Belajar dari Dongeng atau Cerita Rakyat Indonesia

Di jaman modern ini, kebanyakan anak melewatkan waktu luangnya dengan berinteraksi dengan gawai. Kesibukan orang tua dan berbagai hal yang modern membuat keberadaan cerita rakyat atau dongeng tergerus oleh modernisasi. Pada dasarnya cerita rakyat atau dongeng adalah cerita atau hikayat yang berkembang di suatu masyarakat dan memiliki nilai moral atau pelajaran tertentu.

Cerita ini biasanya diturunkan dari generasi ke generasi. Banyak hal positif yang dapat dipelajari anak lewat dongeng ataupun cerita rakyat. Selain anak mengembangkan penalaran moral; bagaimana perilaku yang baik dan yang buruk, mereka juga dapat mempelajari konsekuensi dari suatu perilaku. Sayangnya, banyak sekali anak yang tidak mengenal dongeng atau cerita rakyat yang ada.

Kisah kepahlawanan yang ada di Indonesia kerap terganti oleh tokoh kepahlawanan yang dikenal secara global, bahkan terkadang mereka hanya menikmati penampilan dan tontonan yang menarik; penuh atraksi, namun tidak berusaha mengambil pelajaran dari apa yang ditampilkan. Pada masanya, dongeng atau cerita rakyat menjadi sarana komunikasi dan relasi antar generasi.

Generasi yang lebih tua (nenek, ibu, bapak) akan duduk menceritakan sebuah cerita dan didengarkan oleh generasi yang lebih muda (anak, cucu). Saat bercerita mereka mengkomunikasikan emosi dan juga memberikan nasihat atau petuah berubungan dengan cerita tersebut. Si pencerita mengharapkan pendengar mereka akan memiliki perbuatan yang baik dan mengambil pelajaran dari cerita tersebut.

Dampak positif dari mendongeng atau bercerita pada anak

Dalam proses mendongeng, anak dapat meningkatkan keterampilan berbahasa baik bahasa daerah maupun bahasa nasional. Proses mendongeng juga membuat anak menikmati cerita dan membuat mereka berimajinasi. Selain berimajinasi, mereka juga mendapatkan perbendaharaan kata baru ataupun istilah-istilah baru.  Dalam hal ini proses mendongeng melibatkan fungsi kognisi atau berpikir pada anak.

Dengan mendengarkan cerita dan kemudian berimajinasi, anak juga belajar menghadapi situasi tertentu. Selama mendongeng, orang tua atau orang dewasa dapat menanyakan pada anak bagaimana pendapat anak tersebut atau bagaimana mereka akan menghadapi masalah yang dihadapi oleh tokoh dalam dongeng. Proses mendongeng membuat anak menjadi bagian dari cerita bahkan mempelajari perilaku yang dapat diterima secara sosial.

Bagaimana meningkatkan minat mendengarkan dongeng pada anak? Dalam hal ini orang tua atau orang dewasa harus mampu memunculkan ketertarikan anak pada dongeng dan mampu membawakannya dengan baik, sehingga anak dapat berimajinasi.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah mempergunakan media barang bekas, boneka, dan lain sebagainya sebagai sarana bercerita; entah sebagai alat bantu ataupun sebagai alat utama. Seperti yang pernah dilakukan oleh Prodi Desain Produk UPJ, di mana barang bekas seperti kaleng biskuit dijadikan media gambar cerita dongeng.

Dalam hal ini anak dapat belajar melihat gambar dan mengurutkan cerita; dan menceritakan kembali apa yang digambar pada media tersebut. Hal yang sederhana dapat menjadi menyenangkan dengan berani mencoba cara yang yang kreatif. Jangan besarkan anak Anda dengan gawai, namun biarkan mereka berimajinasi dan hidup dalam dunia yang menyenangkan. Selamat mencoba!

Penulis:
Clara Moningka & Retno Purwanti
Universitas Pembangunan Jaya
(Kontributor adalah Dosen Psikologi, dan Dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Pembangunan Jaya)

Referensi:

Leave a Reply