Kekerasan Anak dan Peran Tenaga Kesehatan untuk Menanganinya

Kasus kekerasan pada anak akhir-akhir ini makin marak terdengar. Menurut data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terjadi kasus kekerasan anak sebanyak 22.109 kasus yang terjadi antara tahun 20112016. Dengan latar belakang inilah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IMC Bintaro mengadakan seminar kesehatan “Peran Orang Tua dan Tenaga Kesehatan untuk Menghindari Kekerasan Pada Anak” pada hari Sabtu, 8 April 2017 di Aula STIKes IMC Bintaro.

Kekerasan pada anak merupakan fenomena gunung es. Kenyataan yang terjadi mungkin lebih banyak daripada angka kekerasan yang dilaporkan. Ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat dan petugas kesehatan dalam melaporkan kejadian kekerasan pada anak. Petugas kesehatan merupakan garda depan yang pertama kali berhadapan dengan pasien di puskesmas dan rumah sakit.

Perlu diketahui bahwa KPAI dan Kemenkes RI sejak tahun 2010 menjadikan puskesmas dan rumah sakit sebagai basis data kekerasan terhadap anak. Hal ini menyebabkan tenaga kesehatan wajib melaporkan kepada pihak terkait. Apabila tidak melapor terdapat ancaman sanksi. Hal ini disampaikan oleh pembicara pertama pada seminar tersebut Bapak Ns. Adin Syaefudin, S. Kep yang merupakan Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Tangsel. Beliau memaparkan bentuk perlindungan hukum bagi petugas kesehatan terhadap pelaporan kasus kekerasan pada anak.

Perlindungan Hukum

Negara kita memiliki dasar hukum perlindungan untuk tenaga kesehatan terhadap kekerasan pada anak. Permenkes no 68 th 2013 mengatur tentang kewajiban pemberi layanan kesehatan untuk memberikan informasi apabila ada dugaan kasus kekerasan terhadap anak. Bila tidak melaporkan maka diancam dengan pasal 108 KUHP dan UU perlindungan anak no 23 th 2002.

Peran Aktif Tenaga Kesehatan

Para petugas kesehatan seperti perawat harus waspada dalam menghadapi kasus kekerasan pada anak. Hal ini disampaikan oleh pembicara seminar yang lain Ibu Maulida Handayani yang juga menjadi dosen Keperawatan Anak UIN kepada para peserta seminar yang mayoritas merupakan mahasiswa STIKes IMC Bintaro. Hal serupa juga diungkapkan oleh pembicara seminar ketiga yakni Ibu Siti Aminah Waluyo, S.Pd. M.Kes (Kaprodi D III Kebidanan STIKes IMC Bintaro

Peran Orang Tua

Di sela-sela seminar Info Bintaro berkesempatan mewawancarai Ibu Royani, S Kep. NSM, Kep yang merupakan Wakil Ketua I Bidang Akademik STIKes RS IMC Bintaro. Beliau mengungkapkan bahwa ada upaya preventif dan kuratif. Yang penting sebenarnya upaya preventif atau pencegahan. Tenaga kesehatan dapat berupaya memberikan edukasi kepada orang tua agar tidak melakukan kekerasan pada anak. Contohnya, bila ada pasien anak yang datang ke UGD rumah sakit, tenaga kesehatan dapat memberikan penyadaran kepada orang tua agar tidak melakukan kekerasan pada anaknya. Hendaknya orang tua memandang anak sebagai bagian dari dirinya, bukan sebagai obyek.

Orang tua harus melihat anak sebagai generasi penerus. Patut diingat bahwa sifat sang anak akan menurun dari orang tuanya. Bila sang orang tua menghendaki generasi berikutnya berperilaku baik, orang tua pun harus memperlakukan anak dengan baik.

 

(EGS)

Leave a Comment