Sen. Jan 20th, 2020

Investasi 2018: Emas, Saham atau ”Cryptocurrency”?

Warga Bintaro, tahun baru sudah kita lewati sebulan. Investasi pada beragam instrumen di sektor finansial sangat menarik dicermati. Terlebih lagi, biasanya pada awal tahun terjadi ”bongkar pasang” portofolio investasi untuk memaksimalkan investasi.

Kenapa harus maksimal? Karena kinerja sejumlah instrumen investasi tersebut untuk mempersiapkan kebutuhan di masa depan, seperti biaya sekolah, uang muka rumah, atau sekadar berwisata ke tempat impian.

Meski hasil kinerja masa lalu belum tentu merefleksikan hasil di masa depan tetapi faktanya kinerja pasar uang sepanjang tahun 2017 cukup cemerlang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) misalnya, naik 19,9 persen dan mencetak rekor tertinggi pada posisi 6.355 pada akhir tahun lalu.

Sementara itu, kinerja pasar obligasi tidak kalah menariknya. Indeks harga obligasi pemerintah tumbuh sekitar 16,68 persen, dan obligasi korporasi memberikan imbal hasil sekitar 14 persen.

Indeks saham pun tetap melaju walau investor asing merealisasikan keuntungannya sekitar Rp 40 triliun. Kenapa? Karena dana itu kecil jika dibandingkan kapitalisasi pasar. Pada 29 Desember 2017, hari terakhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017, kapitalisasi pasar mencapai Rp 7.052 triliun.

Dana investor asing di pasar surat berharga juga semakin besar. Hingga akhir 2017, kepemilikan investor asing pada surat berharga negara (SBN) mencapai Rp 814 triliun (46,36 persen), belum termasuk investasi di pasar obligasi negara syariah.

Sepanjang tahun 2017, pertumbuhan kepemilikan SBN oleh investor asing mencapai 24 persen atau bertambah Rp 157,5 triliun. Tahun 2016, pertumbuhan SBN oleh investor asing ”hanya” 19 persen.

Indeks saham dan obligasi menguat didukung membaiknya perekonomian global dan stabilnya perekonomian dalam negeri. Inflasi yang terjaga juga membantu penguatan indeks. Kenaikan peringkat dari pemeringkat besar serta penurunan suku bunga perbankan membuat saham dan obligasi menjadi pilihan menarik untuk membiakkan aset.

Banyak juga saham yang harganya bertumbuh melampaui kinerja indeks saham, seperti saham PT Unilever Tbk yang dalam satu tahun lalu naik 33 persen, atau harga saham PT Bank Central Asia Tbk yang naik sekitar 53 persen pada 2017.

Produk turunan instrumen di pasar keuangan, yakni reksa dana, juga membukukan kinerja yang bagus. Berdasarkan data dari Infovesta Equity Fund Index, rata-rata reksa dana saham membukukan kenaikan 11,25 persen tahun lalu.

Faktanya, ada investor yang mengeluhkan kinerja sebagian reksa dana saham yang di bawah kinerja IHSG. Namun sebaliknya, ada pula kinerja reksa dana saham yang jauh di atas indeks, seperti reksa dana Eastspring Investments Value Discovery, dengan imbal hasil 23 persen.

Sementara indeks reksa dana pendapatan tetap, berdasarkan data Infovesta tumbuh 10,92 persen. Indeks reksa dana campuran tumbuh 9,52 persen, dan reksa dana pasar uang sebesar 4,48 persen.

Kinerja emas

Bagaimana dengan komoditas seperti emas? Kinerja emas sangat berkilau sepanjang tahun 2017. Melihat data dari situs Logam Mulia milik PT Aneka Tambang Tbk yang menyediakan emas batangan bersertifikat, ada kenaikan 25,75 persen dari awal tahun hingga akhir tahun lalu. Harga emas pada akhir tahun tercatat Rp 630.000 per gram.

BACA JUGA  Asyiknya Punya Jadwal Kursus Fleksibel

Pada tahun 2018, para analis memperkirakan pasar saham masih akan tetap melaju. Tahun politik identik dengan semakin banyak uang beredar. Pertumbuhan ekonomi biasanya berjalan lebih cepat. Perusahaan pun masih terus berekspansi.

Pada tahun politik, beberapa pekerjaan lebih banyak dilakukan dibandingkan tahun yang sepi peristiwa politik. Bayangkan, dengan 171 pemilihan kepala daerah pada pertengahan tahun ini, berapa banyak kaus yang harus dicetak. Belum lagi penunjang kampanye, seperti pencetakan buku, selebaran, dan spanduk. Juga pendukung lain, seperti penginapan dan transportasi.

Pemilihan kepada daerah di provinsi padat penduduk, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, yang menempati porsi 30 persen ekonomi Indonesia akan mendorong perputaran roda ekonomi nasional lebih cepat.

Penghasilan tambahan

Masyarakat kelas menengah bawah biasanya mendapatkan penghasilan tambahan jika terlibat dalam kampanye pilkada. Mereka yang akan mendapatkan tambahan penghasilan dan kemungkinan dibelanjakan untuk membeli kebutuhan dasar, seperti bahan makanan juga rokok.

Tahun depan, Asian Games pun digelar di Palembang, Sumatera Selatan, dan Jakarta. Tayangan iklannya akan mendongkrak pendapatan emiten-emiten media. Lagi-lagi, kebutuhan makanan dan akomodasi juga lebih banyak dari hari biasa.

Mencermati faktor-faktor tersebut, sektor saham yang dapat dipertimbangkan untuk dapat memberikan hasil baik tahun depan antara lain saham-saham konsumsi. Karena kenaikan uang beredar juga memperbaiki daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah bawah, setelah sempat terpukul oleh kenaikan harga yang diatur pemerintah, seperti listrik.

Kabar baiknya, tahun ini pemerintah berjanji tidak akan menaikkan harga energi. Selain itu, dalam anggaran 2018, pemerintah pun lebih banyak mengalokasikan dana sosial untuk menopang daya beli masyarakat.

Kenaikan harga minyak mentah, yang juga turut mengerek kenaikan harga komoditas lain, seperti batubara dan sawit, membuat saham-saham pada sektor ini pun dapat dilirik pada tahun 2018.

Sementara itu, pasar obligasi diperkirakan masih memberikan hasil yang baik tahun ini walaupun tidak sebaik tahun lalu. Kecenderungan bank sentral lain di negara maju menurunkan suku bunga membuat pasar obligasi domestik harus bersaing untuk menarik pemodal masuk.

Suku bunga yang lebih tinggi di Amerika Serikat, misalnya, bisa jadi akan membuat investor lebih tertarik menanamkan investasinya di sana.

Reksa dana yang berbasis saham dan obligasi pun akan mengikuti kecenderungan pada aset yang menjadi dasarnya yaitu saham dan obligasi.

”Cryptocurrency”

Sepanjang 2017, demam cryptocurrency seolah melanda dunia. Berbagai kisah sukses dari orang yang membeli cryptocurrency pada harga rendah dan menjualnya pada harga tinggi terdengar dari berbagai belahan dunia. Semakin banyak orang tertarik mencoba peruntungan pada cryptocurrency ini.

Dalam waktu kurang dari dua tahun, laman transaksi cryptocurrency yang paling populer di Indonesia tercatat sudah memiliki sekitar 800.000 anggota, jumlah ini sudah mendekati jumlah kepemilikan rekening efek yang saat ini sekitar 1,1 juta rekening.

Yang harus dipahami, fluktuasi harga cryptocurrency sangat tinggi. Dalam waktu singkat harga cryptocurrency, seperti bitcoin, dapat naik, tetapi dalam beberapa menit turun lagi. Pada akhir Desember lalu, dalam satu hari harga berbagai jenis cryptocurrency turun drastis hanya dalam hitungan menit.

BACA JUGA  Sinkronkan Industri dan Pendidikan, Japfa Dirikan Teaching Farm di Universitas Syiah Kuala, Aceh

Apakah cryptocurrency dapat dimasukkan menjadi salah satu alternatif investasi pada tahun ini? Jawabannya sangat beragam, tergantung dari keadaan masing-masing orang. Sebelum membeli cryptocurrency, harus disadari bahwa mata uang digital ini berisiko tinggi, dan tidak memiliki alasan fundamental untuk naik atau turun.

Jika memang siap dengan fluktuasi harga tinggi dan cepat, dan siap kehilangan dana yang ditempatkan pada pasar cryptocurrency, mungkin komoditas ini cocok dimiliki. Jika tidak siap dengan kehilangan uang karena gonjang-ganjing harga, lupakan pasar uang digital ini.

Transaksi cryptocurency ini tidak dijamin siapa pun, termasuk pemerintah. Bahkan Otoritas Jasa Keuangan sedang mencermati transaksi mata uang digital ini. Intinya, jika ada kerugian karena transaksi cryptocurrency, maka ditanggung sendiri oleh mereka yang bertransaksi.

Kelas aset mana yang dipilih, tentunya perlu disesuaikan dengan kebutuhan. Saham tentu cocok untuk digunakan sebagai sarana investasi jangka panjang meski berisiko tinggi. Sementara obligasi cocok untuk investasi jangka menengah hingga panjang dengan risiko lebih rendah dari saham.

Produk-produk reksa dana dapat pula dimanfaatkan seturut aset dasarnya. Reksa dana saham untuk investasi jangka panjang, reksa dana campuran untuk menengah panjang, reksa dana obligasi untuk menengah panjang, dan reksa dana pasar uang untuk jangka waktu pendek di bawah satu tahun.

Selamat berinvestasi.

Penulis: ANASTASIA JOICE TAURIS SANTI
Dikutip dari Kompas, 6 Januari 2018

 

 

Baca Juga