pada tahapan ini, anak-anak sudah dapat peduli dan memperhatikan kebahagiaan temannya.

Usia 12 tahun ke atas
Pada tahap terakhir, anak-anak menempatkan nilai yang tinggi pada kedekatan emosional dengan temannya. Pertemanan menekankan pada kepercayaan, dukungan dan mereka bisa tetap dekat dengan temannya meski secara fisik terpisah. Anak-anak pada tahap ini dapat menerima dan bahkan menghargai perbedaan antara mereka dan cenderung merasa terancam jika teman-teman mereka memiliki hubungan pertemanan dangan individu lainnya.

Melatih Social Skill Anak

Social skill sendiri dapat diartikan sebagai komponen dari tingkah laku atau satu set kompetensi yang dapat membantu individu memahami dan beradaptasi dengan berbagai setting sosial. Social skills ini akan memungkinkan individu untuk:

  • Menginisiasi dan mempertahankan hubungan sosial yang positif dengan orang lain,
  • Memberikan kontribusi terhadap penerimaan kelompok,
  • Menghasilkan adaptasi yang memuaskan di sekolah, dan
  • Membantu individu melakukan coping secara efektif dengan lingkungan sosial yang lebih besar.

Aktivitas bermain dapat menjadi media untuk mempelajari, melatih dan memperkuat social skill anak-anak. Pembelajaran melalui metode roleplay, modelling dan pemberian reinforcement juga dapat digunakan untuk melatih social skill pada anak-anak. Dengan memperagakan tingkah laku yang berkaitan dengan social skill (misalnya mengucapkan terima kasih, mengakui kesalahan, memperkenalkan diri, mengucapkan salam, memperhatikan ketika orang lain bicara), anak-anak dapat secara langsung mengamati dan mempraktikkan tingkah laku tersebut.

Orang tua, pendamping, guru atau pendidik mempunyai peran yang krusial untuk membantu dan meningkatkan kemampuan bersosialisasi anak. Strategi-strategi berikut dapat digunakan untuk mendukung anak mengembangkan social skillnya:

  1. Secara bertahap mengurangi tingkat dukungan dalam tugas-tugas untuk membantu anak-anak belajar mandiri.
  2. Berinteraksi dengan anak-anak melalui kegiatan, menggunakan pertanyaan dan memberikan pujian atas upaya-upaya mereka agar anak-anak terlibat dalam kegiatan dan proses belajar.
  3. Meminta sekelompok anak untuk menjadi sukarelawan dalam melakukan pekerjaan tertentu.
  4. Mendorong anak untuk menikmati proses belajar.
  5. Berbincang dengan anak-anak mengenai bagaimana seharusnya bertindak di
    waktu-waktu, tempat dan setting tertentu.
  6. Mendorong anak-anak untuk berbicara dengan orang lain tentang apa yang mereka lakukan dan mereka rasakan.
  7. Menggunakan bahasa non verbal, kontak mata dan gesture yang tepat sebagai isyarat untuk anak yang mungkin membutuhkan bantuan.
  8. Memperagakan perilaku self-regulation kepada anak-anak.
  9. Memberikan pengalaman berulang sehingga anak-anak bisa melihat bagaimana tindakan mereka mempengaruhi dunia mereka dan orang-orang di dalamnya, serta melihat diri mereka sebagai individu yang mampu, kompeten dan memiliki kontrol terhadap diri sendiri.

Sebagai penutup dapat disimpulkan bahwa berteman memberikan banyak manfaat bagi anak-anak. Namun untuk menjalin pertemanan secara positif, anak membutuhkan kemampuan-kemampuan khusus yang dibutuhkan dalam bersosialisasi (social skills). Orang tua, pendamping, guru dan pendidik dalam hal ini sangat penting kontribusi dan peranannya agar anak menguasai dan terampil menggunakan social skill-nya.

 

Oleh Supriyanto, S.Psi., M.Si
Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya (UPJ)

Leave a Comment