Chic-Chat & Workshop #2 Permata Bank

Banyak orang yang memiliki cita-cita ingin memiliki bisnis sendiri. Dalam pekerjaan sehari-hari sebagai karyawan kita sering mendengar orang mengatakan kepingin punya usaha. Mungkin kita sendiri pernah terlintas pikiran seperti itu. Ya siapa sih yang tidak kepingin punya usaha sendiri, pendapatan besar, waktu kerja fleksibel, tidak tergantung kepada perusahaan tempat bekerja dengan segala permasalahannya, tidak menunggu tanggal gajian malah menggaji orang. Namun, dari sekian banyak orang yang punya keinginan memiliki usaha, mungkin hanya sedikit yang akhirnya betul-betul mendirikan usaha. Alasannya banyak, misalnya tidak punya modal, tidak tahu usaha apa yang bisa dijalankan, dsb.

Ukke Kosasih, CEO dan pendiri Circa HandMade, memberikan pencerahan kepada para peserta Chic-Chat & Workshop #2 Permata Bank yang bertema Berinvestasi Kini Buat Masa Depanmu, bahwa membangun sebuah bisnis tidak berarti harus memiliki modal yang besar, yang terpenting kita punya batu pijakan yang kuat yang sebetulnya bersumber dari diri kita sendiri.

Acara yang berlangsung pada Kamis, 20 April 2017 di Serumpun Heritage Foods & Drinks, Bintaro Xchange Mall ini menghadirkan narasumber Ukke Kosasih, Tri Utami Kusumawardani, Head Investment Specialist Permata Bank, serta Sabai Dieter Morscheck, seorang artis sinetron dan film layar lebar. Acara ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian Chic-Chat & Workshop Permata Bank yang bertujuan untiuk memberdayakan wanita.

Ukke Kosasih membuka sesi pertama dengan menceritakan awal berdirinya Circa HandMade. Circa HandMade berdiri pada tahun 2006 di Cihanjuang, Bandung. Beberapa tahun sebelumnya, Ukke yang saat itu masih berprofesi sebagai karyawati sering mengamati para ibu-ibu yang bekerja, berangkat tergopoh-gopoh dengan rol rambut yang masih tergelung di rambutnya sambil mengemudikan mobil menuju tempat kerjanya. Ia melihat, betapa sulitnya di Jakarta menjadi wanita yang bekerja. Ukke yang merupakan sarjana antropologi dari Universitas Indonesia kemudian mulai memikirkan kemungkinan untuk membangun usaha sendiri., sehingga ia tidak mesti mengalami pengalaman para ibu-ibu bekerja seperti yangsering dilihatnya, selama bertahun-tahun.

Sambil tetap bekerja, ia semakin intens memikirkan kemungkinan usaha yang ingin dibangunnya. Akhirnya ia memilih usaha pembuatan boneka. Alasannya sederhana, pertama, ia menyukai urusan jahit menjahit. Kedua, ia melihat boneka banyak disukai orang. Ia bercermin dari sebuah perusahaan boneka internasional yang menjadi besar dengan hanya memproduksi boneka barbie.

Saat kembali ke kampung halamannya di Bandung, ia melihat banyaknya ibu rumah tangga yang kehidupannya sulit. Mereka tidak bisa keluar dari jerat kemiskinan karena tidak adanya jalan karena rendahnya pendidikan dan kemiskinan turun temurun. Ukke pun akhirnya memiliki ide untuk mengembangkan bisnis pembuatan boneka dengan memberdayakan para wanita di sana.

Ukke menceritakan, awalnya pun ia mengalami situasi kebutuhan dana bagi usaha yang dibangunnya. Ia memutuskan tetap bekerja sambil pelan-pelan ia mengembangkan Circa HandMade. Untuk modal, ia menggunakan uang yang diperolehnya dari menyisihkan pendapatannya sebagai karyawati sebesar 20 juta. Ternyata, sampai Circa memperoleh order pertamanya, hanya menghabiskan dana 3 juta rupiah lebih.

Berbagai tips dijelaskan oleh Ukke untuk memberikan motivasi kepada para peserta bagaimana membangun dan mengembangkan usaha. Hal terpenting menurut Ukke adalah usaha yang dibangun haruslah usaha yang kita sukai. Selain itu jika memungkinkan usaha itu harus memberikan dampak kepada orang lain. Salah satu tips berharga yang dibagikannya adalah bagaimana ia memberdayakan para wanita untuk membuat boneka-boneka. Prinsip keterbukaan ia terapkan, termasuk dalam hal keuangan. Setiap orang akan terpacu untuk menghasilkan lebih karena mereka tahu apa yang akan diperolehnya jika ia bekerja di bawah standar, sesuai standar atau lebih dari standar. Hal -hal tersebut menjadi modal kesuksesannya hingga saat ini: Circa Handmade kewalahan memenuhi order-order boneka dan aksesorinya, pesanan mengalir deras bahkan datang dari berbagai negara.

Pada sesi selanjutnya, Head Investment Specialist Permata Bank, Tri Utami Kusumawardani, menjelaskan berbagai produk Permata Bank yang cocok bagi wanita yang ingin mengembangkan usaha. Pada sesi terakhir, Sabai Dieter Morscheck membagikan pengalamannya mengatur keuangan rumah tangga di keluarga kecilnya. Keseluruhan rangkaian acara pun berakhir menjelang pukul 17.30. Sampai jumpa pada Chic-Chat & Workshop #3 Permata Bank, yang memiliki tema yang sangat menarik “Bekerja atau Bisnis Sendiri?” pada 15 Agustus 2017, dengan narasumber Jezzie Setiawan, pendiri & CEO gandengtangan.org.

 

(BON)

Leave a Comment