Jamming dan Food Bazaar 2017, Ajang Pengembangan Bakat Siswa World Heritage Music Academy

“Practice make perfect” demikian satu ungkapan yang sering kita dengar mengenai pentingnya berlatih untuk mengembangkan kemampuan yang kita miliki. Hal inilah yang diamini oleh World Heritage Music Academy (WHMA), sebuah sekolah musik yang berlokasi di Ruko Sentra Menteng, CBD Bintaro Sektor 7.

Untuk memberikan kesempatan para siswanya untuk unjuk kemampuan mengaplikasikan teori dan praktek yang telah diperoleh sepanjang kegiatan belajar mengajarnya, WHMA menggelar kegiatan Jamming dan Food Bazaar 2017, yang berlangsung pada hari Minggu, 16 Juli 2017 di bagian depan WHMA.

Acara yang berlangsung dari pukul 10.00 – 14.00 ini diisi dengan penampilan para siswa/i-nya dalam grup-grup yang menampilkan berbagai lagu-lagu dari dari para musisi yang telah dikenal secara luas. Di sela-sela jam session ini diadakan juga bazaar. Jam session sendiri merupakan kegiatan rutin dari WHMA yang berdiri pada 30 Mei 2014 sebagai bagian dari pengembangan kemampuan para siswanya.

Aura Hendrayani, S.E., Ketua Yayasan WHMA menjelaskan jam session merupakan ajang menampilkan kemampuan para siswa setelah belajar sekian lama di WHMA. “Dengan tampil di depan umum, walaupun masih dalam lingkup internal WHMA, para siswa akan memiliki mental yang lebih baik, tidak demam panggung, sehingga saat mereka terjun sebagai musisi entah itu dalam lingkup yang terbatas maupun sebagai musisi profesional, mereka sudah terbiasa.” Sebagai informasi, WHMA memiliki siswa sekitar 70 orang.

WHMA memiliki berbagai kursus musik, meliputi Piano Pop Jazz, Flute, English Horn, Electric Bass, Vocal, Saxophone, Oboe, Guitar, Drum, Clarinet, Cello & Violin. Para siswanya memiliki rentang usia yang beragam, dari 6 tahun sampai dengan 60-an tahun. Latar belakang profesinya pun beragam, dari siswa, mahasiswa, profesional, sampai dengan ibu rumah tangga. Almarhum Prof. Sarlito Wirawan Sarwono, adalah salah seorang  tokoh yang pernah merasakan tangan dingin pengajar-pengajar WHMH dengan belajar saxophone dari nol di usia yang cukup senja.

Pada jam session, masing-masing siswa yang belajar skill yang berbeda pada kelas yang berbeda berkolaborasi dalam grup-grup musik. Walaupun masih terlihat kecanggungan dari beberapa siswa yang tampil, namun upaya dari WHMH patut diacungi jempol. Beberapa siswa bahkan menampilkan teknik permainan alat musik yang bisa dikatakan cukup baik bagi anak-anak seusia mereka.

Drs. Hary Wisnu Yuniarta, B.Mu, Ed.M.A., Kepala Sekolah WHMA yang juga seorang musisi dan pemegang berbagai record memainkan saxophone menyampaikan, pengajar-pengajar WHMA merupakan pengajar profesional yang memiliki kemampuan bermusik yang baik. Kebanyakan pengajar berusia 30-40 tahun, sehingga memiliki cukup jam terbang dalam bermusik. Sistem pengajaran di WHMA membangun kedekatan antara pengajar dan siswa, baik siswa biasa mau pun siswa berkebutuhan khusus.

Tak terasa, jarum jam telah menunjukkan pukul 14.00, satu demi satu siswa dan keluarganya beranjak meninggalkan area WHMA. Sampai ketemu pada jam session berikutnya.

 

(EGA)

Leave a Comment