Evaluasi Diri dengan Segenap Hati

Saat ini kita menjelang akhir tahun 2018. Sudah selayaknya kita melakukan evaluasi diri mengenai apa saja yang telah kita kerjakan di tahun ini dan merencanakan apa yang akan kita capai di tahun mendatang.

Memang pada hakekatnya manusia menghubungkan waktu (time) yang telah berlalu dengan pengalaman dan memori tentang pengalaman itu sendiri. Hal ini menciptakan persepsi tentang waktu, yang kemudian dihubungkan erat dengan kegiatan perencanaan dan pengambilan keputusan.

Salah satu contoh nyatanya adalah bahwa menjelang akhir tahun atau awal tahun, kita terdorong untuk memikirkan ulang segala kegiatan dan keputusan yang telah dilaksanakan di sepanjang tahun yang sudah berlalu. Selain itu, muncul pula pikiran-pikiran mengenai konsekuensi, tanggung jawab atau tantangan yang akan dihadapi di tahun mendatang.

Pikiran-pikiran seperti ini bukanlah sesuatu yang perlu dihindari tetapi justru perlu dipertahankan karena mendorong kita untuk melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Evaluasi diri sangatlah penting bagi kehidupan seorang individu untuk memastikan bahwa ia berada pada jalur kehidupan yang tepat.

Tujuan hidup, perilaku, hubungan interpersonal dan performa kita dalam pengerjaan tugas atau tanggung jawab adalah beberapa hal yang perlu dievaluasi demi menjadi lebih baik dan berkembang secara optimal. Selain itu, evaluasi juga dapat memperdalam pemahaman terhadap sebuah pengalaman dan membuka berbagai pilihan kehidupan yang sebelumnya tidak disadari.

Terlepas dari berbagai keuntungan yang dimunculkan, evaluasi diri adalah juga kegiatan yang paling sering dihindari. Kita cenderung sengaja mengabaikan atau sengaja terdistraksi untuk melakukan kegiatan lain yang dianggap lebih tidak mengancam. Mengancam? Ya, mengancam.

Evaluasi diri menghasilkan penilaian terhadap diri sendiri tanpa membuka kesempatan untuk menghilangkan data, perasaan atau pendapat yang kita miliki. Linangan air mata yang turun ketika menonton film animasi khusus anak-anak, rasa cemburu terhadap mantan pacar yang sudah punya pacar lagi atau perasaan kecewa dengan prestasi anak adalah hal-hal yang mungkin tidak pernah diakui atau diungkapkan, namun individu yang bersangkutan mengetahui fakta yang sesungguhnya terjadi.

Intinya, kita terikat dengan semua pengetahuan ada tentang diri kita sendiri. Oleh karena itu, evaluasi diri harus dilakukan dengan tepat agar dapat berjalan dengan optimal dan berdampak positif pada perkembangan diri.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan evaluasi diri agar memunculkan hasil yang bermakna. Hal pertama adalah bahwa kegiatan ini harus dilakukan dengan sengaja dan dipersiapkan. Waktu dan tempat adalah dua kebutuhan dasar. Sediakan waktu dan tempat secara khusus untuk melakukannya. Bila memerlukan alat bantu, sediakan terlebih dulu, misalnya alat tulis atau agenda sebagai pengingat kegiatan.

Kadang kala kita perlu menggali informasi terlebih dahulu dari orang-orang tercinta di sekitar kita atau orang-orang yang kita anggap penting dalam kehidupan. Apakah mereka mendukung cara berpikir dan keputusan-keputusan yang pernah kita ambil di masa lalu atau mereka memiliki pendapat yang berbeda.

Perhatian berikutnya adalah pada target dari evaluasi diri itu sendiri. Target evaluasi diri yang jelas akan membantu kita memfokuskan perhatian pada sifat, sikap atau perilaku yang ingin dievaluasi. Dengan demikian, kita tidak akan tenggelam ke alam memori dan sibuk menikmati ingatan-ingatan masa lalu saja.

Proses evaluasi diri perlu dijalani dengan sikap yang positif terhadap diri sendiri namun membuka kesempatan kepada respon spontan kapan saja. Terlebih lagi bila kita melakukan evaluasi ini sendiri. Sering kali kita terjebak pada penilaian “biasa-biasa saja” terhadap diri sendiri dan malu mengakui kelebihan atau kelemahan kita, bahkan kepada diri sendiri.

Pada kesempatan ini bangunlah dialog dengan diri sendiri dengan mempertanyakan perasaan dan pikiran tentang berbagai keputusan penting yang telah diambil. Apakah keputusan-keputusan tersebut ideal, baik, aman, terburu-buru, emosional atau bahkan bodoh?

Hargailah penilaian pertama yang muncul ketika mengingat sebuah tindakan atau keputusan. Bila kita merasa keputusan di masa lalu adalah keputusan yang bodoh, galilah faktor-faktor yang mendukung munculnya keputusan tersebut sehingga muncul tindakan korektif yang dapat dilakukan untuk memperbaiki situasi atau mencegah terulangnya pengambilan keputusan yang serupa.

Jangan lupa juga untuk melakukan proses yang sama terhadap keputusan yang tepat. Berilah pujian kepada diri sendiri untuk tindakan tersebut dengan tetap memperhatikan faktor-faktor yang mendukung pembentukannya.

Evaluasi diri tidak berhenti ketika kita sudah berhasil mengidentifikasi keberhasilan, kegagalan serta faktor-faktornya tetapi juga termasuk dengan pembuatan rencana perkembangan diri selanjutnya. Setelah mengetahui apa saja kelemahan dan ancaman yang ada, kita juga mendapatkan pengetahuan tentang berbagai minat dan kesempatan yang terbuka atau terlewatkan selama ini.

Mengejar kemajuan karir, mempelajari keterampilan baru, melakukan terminasi hubungan percintaan atau mengambil kesempatan berwirausaha adalah mungkin beberapa hal yang perlu dipikirkan untuk mendapatkan orientasi baru terhadap kehidupan selanjutnya.

Dengan bekal evaluasi diri, kita tidak gegabah menentukan arah kehidupan maupun tindakan yang akan diambil di masa depan. Terlebih lagi bila keputusan-keputusan penting tersebut berlawanan dengan rencana atau dugaan kita selama ini.

Pemahaman yang kokoh terhadap diri sendiri akan menjadi informasi yang tak lekang oleh waktu dan justru menjadi dasar kekuatan tersendiri untuk menjalani kehidupan. Dengan demikian, evaluasi diri tidak lagi menjadi momok di akhir tahun seperti ini tetapi menjadi sebuah proses personal yang membebaskan dan memuaskan.

Penulis:
Veronica Kaihatu
Dosen Program Studi Psikologi
Fakultas Humaniora dan Bisnis Universitas Pembangunan Jaya

Daftar Referensi:

Hancock, P. A. & Block, R. A. (2014). The Psychology of time: a view backward and forward. (Artikel). Diperoleh dari https://www.researchgate.net/publication/230809358_The_Psychology_of_Time_A_View_Backward_and_Forward

Pelusi, N. (2004, 1 April). Assesing yourself, honestly. (Artikel). Psychology Today. Diperoleh dari https://www.psychologytoday.com/us/articles/200404/assessing-yourself-honestly.

Lipman, V. (2013, 16 Januari). How to make employee reviews constructive, not demotivating. Psychology Today. Diperoleh dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/mind-the-manager/201301/how-make-employee-reviews-constructive-not-demotivating