Brain Excercise : The Power of Making Games

Anak-anak vs merancang?
Anak-anak vs merancang games?
Anak-anak vs merancang games komputer?

MEMANG MAMPU?

Dalam merancang suatu hal seseorang dituntut untuk mampu menangkap fenomena di sekitar lingkungannya. Selain itu, mereka juga dituntut mengeksplorasi kebutuhan dan keinginan orang lain, Baru kemudian mereka mengembangkan ide dan produk untuk menjawab fenomena yang ada. Proses disain biasanya berkaitan dengan area seni, budaya, maupun teknologi. Teknologi yang cukup dekat dengan kita adalah komputer. Komputer selain digunakan untuk membantu proses belajar-mengajar sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan, nyatanya komputer juga dapat berperan untuk membantu anak mengasah logika. Salah satu aktivitas dengan komputer yang dapat digunakan untuk mengasah logika adalah membuat permainan.

Apa yang terjadi pada anak, khususnya otak mereka, ketika sedang membuat games?

  1. Anak akan memikirkan konsep besar permainan yang akan dibuat dari awal sampai akhir. Pada tahapan ini mereka sangat memerlukan beragam ide yang berasal dari imajinasi mereka. Ide didapat melalui berbagai cara seperti dari pengalaman, pemaknaan panca indera, dan lain sebagainya. Proses ini akan melatih kemampuan investigasi anak.
  2. Ide kemudian diklarifikasi apakah dapat direalisasikan atau tidak. Bila dapat direalisasikan maka anak akan masuk ke tahapan selanjutnya.
  3. Setelah melalui proses klarifikasi, ide dituangkan dalam bentuk tindakan nyata. Artinya anak-anak dituntut untuk merencanakan secara detil games yang akan mereka buat. Detil rancangan juga wajib dibarengi dengan langkah-langkah logis dalam rancangan. Mereka harus memikirkan alasan-alasan mengapa mengambil langkah tersebut serta memikirkan antisipasinya.
  4. Proses mengumpulkan langkah logis membutuhkan kemampuan untuk mencari sumber informasi yang tepat guna mendukung rancangan games yang akan dibuat.
  5. Setelah informasi cukup maka waktunya untuk merealisasikan ide. Anak wajib mencari teknik apa yang diperlukan untuk merealisasikan rancangan games mereka. Mereka harus menghitung, menuangkan ide dalam bahasa-bahasa komputer, atau mengikuti prosedur lainnya agar rancangan selesai.
  6. Setelah rancangan selesai, mereka harus melakukan uji coba dan mengevaluasi apa yang perlu diperbaiki atau ditambahkan dari rancangan yang dibuat.
  7. Ketika menghadapi masalah dalam pembuatan rancangan, mereka perlu mencari solusi permasalahan. Solusi masalah didapat dari sumberi informasi seperti ahli di bidangnya, orang tua, teman sebaya, atau guru.

Langkah-langkah di atas menunjukkan bahwa ketika membuat games mereka dilatih untuk mengembangkan keterampilan mengikuti prosedur, mengembangkan keterampilan praktis dan wajib memahami ilmu pengetahuan. Tiga hal tersebut sangat dibutuhkan untuk mensukseskan rancangan yang dibuat.  Pembuatan games dalam komputer membutuhkan prosedur yang sistematis dan berurutan. Namun sisi lain, proses tersebut juga membutuhkan kreativitas dan daya imajinasi.  Artinya, anak-anak dilatih untuk berpikir secara logis, sistematis, sekaligus “membongkar” kreativitas yang ada di otak mereka.

Proses merancang di atas memang terkesan rumit untuk anak-anak yang berada pada usia dini yang berumur 3 – 5 tahun. Namun pada anak yang lebih besar yaitu yang berusia 7 – 12 tahun proses merancang akan sangat menyenangkan. Anak-anak menjadi terlatih untuk berpikir logis, prosedural sekaligus melatih imajinasi dan kreativitas. Pembuatan games ini juga dapat digunakan untuk orang tua untuk mengeksplorasi bakat dan minat anak. Ketika orang tua mengetahui minat dan bakat anaknya ada di bidang ini maka orang tua dapat membekali mereka dengan pengetahuan yang lebih mendalam dalam area ini.

Penulis:
Adriatik Ivanti, M.Psi, Psikolog
Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

Leave a Comment