Sel. Okt 15th, 2019

Investasi 2018: Demam Bitcoin, Aset Digital, Jangan Sampai Demam Sungguhan

Semakin hari, semakin banyak orang berbicara tentang cryptocurrency, mata uang maya yang tidak tampak. Kenaikan aset cryptocurrency yang luar biasa juga menarik khalayak ramai. Walau tentu saja, pembelian aset itu ada risikonya.

Persoalannya, tidak sedikit orang yang memandang enteng risiko dari kenaikan harga itu. Padahal, membeli cryptocurrency, termasuk bitcoin, tanpa perhitungan matang, tanpa memahami risikonya, sama saja dengan menggarami laut. Uang kita bisa hilang tanpa bekas di belantara digital.

Cryptocurrency merupakan bentuk uang digital yang dirancang aman juga anonim. Mata uang ini diciptakan dengan mengunakan kriptografi, proses mengubah informasi menjadi kode-kode yang tidak dapat dipecahkan, untuk melacak pembelian barang juga perpindahan uang melalui transfer dana.

Munculnya cryptocurrency berawal karena keperluan komunikasi yang aman ketika terjadi Perang Dunia Kedua. Di era digital ini, cryptocurrency juga melibatkan teori matematis dan komputerisasi untuk menjadi saluran komunikasi yang aman.

Mata uang digital ini memungkinkan penggunanya melakukan pembayaran dan menyimpan uang tanpa memperlihatan identitas atau menggunakan jasa perbankan.

Akibatnya, ada penyalahgunaan, seperti menggunakan cryptocurrency untuk transaksi ilegal seperti membeli senjata, narkotika, pencucian uang, dan aktivitas gelap lainnya. Penyebar virus Wannacry, misalnya, meminta tebusan yang dibayar dengan cryptocurrency bitcoin. Penarik tebusan sulit dilacak.

Uang digital pertama yang muncul adalah bitcoin pada tahun 2009 dan kini ada sekitar 1.300 cryptocurrency di pasaran. Pada saat awal diciptakan, harga bitcoin sangat rendah, hanya beberapa dollar AS saja. Namun, pada Sabtu (16/12) lalu, nilainya Rp 250 juta. Sempat pula mencapai Rp 300 juta.

Tahun 2017, harga cryptocurrency bitcoin naik hingga 1.600 persen. Popularitasnya terus menanjak. Asal tahu saja, pencarian paling populer di mesin pencari Google tahun 2017 adalah bitcoin.

Uang yang tidak dapat dipegang ini dapat diperoleh dengan cara menambang. Yang dimaksud dengan menambang adalah menggunakan komputer dan menghitung alogaritma rumit dan mendapatkan bitcoin. Cara lain adalah membeli melalui beberapa penjual daring.

Penjual cryptocurrency daring yang cukup besar di Indonesia adalah Bitcoin.co.id. Menurut beberapa sumber, transaksi mata uang digital di laman tersebut sempat mencapai Rp 1,2 triliun dalam satu hari. ”Saya tidak bisa men-disclose, membukanya,” ujar CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan ketika ditanya mengenai volume transaksinya.

BACA JUGA  Tips Memilih Homeschooling Untuk Anak

Ada sekitar 15 cryptocurrency yang diperdagangkan di laman tersebut. Memang, kapitalisasi pasar terbesar adalah bitcoin. Pada Sabtu pagi, perputaran transaksi bitcoin sebesar Rp 260 miliar.

Untuk membelinya, pembeli dapat mentransfer dana ke rekening perusahaan Bitcoin.co.id juga dapat membeli voucer yang disediakan oleh beberapa exchanger penyedia voucer.

Untuk menghindari penyalahgunaan transaksi bitcoin untuk hal negatif, pembeli di laman tersebut diminta melakukan verifikasi dengan mengunggah KTP dan foto diri.

Sebagian besar peminat mata uang digital bertransaksi dengan cepat, sebagian lagi disimpan dalam jangka panjang dengan harapan aset digital itu akan naik di kemudian hari.

Risiko tinggi

Mata uang digital dapat digunakan sebagai alat pembayaran juga sebagai komoditas. Sebagai alat pembayaran, ada banyak toko di luar negeri yang menerima bitcoin.

Sebelumnya, pemegang bitcoin harus memiliki tempat penyimpanan bitcoin, yaitu dompet elektronik. Melalui dompet elektronik ini, pemegang bitcoin dapat membayar transaksi-transaksinya.

Bank Indonesia sudah mengeluarkan ancang-ancang untuk melarang penggunaan cryptocurrency sebagai alat pembayaran. Menurut rencana, larangan itu diberlakukan tahun depan melalui aturan BI.

Sebaliknya, mulai 1 Mei lalu, Jepang mengakui mata uang digital sebagai alat pembayaran yang sah. Jepang merupakan negara pertama melakukan hal tersebut.

Menurut Oscar, keputusan Jepang membuat transaksi mata uang digital, termasuk di Indonesia, meningkat pesat. ”Karena dengan ada negara yang melegalkan secara penuh, itu membuat peta ekosistem berubah menjadi lebih baik,” ujarnya.

China melarang penawaran cryptocurrency dan menutup penjualan cryptocurrency. Harga cryptocurrency sempat anjlok tetapi kembali menguat.

Para ekonom memperkirakan, cryptocurrency ini tidak akan stabil, bubble, dan suatu saat gelembung akan meletus. Heri Januar, salah seorang pemegang cryptocurrency, mengatakan, cryptocurrency ini sedang membentuk gelembung besar. ”Pilihannya adalah melihat dari jauh bubble itu meletus atau mengikuti dan menikmati gelombangnya,” ujarnya.

Dapat terjadi, bubble cryptocurrency khususnya pada bitcoin. Tanda-tanda gelembung besar sudah ada ketika harga bitcoin naik pesat dan semakin banyak orang yang tertarik.

”Cryptocurrency memang fenomenal. Kehadirannya tentu akan memengaruhi pilihan investasi dari investor ritel, bukan investor institusi,” kata ekonom Manulife Asset Management Indonesia, Katarina Setiawan. Dia juga mengingatkan pembeli mata uang digital itu supaya memahami benar risiko ketika memutuskan untuk membeli cryptocurrency.

BACA JUGA  Cara Sukses Mendidik Anak Agar Memiliki Mental Juara

Memperdagangkan atau menyimpan cryptocurrency memang berpotensi memberikan hasil besar. Namun, potensi hasil besar ini dibarengi juga dengan risiko yang tidak kalah besarnya.

(Dikutip dari Harian Kompas, 16 Desember 2017)

 

Baca Juga