Berteman Dengan Anak

Lazimnya orang tua ingin mengetahui segalanya tentang anak. Mulai dari aktivitas selama di sekolah, dengan siapa saja anak berteman, hingga masalah-masalah yang anak jumpai ketika tidak sedang bersama orang tua. Namun nyatanya, tidak semua anak mempunyai sikap terbuka pada orang tuanya.

Baca juga: Kenali Gejala Anak Terkena Narkoba

Kejadian yang mungkin terjadi adalah ketika anak tidak mau menceritakan apa yang terjadi di sekolah ketika orang tua kitaakan, anak lebih sering bercengkrama dengan asisten rumah tangga, hingga anak terlihat seolah-olah tengah menyembunyikan sesuatu dari orang tua.

Kira-kira mengapa hal tersebut bisa terjadi dan bagaimana orang tua bisa menyikapinya? Orang tua bisa menyikapinya dengan lebih baik dengan cara memahami poin-poin penting dari konsep keterlibatan orang tua dalam pengasuhan.

Sebuah penelitian menemukan bahwa terdapat beberapa dimensi dari keterlibatan orang tua dalam pengasuhan anak, di mana salah satu dimensinya adalah dimensi companionship. Companionship mempunyai arti perasaan pertemanan serta kecenderungan seseorang untuk menciptakan hubungan sosial. Konsep ini menjelaskan bahwa orang tua perlu terlibat dalam pengasuhan anak dengan cara menjadi teman yang baik bagi anak.  Simak video menarik tentang persahabatan antara orang tua dan sang anak: https://www.youtube.com/watch?v=A0-Ri5Rciow

Dengan menjadi teman yang baik bagi anak, anak akan mempunyai rasa percaya yang lebih baik pada orang tuanya sehingga rasa terbuka anak terhadap orang tua juga ikut bertumbuh. Dimensi companionship ini dapat dicapai orang tua dengan cara membangun hubungan yang baik antara orang tua dengan anak.

Seperti apa hubungan yang baik antara orang tua dengan anak itu? Hubungan yang baik antara orang tua dengan anak biasanya dikarakteristikan dengan perasaan positif dan solidaritas. Tandanya, hubungan yang baik antara orang tua dengan anak adalah hubungan yang dilandasi oleh perasaan nyaman, penuh kasih sayang, kepercayaan, kekompakan, dan penuh dukungan dari satu sama lain.

Kira-kira apa yang dapat kita lakukan untuk bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan anak? Beberapa cara diantaranya adalah dengan menjadi orang tua yang menerima anak apa adanya, menyayangi anak dan memahami kebutuhan anak, menjadi pendengar yang baik, dan terakhir menjadi orang yang dapat dipercayai anak serta memberi kepercayaan pada anak.

Baca juga: Mengatasi Kecanduan Gadget Pada Anak

Hubungan yang baik antara anak dengan orang tua dibangun dari diri orang tua. Orang tua yang menerima anak apa adanya bisa menginginkan anak untuk selalu menjadi yang terbaik di sekolah, tetapi bukan dengan memaksa anak untuk terus-menerus belajar.  Keseimbangan antara belajar dan kebutuhan lain seperti bersenang-senang bersama orang tua juga bagian penting dari pengasuhan.

Selanjutnya, kita juga bisa menjadi pendengar yang baik bagi anak. Hal ini dapat dicapai dengan mendorong anak untuk bercerita mengenai berbagai hal menurut sudut pandangnya dan mendengarkan anak bercerita dengan baik dan antusias. Mendengarkan anak dengan baik dapat dicapai dengan tidak terlalu banyak berkomentar dan menilai.

Dengan cara demikian, orang tua membuat anak terus bercerita dengan memberi pertanyaan-pertanyaan mengenai hal yang diceritakan disaat anak bercerita sehingga anak terdorong untuk terus bercerita. Sesekali, kita juga dapat menimpali cerita anak dengan bergantian bercerita. Dengan demikian, anak pun dapat belajar untuk menjadi pendengar yang baik pula.

Dengan saling bercerita seperti ini, anak dan orang tua perlahan menumbuhkan rasa percaya antara satu sama lain yang dapat berlanjut hingga anak tumbuh dewasa. Dengan adanya rasa percaya antara orang tua dan anak, maka anak akan mempunyai sifat terbuka dan tidak segan-segan menceritakan segala hal yang yang ada pada pikirannya.

Anak akan merasa lebih dekat  dan terbuka pada orang tua apabila orang tua kita melakukan hal-hal tersebut. Pada dasarnya, lazimnya orang tua ingin dekat dengan anak, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, orang tua perlu bersikap positif dan berusaha untuk mengimplementasikan dimensi companionship kepada keterlibatan dalam pengasuhan anak agar orang tua dapat menjadi sahabat anak.

Tahukah Anda bahwa melalui berteman anak-anak mempelajari kemampuan bersosialisasi (social skills) yang penting, seperti: kemampuan berempati, membangun dan membina relasi, belajar mengontrol diri sendiri, mengembangkan kemampuan berkomunikasi serta belajar bekerja sama dengan anak-anak yang lain. Baca juga : Mari Berteman…

Tim penulis:

Eriska Yunisha (Mahasiswa) dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo (Dosen)
Program Studi Psikologi, Fakultas Humaniora dan Bisnis Universitas Pembangunan Jaya

Referensi

Bengtson, V., Giarrusso, R., Mabry, J. B., dan Silverstein, M. (2002). Solidarity, conflict, and ambivalence: complementary or competing perspectives on intergenerational relationships? Journal of marriage and family. 64. 568–576.

Finley, G. E. dan Mira, S. D. (2008). Perceived paternal and maternal involvement: factor structures, mean differences, and parental roles. Fathering. 6 (1). 62-68. DOI: 10.3149./fth/0601.062.

Mancini, J. A. dan Blieszner, R. (1992). Social provisions in adulthood: concept and measurement in close relationships. Journal of gerontology. 47 (7). 14-20. DOI: 10.1093/geronj/47.1.p14.

Sotomayor-Peterson, M., Pineda-Leon, M., dan Valenzuela-Medina, E. (2016). Co-parenting and familism predictors of young adults’ companionship and intimacy with their parents. Interamerican journal of psychology. 50 (2). 225-237.