Heavy Metal Parents: Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an

Ketika popularitas heavy metal menanjak di kancah budaya populer dunia pada era 1980-an, kaum muda di Indonesia mengonsumsi musik ini sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap nilai-nilai sosial, politik, dan budaya Orde Baru.

Mereka pula yang pada masa selanjutnya bangkit dan menunjukkan karakteristik jati diri yang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, termasuk mendorong Reformasi 1998. Ketika generasi metalhead 1980-an sekarang memasuki usia paruh baya, apakah pemaknaan mereka terhadap konsumsi musik heavy metal mengalami perubahan seiring dengan perkembangan waktu dan pertambahan usia?

Apakah pemaknaan mereka ikut berubah ketika dunia tak lagi perlu dilawan dengan kepalan tinju, ideologi tidak selalu disikapi secara garang, estetika teriakan dan raungan distorsi gitar bersahutan dengan rengekan manja anak dan segala urusan keluarga, dan rambut yang dulu gondrong kini cepak dan diwarnai uban keperakan,? Seperti apakah pola pengasuhan anak yang dikembangkan dan dipraktikkan dalam keseharian oleh “orang tua metal”? Bagaimana identitas masa muda sebagai “anak metal” beradaptasi dengan tugas perkembangan yang kini beralih pada merawat generasi berikut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut diulas dalam buku “Heavy Metal Parents: Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an” yang diterbitkan oleh Penerbit Octopus Yogyakarta sekitar sebulan lalu. Ditulis oleh Yuka Dian Narendra dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Matana dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo dosen Psikologi Universitas Pembangunan Jaya, buku yang menguak kisah tentang generasi metalhead 1980-an dalam memaknai konsumsi mereka terhadap metal dan konstruksi identitas kultural mereka.

Buku ini merupakan kontribusi yang penting bagi pengembangan pemikiran tentang budaya populer Indonesia dan dinamikanya, khususnya untuk subkultur heavy metal yang selama ini belum banyak dibahas di ranah arus utama (mainstream).

Dr. Muhammad Faisal, pendiri Youth Laboratory Indonesia, biro riset yang fokus pada studi psikografi, trend, pengetahuan dan budaya anak muda Indonesia, menyebut buku ini “wellcrafted, saintifik, menggelitik dan nostalgic.” Dalam kata pengantar yang ia berikan, dirinya menyebutkan bahwa buku ini merupakan salah satu karya penting dalam memahami perkembangan generasi muda di Indonesia.

Buku yang berbasis penelitian ini merupakan jawaban terhadap kegelisahan generasi pra-reformasi dan kebingungan generasi setelahnya dalam melihat perkembangan ‘Anak Metal’ di Indonesia. Pendekatan studi budaya dan psikologi membuat buku ini menjadi mudah direlasikan dengan fenomena di sekitar kita.

Lebih jauh lagi, Muhammad Faisal berpendapat bahwa menyongsong  peristiwa penting berupa ‘bonus demografi’ yang akan terjadi pada tahun 2035, buku ini sangat dibutuhkan untuk dalam menyusun peta maupun cetak biru kultur pop serta subkultur generasi muda Indonesia. Tak bisa dipungkiri jumlah demografi anak muda Indonesia pada tahun 2035 menjadi sebuah kekuatan kultural yang sangat masif secara regional di Asia maupun secara global. Sayang sekali apabila saat momen itu tiba, kita hanya menjadi target pasar bagi negara lain. Sudah saatnya kita mereklaim kembali budaya anak muda Indonesia.

Dalam membahas budaya tersebut, buku ini menawarkan sudut pandang tentang identitas sebagai sesuatu yang cair – di mana hal-hal yang di permukaan seolah-olah saling bertentangan ternyata toh bisa padu. Buku ini menawarkan ‘jendela’ untuk melihat isu identitas sebagai Indonesia yang bhinneka, topik yang relevan terutama menjelang pemilihan Presiden tahun 2019 mendatang. Ketika semua pihak sibuk dalam riuh rendah mengibarkan bendera identitas, buku ini dapat membantu menghadapi hiruk pikuk tersebut dengan waras.

Penulis: Yuka Dian Narendra & Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Penerbit: Octopus Publishing Yogyakarta
Pemesanan buku: octopuspublishingyk@gmail.com