Edisi Spesial Sumpah Pemuda : Sumpah Pemuda Generasi Millennial Jaman Now

Sembilan puluh tahun lalu, tepatnya 28 Oktober 1928, sejumlah pemuda Indonesia mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Di secarik kertas yang ditulis Moehammad Yamin termuat cita-cita bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu: Indonesia. Saat itulah imajinasi bangsa (national imaginary) pertama kali dideklarasikan.

Baca juga: Mengenal Museum Sumpah Pemuda

Hari itu, pemuda berbagai etnis menomorduakan keinginan jadi nomor satu sendiri dan tidak memutlakkan diri sendiri. Karena itulah, bangsa Indonesia lahir. Ketika sejumlah individu merelakan kepentingan pribadi (self-interest), maka kepentingan lebih besar yaitu bangsa dapat tercapai.

Bagaimana dengan pemuda Indonesia jaman now?

Generasi Millennial

Kini di tahun 2018, kita mengenal generasi usia 20-an sebagai millennial. Lahir antara tahun 1982-2003, generasi ini dikenal memiliki ambisi, kepercayaan diri dan optimisme.

Karakteristik generasi millennial di antaranya adalah mencari keseimbangan dunia kerja dan dunia di luar pekerjaan, mengejar gaji dan tunjangan (good pay and benefits), mencari kesempatan pengembangan diri (opportunities for advancement), mengharapkan pengalaman kerja bermakna (meaningful work experience) dan mendambakan lingkungan kerja yang memberi bimbingan (a nurturing work environment).

Temuan di atas menyimpulkan bahwa dalam bekerja, generasi millennial memprioritaskan hal-hal individualistik. Karena lahir saat dunia sarat pilihan, mereka tumbuh sebagai generasi transaksional, cenderung tidak loyal serta mudah mengeluh. Time Magazine menahbiskan generasi ini sebagai generasi digital addict dan narsis – The Me Me Me Generation.

Khusus Indonesia, generasi ini disebutsebagai Generasi Phi karena dipandang, seperti lingkaran, merekalah yang menyempurnakan siklus generasi pengubah Indonesia. Sedikit berbeda, Sebastian dan Amran (2016) bersama Youth Lab menyebut mereka dengan label Generasi Langgas.

Baca Juga: https://swa.co.id/swa/review/book-review/generasi-langgas-di-mata-yoris-sebastian

Simak video ulasan tentang buku Generasi Langgas di https://www.youtube.com/watch?v=dzOEU-HnAeA

Mengambil lini masa berbeda, generasi millennial Indonesia adalah mereka saat reformasi 1998 masih di bawah 10 tahun, tak merasakan hidup serba terkungkung ala Orde Baru serta mengalami transisi analog ke digital.

Generasi ini sering dianggap serba irasional. Maklum, mereka lahir saat situasi sosial politik riuh dengan perkembangan digital, radikalisme, korupsi dan pasar bebas. Generasi ini bebas memilih baik pendidikan maupun pekerjaan.

Dapat disimpulkan, ada banyak penelitian memotret generasi millennial. Yang jelas generasi ini punya karakteristik unik dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Karakter generasi merupakan predikat kolektif yang diwariskan dari para pendahulu-pendahulu.

Kembali ke Sumpah Pemuda, bagaimana generasi millennial Indonesia meneruskan semangat Sumpah Pemuda?

Sumpah Pemuda dan Generasi Millennial

Sejak 1928-2018, Indonesia banyak berubah dan akan terus berubah. Saat Indonesia menikmati bonus demografi tahun 2020-2030, generasi millennial berperan. Dengan 84 juta millenial Indonesia, 23 persen pemuda di ASEAN ada di negara ini.

Kreativitas dan inovasi merupakan penanda generasi ini, diungkapkan utamanya media sosial berkat koneksi internet tanpa jeda. Jika dulu isu kebangsaan didiskusikan dalam Kongres Pemuda, kini semuanya gaduh di media sosial. Sayangnya, teknologi lebih banyak digunakan untuk mengonsumsi, sedangkan untuk produktivitas masihlah langka.

Di tengah berbagai versi realita, tak heran generasi saat ini mengalami kebingungan. Keluarga memiliki peran yang tepat untuk menumbuhkan nasionalisme dan menolak intoleransi. Selain keluarga, tempat kerja juga perlu merumuskan kembali misi organisasi agar generasi milenial terlibat dalam tujuan sosial dan bukan sekedar profit.

https://www.youtube.com/watch?v=WDKDj7LPRvk

Kesimpulan

Di akhir tulisan ini, maka dapat disimpulkan bahwa apabila keluarga maupun tempat kerja dapat melibatkan generasi milenial pada aktivitas sosial kemanusiaan – termasuk isu kebangsaan – dengan memanfaatkan teknologi untuk kreativitas dan inovasi, maka semangat Sumpah Pemuda tetap hidup sampai hari ini.

Penulis:

Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Dosen Program Studi Psikologi
Fakultas Humaniora dan Bisnis Universitas Pembangunan Jaya

Referensi

  • Breazaele, R. (2014). The millennial generation: Transforming today’s corporate workforce. DIpublikasikan di Psychology Today 21 Agustus.
  • Foulcher, K. (2000). Sumpah pemuda: The making and meaning of a symbol of Indonesian Nationhood
  • Noreen, C. (2015). “Are millennials really the “Go-Nowhere” generations”?” Journal of the American Planning Association 81:2, 90-1003, DOI: 10.1080/01944363.2015.1057196.
  • Faisal, Muhammad. (2017). Generasi phi: Memahami milenial pengubah Indonesia. Jakarta: Penerbit Republika.
  • Hershatter A., & Epstein, M. (2010). “Millennials and the world of work: an organization and management perspective.” Journal of Business Psychology Vol. 25: 211-223 DOI 10.1007/s10869-010-9160-y.
  • Sasongko, B.J. (2017). Sumpah Pemuda dan generasi milenial. Dipublikasikan di Kontan 30 Oktober.
  • Sebastian, Y., Amran, D. & Youth Lab. (2016). Generasi Langgas Millennials Indonesia. Jakarta: Gagas Media.
  • Stein, J. (2013). Millennials: The me me me generation. Dipublikasikan di Time Magazine 20 Mei.
  • Suseno, F.M. (2008). Etika kebangsaan, etika kemanusiaan: 79 tahun sesudah Sumpah Pemuda. Yogyakarta: Impulse.
  • Ng, E.S.W., Schweitzer, L. & Lyons, S.T. (2010). “New generation, great expectations: A field study of the millennial generation.” Journal of Business Psychology Vol. 25: 211-292 DOI 10.1007/s10869-010-9159-4.
  • Wilson, M. & Gerber, L.E. (2000) “How generational theory can improve teaching: Strategies for working with the “Millennials” Currents in Teaching and Learning. Vol. 1, No. 1, Fall 2008