Sab. Agu 24th, 2019

Celebrity Worship dan K-Pop (Dalam Rangka Konser Super Junior di Indonesia)

Super Junior, boyband asal Korea Selatan, dijadwalkan menggelar konser di Tangerang 15 Juni mendatang. Bagi penggemar setia K-Pop, kabar dari promotor Mecima Pro tentang konser Super Show 7s (SS7s) ini disambut meriah.

Tak sedikit dari penggemar Super Junior yang kerap disapa ELF mengaku tak sabar bertemu dengan Leeteuk dan kawan-kawan ini. “SERIUSSSSAN??? OPPAAAA I’M COMING,” komentar salah satu penggemar. “WOILAAAAH APA KATA GUE ADA SS7S KHAAAAN,” sambung penggemar lain. “Hayukkk yang belom izin suami, izin dari sekarang… Kalo perlu ajak suami ke venue juga…. Wkwkwk. TERIMA KASIH Min Promotor yang sudah berhasil membawa para ahjussi kita ini kembali ke rumahnya… We love youu,” kata penggemar yang lainnya.

Para penggemar bahkan sudah mempersiapkan segala macam merchandise, seperti lighstick Super Junior atau bisa disebut Super Bong, lalu handband, slogan setiap nama member dan tentunya uang untuk membeli tiket SS7s yang akan datang. Para ELF saat ini sudah membuat grup untuk ELF yang berada di luar kota yang nantinyaakan sama-sama menonton konser SS7s di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City.

K-Pop memang sebuah fenomena di blantika budaya populer Indonesia. Memang adapersamaan antara budaya Indonesia dan Korea. Penampilan fisik para artis-artis Korea ini juga dekat dengan kultur Indonesia.Cerita-cerita yang terdapat dalam drama Korea mampu menggambarkan secara nyata karakteristik masyarakat Asia secara umum.

Budaya Korea dan Indonesia sama-sama bersifat kolektivis, yaitu menekankan norma sosial dibandingkan individualitas. Semua persamaan ini membentuk cultural proximity atau kedekatan kultural antara dua negara. Tak heran apabila terjadi preferensi yang lebih kuat terhadap budaya pop Korea dibandingkan budaya-budaya pop Barat.

Para penggemar memainkan peran penting dalam K-Pop. Di dunia maya, penggemar K-Pop terang-terangan menyatakan rasa cinta menggunakan fungsi mention langsung ke akun Twitter sang idola, maupun dengan posting ke berbagai blog maupun forum khusus penggemar. Contoh reaksi para penggemar Super Junior pun memunculkan ekspresi yang kurang lebih serupa. Penggemar dengan perilaku seperti ini dikenal dengan istilah bahasa Korea sebagai sasaeng fans.

Lebih jauh lagi, perilaku penggemar K-Pop cukup lumayan unik yaitu: bersikap berlebihan, gila, histeris, obsesif, adiktif, konsumtif dengan menghambur-hamburkan uang membeli merchandise idola atau tiket konser, sampai mengejar idola hingga ke belahan dunia manapun alias menjadi stalker, termasuk sampai mencium dan mengancam untuk menikahi sang idola. Hal ini terlihat dari fanatisme yang ada pada situs Asian Fans Club.

Psikologi mengenal apa yang disebut sebagai pemujaan terhadap selebriti atau celebrity worshipyaitu perilaku obsesif individu untuk selalu terlibat dalam kehidupan selebriti yang digemarinya sehingga terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari individu tersebut.

Hal ini juga muncul dalam bentuk pemujaan terhadap orang yang terkenal secara luas dan menarik perhatian publik dan media. Dapat dilihat bahwa fenomena penggemar K-Pop di atas selaras dengan definisi Maltby dkk (2006) tentang celebrity worship.

Lebih jauh lagi, celebrity workship memiliki tiga tahap yaitu entertainment-social, intense-personal, dan borderline-pathological. Tahap pertama yaitu entertainment-socialadalah ketika penggemar melakukan pencarian aktif melalui media dengan tujuan sebagai hiburan atau mengisi waktu luang karena tertarik pada bakat, sikap, perilaku serta pencapaian si idola.

BACA JUGA  Waspada Pelecehan Seksual Pada Anak!

Di tahap ini, penggemar senang dan memandang penting membicarakan idolanya kepada orang banyak, maupun dengan sesama penggemar. Alasan melakukan kegiatan seperti ini adalah karena aktivitas seperti ini sesuai dengan  norma sosial dan memungkinkan dirinya untuk lari dari realitas (fantasy-escape from reality).

Berikutnya adalah tahap intense-personal adalah dimana individu merasakan perasaan yang intensif, kompulsif dan mendekati obsesif terhadap idola. Tahap ini ditandai dengan kebutuhan untuk mengetahui hal apa pun tentang idola tersebut. Selain itu, adanya empati yang membuat penggemar merasa memiliki ikatan khusus sehingga ikut merasakan apapun yang dialami oleh idola tersebut. Contohnya adalah penggemar yang ikut merasa gagal ketika idolanya kalah.

Adapun tahap terakhir adalah borderline-pathological. Tahap ini adalah ketika penggemar memiliki fantasi irasional dan tidak terkontrol bahwa dirinya punya kedekatan khusus. Di tahap ini, penggemar bersedia melakukan apa pun demi idola termasuk melanggar hukum. Apabila dirinya sampai berada dalam kesulitan, si penggemar yakin bahwa sang idola akan memberikan bantuan.

Tahap terakhir ini adalah tahap yang paling pelik. Di tahap tersebut, penggemar membangun identitas dan pemenuhan kebutuhan dari ilusi memiliki hubungan aktual dengan idola mereka. Hal ini diperkuat oleh kecanduan untuk memperkuat keinginan untuk memiliki keintiman dengan para idola agar merasa terhubung dengan mereka. Mereka yang sampai pada kondisi ini sulit melarikan diri, mengatasi, atau memperkaya kehidupan sehari-hari mereka.

Apakah semua penggemar K-Pop borderline-pathologis? Tentu tidak. Konser Super Junior bisa dinikmati oleh para penggemar dengan gembira bersama teman-teman sebagai kegiatan mengisi waktu luang yang menyenangkan. Griffiths (2013) menjelaskan bahwa data yang diperoleh dari 3.000 partisipan penelitian menunjukkan bahwa hanya 1% di antaranya menunjukkan kecenderungan obsesif. Secara umum, mayoritas punya selebriti favorit tanpa menjadikan para idola pusat dari alam semesta mereka.

Lebih jauh lagi, penelitian tentang celebrity worship memotret bahwa penggemar yang memuja idola sebagai bagian dari hiburan dan kegiatan sosial diketahui lebih optimistis, mudah bergaul (outgoing) dan gembira. Jadi mari kita bersenang-senang menonton konser Super Junior bersama!

Penulis:

Dinda Ayu Dwi Innesia dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Program Studi Psikologi Fakultas Humaniora dan Bisnis
Universitas Pembangunan Jaya

Referensi

Kintono, I.W. (2019, 18 April). Datang lagi ke Indonesia, Super Junior show pada 15 Juni 2019. Tribunnews.com diunduh 2 Mei 2019 dari http://wartakota.tribunnews.com/2019/04/18/datang-lagi-ke-indonesia-super-junior-gelar-konser-super-junior-show-7s-pada-15-juni-2019

BACA JUGA  Sukarela Menjalani Rehabilitasi Narkotika (Dalam Rangka Memperingati Hari Narkoba Internasional 26 Juni)

Griffiths, M.D. (2013, 5 Juli). Celebrity worship syndrome: A brief psychological overview. Psychology Today diunduh 2 Mei 2019 dari https://www.psychologytoday.com/intl/blog/in-excess/201307/celebrity-worship-syndrome

Handayani, C.D. (2019, 22 April). Promotor umumkan konser Super Junior di Jakarta Juni 2019 mendatang. Tabloidbintang.com. diunduh 22 April 2019 dari https://www.tabloidbintang.com/asia/korea/read/128064/promotor-umumkan-konser-super-junior-di-jakarta-juni-2019-mendatang.

Kurnisari, L & Purnama, H. (2013). Fanatisme Terhadap Snsd Di Kalangan Anggota Komunitas Soshi Fans Java (Studi Etnografi Tentang Fanatisme Di Kalangan Anggota Komunitas Soshi Fans Java Terhadap Girlband Snsd). Jurnal Fakultas Komunikasi dan Bisnis. 1-32. Diambil darifile:///C:/Users/user%20pc/Downloads/14.04.032_resume%20(1).pdf.

Maltby, J., Day, L., McCutcheon, L.E., Houran, J., & Ashe, D. (2006). Extreme celebrity worship, fantasy proneness and dissociation: Developing the measurement and understanding of celebrity worship within a clinical personality context. Personality and Individual Differences, 40(2), 273–283. Diambil dari https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0191886905002552?via%3Dihub.

McCutcheon, L., Lange, R., dan Houran, J. (2002). Conceptualization and measurement of celebrity worship. British Journal of Psychology, 93, 67-87. Diambil dari https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1348/000712602162454.

Nastiti, A. D. (2010). Korean wave di indonesia: antara budaya pop, internet, dan fanatisme pada remaja. Jurnal Komunkasi. 1-23. Diambil dari https://www.academia.edu/7185610/_KOREAN_WAVE_DI_INDONESIA_ANTARA_BUDAYA_POP_INTERNET_DAN_FANATISME

Baca Juga

Tinggalkan Balasan