Sab. Agu 24th, 2019

Lebaran, Momen untuk Berbagi Peran

Lebaran  telah usai. Tapi masih banyak rumah tangga yang ditinggal mudik oleh ART (Asisten Rumah Tangga). Bagaimana jika asisten rumah tangga kita tak kunjung kembali? Lebih sulit bukan, untuk mencari pengganti? Sebenarnya permasalahan seperti ini dihadapi oleh hampir seluruh keluarga yang menggunakan jasa asisten rumah tangga.

Kesulitan tidak ada tenaga yang bisa membantu membereskan rumah, kesulitan mencari pengganti kalau ternyata asisten rumah tangga tidak akan kembali lagi, sampai kesulitan karena biaya pengganti biasanya akan lebih mahal dibanding biasanya. Lalu bagaimana agar kesulitan-kesulitan seperti ini bisa berkurang?

Dalam kondisi serba kepepet seperti ini, biasanya seluruh pekerjaan rumah mau tidak mau dikerjakan sendiri dan kebanyakan dilakukan oleh perempuan. Benar? Padahal akan lebih asyik, kalau dikerjakan sama-sama dengan anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut. Selain banyak manfaatnya, ternyata pekerjaan rumah memang bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan.

Sebetulnya apa saja manfaat dari berbagi pekerjaan domestik dengan seluruh anggota keluarga? Yuk, kita simak!

  1. Mengurangi stress. Tidak bisa dihindari, beban kerja berlebih dapat mengakibatkan seseorang mengalami stress. Begitupula dengan pekerjaan domestik yang tidak kunjung selesai. Jika dalam sebuah keluarga tidak ada pembagian kerja domestik, maka ada kemungkinan tingkat stress yang dialami keluarga tersebut menjadi lebih tinggi dan tidak menutup kemungkinan berakhir dalam sebuah pertengkaran. Pembagian peran dalam pengasuhan (coparenting) dapat membantu mengurangi tingkat stress ayah dan ibu dalam mengasuh anak. Begitu pula dengan pembagian peran tugas-tugas domestik lainnya, yang jika dilakukan bersama dan dibagi secara setara akan mengurangi tingkat stress.
  2. Meningkatkan waktu berkualitas. Perempuan biasanya menghabiskan lebih banyak waktu secara tidak proporsional untuk pekerjaan domestik jika dibandingkan dengan laki-laki karena norma gender yang memandang pekerjaan domestik sebagai pekerjaan perempuan. Hal ini seringkali membuat perempuan memiliki waktu yang lebih sedikit untuk beraktualisasi dan menikmati waktu berkualitas. Dengan adanya pembagian peran dalam keluarga, perempuan dapat menambah waktu berkualitasnya bersama pasangan maupun keluarga, serta untuk mengaktualisasikan dirinya. Kegiatan yang biasanya hanya dilakukan oleh perempuan, dapat dikerjakan bersama-sama, misalnya memasak makan malam bersama.
  3. Meningkatkan kualitas hubungan. Laurie DeRose (2015) melakukan penelitian tentang hubungan antara kebahagiaan keluarga dan pembagian peran domestik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hal terpenting dalam sebuah relasi rumah tangga adalah memiliki seseorang untuk berbagi beban pekerjaan domestik dibanding dengan bagaimana cara beban tersebut dibagi sama rata.
  4. Membantu perkembangan anak secara positif. Berbagi peran domestik juga termasuk berbagi peran pengasuhan dengan pasangan. Bagi pasangan yang telah memiliki anak, pembagian kerja domestik dengan pasangan merupakan salah satu cara pengasuhan positif dan penanaman nilai adil gender sejak dini. Anak belajar cara berinteraksi yang saling menghargai dari kedua orang tuanya. Selain itu, anak juga bisa memiliki keterikatan emosional dengan orang tuanya ketika melakukan pekerjaan domestik bersama-sama. Merupakan nilai tambah, bukan?
  5. Pekerjaan cepat selesai. Ketika melakukan pekerjaan domestik secara bersama-sama, rumah akan menjadi lebih bersih dan rapih dalam waktu yang singkat. Pekerjaan domestik pun terasa lebih ringan dan menyenangkan. Jika sebelumnya membutuhkan waktu seharian untuk membersihkan rumah, dengan berbagi peran waktu pengerjaan tentunya bisa sangat dihemat. Sisa waktu juga bisa digunakan untuk melakukan kegiatan berkualitas lainnya bersama keluarga ataupun pasangan. Menyenangkan bukan?
BACA JUGA  Faktor Penting Untuk Mencapai Kepuasan Pernikahan

Ternyata asisten rumah tangga mudik, justru banyak untungnya juga, ya? Selain bisa semakin romastis dan bahagia, kita juga bisa meningkatkan waktu berkualitas sama anak-anak di rumah.

Penulis:

Jane L. Pietra
Staf Pengajar Program Studi Psikologi
Fakultas Humaniora dan Bisnis
Universitas Pembangunan Jaya

Daftar Pustaka

  • Ferrant, L. M. (2014). Unpaid Care Work: The missing link in the analysis of gender gaps in labour outcomes. OECD.
  • Wahyuningrum, E. (2011). Peran Ayah (Fathering) dalam Pengasuhan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Universitas Kristen Satya Wacana.
  • DeRose, L. (2015, September 23). Parental Happiness and Work-Family Arrangements. Retrieved from Institute for Family Studies: https://ifstudies.org/blog/work-family-single-parents/

Baca Juga

Tinggalkan Balasan