Kangen Suasana Jogja? Silahkan Mampir ke Angkringan D’SO 114

Masih ingat dengan lagu Yogyakarta karya KLA Project? Lagu lawas yang liriknya bercerita tentang kerinduan seseorang akan Jogja, akan suasana dan kesederhanaannya. Memang Jogja bagi siapa pun yang pernah tinggal menetap atau sekedar mampir selalu membuat kangen. Ingat dengan Malioboro, ingat dengan keratonnya, ingat dengan lesehannya dan juga ingat dengan angkringannya. Ya, angkringan adalah salah ikon Jogja yang cukup populer, tidak saja bagi warga Jogja, namun istilah ini cukup dikenal masyarakat Indonesia pada umumnya.

Angkringan (berasal dari bahasa Jawa ‘ Angkring’ yang berarti alat dan tempat jualan makanan keliling yang pikulannya berbentuk melengkung ke atas) adalah sebuah gerobag dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang biasa terdapat di setiap pinggir ruas jalan di Jawa Tengah dan Jogja.

Murah dan terjangkau, itulah 2 kata yang tepat untuk harga makanan dan minuman yang disajikan di angkringan sekali pun dibandingkan antara berbagai kedai makanan yang menjamur di Jogja. Karena murahnya, angkringan menjadi tempat favorit para mahasiswa terutama saat kiriman uang dari orang tua belum tiba. Selain murah,angkringan juga dikenal karena variasi menunya yang beragam. Tidak heran, angkringan pun populer sebagai tempat nongkrong baik bagi para mahasiswa maupun warga Jogja.

Nah bagi Anda yang kangen dengan angkringan dengan aneka makanan dan minumannya, Anda tidak perlu jauh-jauh ke Jogja. Di Bintaro pun ada angkringan yang menyajikan menu khas angkringan. Walau bukan menggunakan gerobak tapi suasananya dibuat mirip dengan suasana kedai makan sederhana di Jogja, begitu pun dengan harga-harga makanannya.  Yuk, kita meluncur ke Angkringan D’SO 114.

 
Angkringan D’SO 114 terletak di Jl. IKPN Bintaro No. 22. Lokasinya hanya berjarak sekitar 100 meter dari kampus Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti. Terletak di lantai 2 sebuah bangunan sederhana, untuk mengaksesnya kita perlu naik tangga kayu. Dari situ kita bisa bersantap sambil menikmati suasananya yang khas Jogja sambil melihat pemandangan di sekitarnya dan merasakan semilir angin karena angkringan ini berkonsep open air. Karena lokasinya yang sangat dekat dengan kampus, angkringan ini juga menjadi tempat nongkrong ideal para mahasiswa/i. Jam buka Angkringan D’SO 114 setiap harinya dari pukul 17.00-22.00.

Angkringan D’SO 114 ini dimiliki oleh 4 sahabat yakni Agus Dwianto, Edwin Yusman, Sakti Setya dan Yophi Hananto. Sebelum membuka di Bintaro pertengahan Agustus 2017, Yophi dan rekannya Adi membuka angkringan di daerah Slipi. Tepatnya di Jl. Sulaiman No.6, RT.2/RW.4 Slipi, Jakarta. Adapun nama Angkringan D’SO 114 diambil dari jumlah ayat di Al-Quran.

Walaupun bernama angkringan, angkringan di sini lebih istimewa dibanding angkringan pada umumnya. Lebih tepat dibilang café daripada angkringan. “Kami memang ingin menaikkan kelas dari angkringan, menjadi lebih elit dengan suasana café,” jelas Agus Dwianto kepada Info Bintaro. Walaupun bersuasana cafe, namun soal harga, harga-harga makanan dan minuman di sini sangat terjangkau, bahkan untuk ukuran kantong mahasiswa sekalipun. “Dengan mengeluarkan Rp. 15 ribu saja, pengunjung bisa makan kenyang di sini,“ sambung Agus.

Menu-menu yang disajikan di sini adalah berbagai makanan yang lazim dijual di angkringan seperti nasi kucing dengan varian tempe, jamur, teri atau telor, nasi bakar, gorengan, sate usus (ayam), sate telur puyuh, keripik, tempe bacem, tahu bacem, ceker ayam dan lain-lain. Ditambah aneka minuman seperti teh jahe, teh tubruk, kopi jahe, wedang uwuh dll. Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau.

Bagi yang masih asing dengan istilah nasi kucing, nasi kucing yang dalam bahasa Jawa disebut dengan sego kucing adalah makanan khas dari Yogyakarta, Semarang, dan Solo di mana porsinya sedikit, ditambah sambal, ikan dan tempe serta dibungkus daun pisang. Kata “nasi kucing” berarti “nasi untuk kucing”, karena porsinya yang kecil. Kata tersebut berasal dari kebiasaan masyarakat Jawa yang memelihara kucing dan memberikan makanan untuk peliharaannya dengan porsi kecil.

Menu makanan favorit di sini apalagi kalau bukan nasi bakar yang murah dan mengenyangkan. Uniknya, nasi bakar dan aneka satenya bisa dipanggang sendiri di atas anglo (tungku arang) yang terbuat dari tanah liat. Sambil menunggu nasi bakar dan sate matang dibakar, kita bisa ngobrol-ngobrol santai dengan rekan atau kekasih. O ya, anglonya bisa kita taruh di meja di hadapan kita lho! Jadi bukan anglo yang dipakai beramai-ramai.

Untuk minuman, yang menjadi favorit dari pengunjung Angkringan D’SO 114 adalah wedang uwuh. Wedang uwuh adalah minuman khas Jogja dengan bahan-bahan yang berupa dedaunan mirip dengan sampah. Dalam bahasa Jawa, wedang berarti minuman, sedangkan uwuh berarti sampah. Pada awalnya wedang uwuh masih dalam bentuk bahan utuh berupa rempah-rempah asli, namun seiring perkembangan zaman dan kebutuhan akan kepraktisan. Saat ini wedang uwuh sudah dikembangkan menjadi dalam bentuk instan, maupun bentuk celup.

Wedang uwuh disajikan panas atau hangat memiliki rasa manis dan pedas dengan warna merah cerah dan aroma harum. Rasa pedas karena bahan jahe, sedangkan warna merah karena adanya secang. Minuman ini sangat cocok dinikmati saat malam hari apalagi pada cuaca yang dingin.

Nasi Bakar
Wedang Uwuh
Sayap Ayam
Ceker Ayam
Kepala Ayam
Sate Telor Puyuh
Sate Kulit
Sate Ati Ampla
Sate Kerang
Jadah Bakar
Tungku Arang Untuk Membakar Nasi dan Sate
Tempe Bacem
Tahu Bacem
Bakwan

 
Nah, sangat menarikkan? Dimana lagi kita bisa menemukan tempat makan yang seasyik ini. Bernuansa akrab khas Jogja, berbagai makanan dan minuman yang enak dan mengenyangkan, harga-harganya pun sangat murah. Yuk…ditunggu ya…

Info lebih lanjut:

Angkringan D’SO 114
Jl. IKPN Pesanggrahan Bintaro Jakarta Selatan
Facebook: @dso.angkringan
Twitter: @dsoangkringan
Instagram: @dsoangkringan114
WA: 0858-9270-4842

 

(EGS)