Jakarta Sibs Club, Wadah Berbagi Antar Sesama Saudara Kandung dari Individu Autistik

“Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan di keluarga seperti apa, namun kita bisa memilih untuk menjalani kehidupan yang seperti apa”, ungkapan ini sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari untuk mengingatkan orang yang menyesali latar belakang kehidupan yang ia peroleh. Memang sebagai manusia, wajar bila semua orang menginginkan hal yang terbaik dalam hidupnya. Namun sayangnya kenyataan kehidupan seringkali tidak seindah yang diharapkan. Berbagai hal yang menurut kita sebagai hal yang negatif menjadi alasan untuk menyesali keadaan. Namun seperti apa yang dinyatakan ungkapan itu, yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani kehidupan yang kita peroleh.

Berawal dari bincang-bincang antara 3 orang yang memiliki saudara kandung individu autistik, Dera Desintha, Amri Priyadi dan Bagus Nusihono memiliki ide untuk menggalang komunitas yang bisa mempertemukan orang-orang yang memiliki saudara kandung individu autistik. Individu autistik adalah orang-orang yang mengalami autisme berupa gangguan perkembangan saraf yang kompleks dan ditandai dengan kesulitan dalam melakukan interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku terbatas, berulang-ulang dan karakter stereotip.

Kiri – kanan : Amri Priyadi, Dera Desintha, Bagus Nusihono

Mereka sepakat menjadi saudara kandung dari individu autistik merupakan kenyataan hidup yang berat, namun mereka pun sadar mereka tidak bisa lari dari kenyataan. Sebagai saudara kandung dari individu autistik selain mengalami beban moral mereka pun memiliki tanggung jawab untuk mengasuh saudara kandungnya. Tidak main-main, tanggung jawab ini akan melekat seumur hidup mereka, utamanya saat para orangtuanya sudah tidak ada (baca: meninggal).

Merasakan menanggung beban sendiri amatlah berat, mereka pun sepakat berkumpul bersama orang-orang yang mengalami situasi yang sama memiliki dampak positif dengan mereka bisa berbagi pengalaman dan saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Tidak hanya itu, dengan adanya komunitas mereka pun bisa memperoleh berbagai pengetahuan dalam menyikapi keberadaan mereka dan bisa membuat mereka lebih bijak dalam menjaga saudara kandungnya sebagai individu autistik.

Tanggal 21 Mei 2017 pun dipilih sebagai tonggak kelahiran komunitas yang diberi nama Jakarta Sibs Club ini. Nama Jakarta dipilih walaupun mereka berdomisili di wilayah Bintaro dan sekitarnya karena mereka ingin menjangkau orang-orang seperti mereka di seputaran Jabodetabek.

Amri menjelaskan, sebetulnya animo untuk bergabung di komunitas ini cukup tinggi, hal ini terbukti saat mereka akan mengadakan kegiatan pertamanya berupa sesi berbagi (baca juga : Mengajak Memahami Saudara Kandung Sebagai Individu Autistik, Komunitas Jakarta Sibs Club dan Rumah I’m Star Menggelar Sesi Berbagi). Antusiasme tidak hanya datang dari wilayah Jabodetabek, mereka sempat mendapat pertanyaan dari orang yang berdomisili di Bandung apakah kegiatan serupa juga akan diadakan di Bandung. Tidak heran, karena menurut Amri di Indonesia belum ada komunitas seperti ini sampai dengan saat ini (Agustus 2017).

Walaupun usianya masih seumur jagung, Jakarta Sibs Club telah memiliki rencana-rencana kegiatan. Amri melanjutkan, kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh Jakarta Sibs Club terbagi menjadi 3 kategori, Sesi Berbagi yang akan dilakukan secara rutin setiap 2 bulan, Sesi Curhat yang rencananya akan berupa hangout bareng dan Kampanye Sosmed yang akan menggandeng berbagai penyedia layanan terkait autisme, baik dari pemerintah maupun swasta.

Untuk bergabung di Jakarta Sibs Club tidak ada persyaratan tertentu, termasuk biaya. Cukup dengan aktif di sosmed-sosmed Jakarta Sibs Club, seperti Instagram @jakartasibsclub dan Facebook dengan akun Jakarta Sibs Club, Anda akan mendapatkan berbagai informasi terkait kegiatan Jakarta Sibs Club dan Anda bisa mulai berpartisipasi. Selain itu Anda juga bisa mendapat informasi mengenai komunitas ini dengan mengakses website : www.jakartasibsclub.net

Akhirnya, keberadaan komunitas ini merupakan angin segar bagi orang-orang yang memiliki saudara kandung individu autistik dan perlu didukung oleh semua pihak. Dengan peranan komunitas ini selain menjadi tempat berbagi dari beratnya hidup sebagai saudara kandung individu autistik, juga bisa membuat pemahaman masyarakat akan autisme menjadi lebih baik.

 

(EGA)

Leave a Comment