Sel. Jun 25th, 2019

Hari Gizi Nasional Indonesia 25 Januari 2018

Masih lekat di ingatan kita bencana kesehatan di Asmat yakni sebanyak 24 anak di Asmat meninggal akibat campak dan gizi buruk dalam empat bulan terakhir. Jumlah korban bisa bertambah karena Pemerintah Kabupaten Asmat masih melakukan pendataan.

Rasanya sangat kontras dengan Hari Gizi Nasional di Indonesia diperingati setiap tahunnya pada tanggal 25 Januari. Sebenarnya pentingnya gizi dalam kehidupan sudah diperkenalkan oleh Bapak Gizi Indonesia almarhum Prof. Poorwo Soedarmo sejak awal kemerdekaan.  Persoalan gizi buruk di Indonesia masih menjadi masalah yang harus ditangani serius oleh pemerintah. Masalah gizi yang sedang dialami Indonesia bukan disebabkan oleh kurangnya produksi bahan dasar pangan suatu daerah. Persoalan utama justru terletak pada faktor perilaku masyarakat dalam konteks memilih, mengolah, dan menyajikan makanan.

Yayasan Balita Sehat Indonesia, sebagai organisasi yang konsen terhadap persoalan gizi buruk anak balita mempunyai program yang terencana setiap tahun melalui pendidikan anak usia dini (paud) dan orang tua murid. Mereka diberikan perhatian khusus terhadap perkembangan kesehatan gizinya dan orang tua murid juga diberikan pengetahuan tentang makanan sehat terutama kontrol terhadap makanan yang dibawa ke sekolah.

Kemudian setiap 6 bulan sekali para orang tua murid diberikan post test pengetahuan gizi untuk mengukur pengetahuan gizi yang dapat diserap oleh para orang tua. Di tahun 2016, kegiatan test yang kemudian diberi nama GOM (Game of the Month) diadakan pada bulan Desember untuk orang tua murid di Cipete Jakarta Selatan dan Bojonggede Kab. Bogor.

Stunting Bisa Dicegah, Catatan Hari Gizi Nasional Tahun 2018

“…Percuma memperingati Hari Gizi tiap tahun toh masalah gizi tidak selesai-selesai juga…”

Menurut saya pernyataan di atas kurang tepat, keliru malah, bagi saya peringatan Hari Gizi merupakan momentum yang sangat baik untuk menyampaikan pesan kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa saat ini negara kita masih memiliki pekerjaan rumah yang sangat besar yaitu persoalan gizi masyarakatnya.

Menurut salah seorang senior di Penggiat Gizi, beliau berkomentar bahwa “…Presiden memperkuat infrastruktur tapi SDMnya memble. Gara-gara kurang gizi (masyarakat) jadi cuek dan gak mampu berpikir cerdas…” pernyataan ini sangat menohok karena pembangunan infrastruktur harusnya sejalan dengan pembangunan SDM dan faktor gizi wajib hadir di dalam pengambungan SDM.

BACA JUGA  Proses Pembuangan Racun Dalam Tubuh Manusia

Tema Hari Gizi Nasional Tahun 2018

Hari Gizi Nasional (HGN) Tahun 2018 ini masih mengangkat tema besar yang sama dengan tema tahun lalu tetapi sub temanya berubah.

Tema HGN 2017-2019 yaitu Bersama membangun gizi menuju Bangsa sehat berprestasi

Sub Tema HGN 2018 ialah Mewujudkan Kemandirian Keluarga dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk Pencegahan Stunting.

Slogan HGN 2018 : Bersama Keluarga Kita Jaga 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)

Peta Stunting di Indonesia

Dalam buku Ringkasan 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) diungkapkan bahwa Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun.

Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) 2006. Sedangkan definisi stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah anak balita dengan nilai z-scorenya kurang dari -2.00 SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari – 3.00 SD (severely stunted).

Penyebab Stunting

Balita Kerdil atau Stunting tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita, akan tetapi disebabkan oleh multi dimensi secara umum beberapa penyebab stunting ialah praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan. Masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan) Post Natal Care dan pembelajaran dini yang berkualitas. Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi. Hal ini dikarenakan harga makanan bergizi di Indonesia masih tergolong mahal serta kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.

Stunting bukan tidak mungkin dicegah atau bahkan dikoreksi yang dibutuhkan ialah penguatan kerjasama antara program dan lintas sektor karena masalah stunting adalah masalah SDM Bangsa Indonesia yang akan datang.

BACA JUGA  Mengapa Bayi Perlu Dipijat?

Sumber :

Ringkasan 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). 2017. Tim Nasional Percepatan Penaggulangan Kemiskinan

 

Baca Juga