Dekke Naniura, Menu Istimewa Para Raja Batak Tempo Dulu

Bangsa Indonesia memiliki budaya yang begitu kaya dan tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain. Bila Bangsa Jepang memiliki menu Sushi, yang sekarang cukup ‘ngetren’ di Indonesia, berupa ikan yang tidak dimasak, Bangsa Indonesia juga memiliki menu dari ikan yang tidak dimasak, yaitu Dekke Naniura.

Dekke Naniura merupakan masakan yang berasal dari Tapanuli Utara. Dulunya, Dekke Naniura ini hanya dibuat khusus bagi para raja-raja Batak. Namun, pada zaman sekarang Dekke Naniura sudah bisa dinikmati oleh banyak orang, bahkan bisa ditemui di tempat-tempat tertentu. Walaupun begitu, Dekke Naniura tetap dianggap hidangan eksklusif, hal ini terlihat pada acara-acara seperti pernikahan atau arisan, jarang kita bisa menemukan Dekke Naniura disajikan. Karena kelezatannya, ada lagu berjudul Tabo do Dekke Naniura (Nikmatnya Dekke Naniura) yang diciptakan untuk menggambarkan kenikmatan menu satu ini.

Di dalam bahasa Batak, dekke berarti ikan, sedangkan naniura itu di artikan tidak dimasak. Dekke Naniura adalah masakan yang terbuat dari ikan yang berbumbu disajikan dengan tanpa ada proses memasak menggunakan api, tetapi dengan dimasaknya dengan dalam bumbu air jeruk asam yang berbahan dasar jeruk jungga. Umumnya ikan yang digunakan adalah ikan mas, namun tidak jarang juga digunakan ikan nila merah.

Proses pembuatannya, ikan mas atau nila mentah, dibersihkan terlebih dahulu dari duri dan lendir. Kemudian, dimatangkan dengan cara merendamnya dengan air jeruk jungga. Air asam dalam jeruk jungga dapat memasak atau lebih tepatnya mendenaturasi protein pada daging ikan sehingga kolagennya terputus dan dagingnya menjadi empuk setelah direndam selama kurang lebih 3-4 jam, selain itu pH rendaman air asam membunuh parasit, kuman dan bakteri yang terdapat dalam daging ikan.

Melalui proses ini, kualitas protein pada ikan menjadi lebih utuh karena tidak terkena api sama sekali. Tidak direbus, tidak digoreng, tidak dibakar, tidak diasap, dan tidak terkena panas api sama sekali. Ikan yang digunakan berukuran kecil, supaya proses pematangannya sempurna.

Untuk bumbunya, ada 10 bumbu yang digunakan, yaitu bawang merah, bawang putih, cabe merah keriting, ketumbar, kemiri, kunyit, jahe, lengkuas, kecombrang, andaliman dan garam. Kekhasan Dekke Naniura ini terletak pada bumbu kecombrang dan andalimannya. Kecombrang memberikan rasa segar dan harum, sedangkan andaliman memberikan rasa menggigit pada lidah. Andaliman ini bumbu khas dari Tapanuli, kita sulit menemukan di tempat lain, kecuali di tempat-tempat khusus yang menjual bumbu masakan Tapanuli. Bumbu-bumbu ini kemudian dihaluskan dan dioleskan pada ikan mas atau nila yang telah matang oleh perendaman air asam.

Karena tidak melalui proses pemasakan, daging ikannya terasa sedikit kenyal, dikombinasikan dengan rasa gurih plus menggigitnya rasa andaliman, membuat kenikmatan tersendiri. Makan pun sambil berkeringat.

Tidak heran, karena proses pembuatannya yang agak lama, Dekke Naniura ini dihargai lebih mahal daripada masakan-masakan Tapanuli lainnya.

Di Bintaro, kita bisa menemukan Dekke Naniura di Dapur Ni Huta (baca juga : Dapur Ni Huta, Tempat Memuaskan Rasa Rindu Dengan Masakan Ompung di Kampung). Di Dapur Ni Huta kita bisa menikmati Dekke Naniura dengan bandrol Rp. 45 ribu. Harga ini terhitung murah, di tempat lain Dekke Naniura bisa dihargai Rp. 60 ribuan. Namun dibanding dengan kenikmatannya, harga segini bisa dikatakan sangat pantas. Tertarik?

 

(ES)

Leave a Comment