Cara Sukses Mendidik Anak Agar Memiliki Mental Juara

Tim Student Company SMA Plus Pembangunan Jaya , “Entrepezo Nature Indonesia” baru-baru ini meraih prestasi membanggakan sebagai Juara ke-1 Asia Pacific Competition Of the Year 2018, yang diselenggarakan pada tgl 29 – 31 Maret 2018 di Beijing. Lihat fotonya di : https://www.instagram.com/p/BhLnNO7AT2p/?taken-by=info_bintaro

Baca juga liputan kami tentang Entreprezo beberapa waktu lalu:
http://www.infobintaro.com/pernah-coba-pengharum-mobil-dari-aromaterapi/
http://www.infobintaro.com/semerbak-nusantara-prestasi-membanggakan-sma-plus-pembangunan-jaya/

Tentulah kita percaya bahwa saat sang anak berkompetisi pastilah sang orang tua  memberikan dukungan. Nah, bagi sang orang tua, bagaimana mendidik anak agar memiliki mental juara?

Sering kali kita melihat sahabat yang tidak mempunyai semangat untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik atau mempunyai standar yang rendah bagi dirinya sendiri. Hal tersebut merupakan menjadi kendala kesukseksan diri pada kita terutama di masa dewasa atau dapat dikatakan tidak mempunyai mental juara. Mempunyai mental juara tanpa perlu menjadi ambisius bukanlah sesuatu yang instan. Ada proses pembiasaan yang perlu dilakukan sejak dini.

Bermental juara tidak hanya merujuk pada kita yang mampu memenangkan kompetisi atau lomba tertentu.  Kita bisa dikatakan bermental juara pada saat kita berhasil melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Seringkali makna juara yang seperti ini kurang disadari oleh kita.

Cara yang dapat ditempuh untuk memiliki mental juara ini adalah dengan mengajari diri kita untuk menghargai sekecil apapun prestasi yang kita miliki. Motivasi dan cita-cita dapat membantu kita untuk berhasil dalam setiap langkah atau apapun yang kita lakukan. Bermental juara juga dapat berarti kita yang tangguh menghadapi segala tantangan. kita perlu ditempa untuk siap menghadapi tantangan dan menjadi mandiri. Kita perlu belajar bagaimana cara memecahkan masalah dengan tepat dan bijaksana.

Bermental juara dapat berarti juga kita yang mampu menghadapi kekalahan. Dalam hidup, seseorang tidak selalu menghadapi keberhasilan tetapi juga dalam saat-saat tertentu menghadapi kegagalan atau ketidakmulusan. Di sini kita perlu belajar bahwa diperlukan usaha untuk mengatasi ketidakberhasilan.

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari pembentukan mental juara antara lain:

  • menjadi mandiri, tidak tergantung pada orang lain.
  • menjadi percaya diri dalam melakukan segala sesuatu.
  • kita tidak cepat putus asa dan mau mencoba lagi apabila mengalami kegagalan.
  • menjadi pribadi yang terbiasa memecahkan masalah.

Aspirasi vs Ambisi

Konsep membentuk mental juara bukanlah dengan menuntut kita untuk selalu menjadi juara. Jangan dilakukan dengan cara memaksa. Seringkali kita merasa bangga saat diri kita memenangkan sesuatu, sehingga yang dikejar adalah hasil, bukan proses. Hal tersebut yang bisa menciptakan kita ambisius, di mana kita hanya akan berorientasi pada pencapaian hasil. Apabila kita memahami pentingnya proses maka akan tercipta aspirasi di dalam diri kita. Kita yang memiliki aspirasi akan terinspirasi dan termotivasi untuk senantiasa melakukan yang lebih baik lagi.

Pada diri kita yang ambisius, kita akan sangat keras berusaha mencapai sesuatu akan tetapi di lain pihak kita akan cepat puas dan bangga pada yang diperolehnya dan berhenti hanya sampai di situ. Berbeda dengan aspirasi yang bersifat jangka panjang dibanding ambisi. Hal terpenting bukanlah menjadi juaranya, tetapi bagaimana usaha kita untuk mencapainya. kita tidak harus selalu menjadi juara, tetapi menjadi lebih baik dari yang dia lakukan selama ini. Sehingga kita lebih percaya diri dan siap menghadapi tantangan.

Mental juara dapat dibentuk dan dilatih sejak saat ini, terutama begitu kita mulai berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Dalam hal ini lingkungan sosial amat berpengaruh.

Dalam membentuk mental juara serta memotivasi diri ada beberapa hal yang perlu diwaspadai yaitu jika kita sering menjadi juara:

  • Kita yang selalu atau sangat sering menjadi juara kerap menjadi lebih down ketika mengalami kegagalan. Terlebih lagi jika orang-orang di sekitarnya bersifat menyalahkan, kita bisa merasa tidak berharga dan tidak dicintai lagi karena sudah gagal.  Hal tersebut yang biasanya terjadi apabila lingkungan kita lebih mengutamakan hasil daripada proses, akibatnya penghargaan diri kita menjadi relatif rendah.
  • Munculnya sifat angkuh atau sombong pada diri kita yang sering menjadi juara. Sekecil apapun pencapaian kita perlu dihargai. Di sisi lain apa yang menjadi kelemahan atau kekurangan kita perlu dievalusi dan dicari solusinya. Pujian maupun evaluasi hendaknya diberikan secara proporsional. Dengan demikian kita tidak menjadi sombong tetapi masih mau berusaha untuk lebih baik di kesempatan yang akan datang.

Peran Orang Tua

Mental juara pada kita dapat dibentuk atau dilatih oleh siapapun, termasuk diri kita yang pernah gagal atau tidak terlalu sukses. Apabila orangtua bisa memiliki kepribadian yang positif dan memiliki motivasi serta keinginan untuk mengembang sang anak dalam lingkungan yang sehat dan tidak ada paksaan, diharapkan sang anak bisa tangguh menghadapi tantangan dan mempunyai mental juara karena setiap orang sebenarnya mampu menjadi juara.

Sebaliknya bila orang tua gagal mendidik generasi muda, mereka hanya jadi generasi wacana seperti yang dikemukakan oleh Rhenald Khasali di video berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=NFJrCtOu4tg

Ketika jalanan macet, mereka hanya memotret. Ketika ada banjir, mereka hanya memotret.
Ketika ada anak-anak tidak bisa sekolah, mereka hanya memotret.
Ketika ada bencana asap, mereka memotret, menyebarluaskan, membuat karikatur, menjadi meme, dan kemudian di situ mereka menulis kata-kata di bawahnya, “Pemerintah ke mana ya?”
Eh, come on. You are not a passenger anymore. You can also be a leader.

Sumber: Kompasiana