Kompetisi Iptek 3 Menit Jadi Duta Indonesia Dalam Falling Walls Dunia

Pada tanggal 13 September lalu diselenggarakan kompetisi Falling Walls Lab yang diadakan oleh DAAD (German Academic Exchange Service) bekerjasama dengan Universitas Indonesia dan didukung oleh Kementerian Luar Negeri Republik Federal Jerman. Ini merupakan event tahunan yang diadakan untuk ketiga kalinya.

Falling Walls merupakan  platform internasional yang unik bagi para pemimpin dari dunia sains, bisnis, politik, seni, dan masyarakat. Ini terinspirasi dari peristiwa jatuhnya tembok Berlin di negara Jerman pada tahun 1989. Pertanyaan dari setiap pertemuan Falling Walls adalah: Dinding mana yang akan runtuh berikutnya? Falling Walls mendorong diskusi tentang penelitian dan inovasi dan mempromosikan temuan ilmiah terbaru di antara khalayak luas dari semua bagian masyarakat.

Event ini merupakan kompetisi ilmu pengetahuan dengan cara unik yaitu paparan 3 menit dengan bahasa Inggris yang dapat dimengerti oleh masyarakat awam. Untuk Indonesia, tampil sebagai pemenang adalah Dr. I Made Andi Arsana dari Universitas Gadjah Mada dengan judul presentasi Breaking the Wall of Technological Injustice.Percayakah Anda bahwa dosen Teknik Geodesi ini pernah punya IPK 1,2 saat berkuliah dulu. Simak perjalanan hidupnya yang unik di:

http://krjogja.com/web/news/read/31578/Andi_Arsana_Dosen_Favorit_UGM_yang_Sempat_Punya_IP_1_2

Made berhasil menjadi pemenang dari 15 finalis yang berasal dari beberapa kota di Indonesia seperti Medan, Bandung, Banjarmasin, Samarinda, Yogyakarta, Jakarta dan Tangerang.

Dr. I Made Andi Arsana

Sebagai pemenang, Made akan mewakili Indonesia dalam final Falling Walls Lab 2018 di Berlin pada tanggal 8 November 2018 melawan puluhan pemenang Falling Walls Lab dari seluruh dunia. Pemenang juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Falling Walls Lab Conference pada tanggal 9 November yang akan dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dan ilmuwan dari beberapa negara di dunia. Juga mendapatkan hadiah dari EURAXESSberupa kesempatan mengunjungi salah satu lembaga riset ataupun universitas di salah satu negara anggota Uni Eropa yang menjadi pilihan pemenang.

Kriteria peserta

Kompetisi ini  terbuka untuk umum, baik dari segi usia maupun latar belakang pendidikan atau pekerjaan. Dari mahasiswa S1 sampai dengan Postdocs, dari dosen sampai seorang pengusaha, diperkenankan untuk mengikuti kompetisi ini.

Pada kompetisi ini, para peserta ditugaskan memberikan presentasi proyek riset, rencana bisnis atau bisnis yang sedang berjalan atau inisiatif sosial yang kiranya sangat menarik dan bermanfaat bagi masyarakat hanya dalam waktu 3 menit dan hanya dengan 3 halaman slide presentasi Power Point.

Dewan Juri

Presentasi ini dinilai oleh 7 orang juri dengan latar belakang pendidikan dan asal institusi yang berbeda: Leenawaty Limantara, Ph.D. (Rektor Universitas Pembangunan Jaya, alumni DAAD dan Alexander von Humboldt Foundation Ambassador); Simon Grimley (perwakilan EURAXESS regional ASEAN); Ismira Lutfia Tisnadibrata (jurnalis yang dua kali berhasil terpilih mengikuti program „DAAD Press Tour“ pada tahun 2016 dan 2017.

Program ini hanya untuk 15 jurnalis terpilih dari seluruh dunia untuk diundang ke Jerman dan melakukan kunjungan ke beberapa institusi riset, universitas dan lembaga-lembaga lainnya); PD Dr. Habil. Sonja Kleinertz (dosen DAAD di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB); Toto Suharto (Managing Director, PT. Robert Bosch Automotive, lulusan Jerman); Dr. Vishnu Juwono (Kepala kantor Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia) dan Yacinta Esti (Project Manager, ASEAN Farmers‘ Organization Support Program, ASEAN Foundation, alumni DAAD)

Informasi lengkap tentang Falling Walls Lab dapat dibaca di https://www.falling-walls.com/ dan https://www.youtube.com/watch?v=JNx34vFb2A4

(BON)