Ayo Berkebun! (Bagian 1)

Berkebun? Sebagian besar keluarga urban boleh jadi asing dengan berkebun. Maklum, lahan kota yang terbatas, minimnya taman kota, waktu yang serba terbatas, banyaknya “hutan beton” alias gedung pencakar langit membuat kehidupan manusia yang hidup di kota kering dari sejuknya kehijauan kebun.

Ada banyak sekali manfaat dari berkebun bagi anak. Melalui berkebun, anak belajar:

Melestarikan lingkungan: Belajar sejak dini melalui pengalaman langsung sejak usia pra sekolah penting dalam edukasi lingkungan hidup. Anak usia SD akan lebih mudah memahami pentingnya lingkungan hidup apabila sejak kecil mereka paham tentang konsep lingkungan hidup itu sendiri. Berkebun juga membuat anak belajar tentang cuaca dan iklim untuk menentukan kapan waktu terbaik menanam benih.

Mengembangkan keterampilan sosial dan pengembangan diri: Dengan belajar menanam tomat, anak belajar disiplin dalam menyiram tanaman dan pada akhirnya merasa bangga saat memanen hasil bercocok tanam. Apabila anak berkebun bersama kakak dan adik, maka si Abang bisa bertugas menyiangi gulma dan si Upik bisa bergantian menyiram tanaman. Saat kebun terkena hama siput, kakak dan adik sama-sama belajar untuk memecahkan masalah sebagai satu tim.

Kedewasaan dan tanggung jawab anak muncul karena kini ia bertanggung jawab terhadap hidup matinya tanaman yang ia rawat. Dengan berkebun, anak juga bisa memahami sebab akibat, misalnya bahwa tanaman bisa mati jika tidak disiram dan gulma dapat berebut zat-zat makanan dengan tanaman yang dirawat oleh si anak.

Mempraktikkan pembelajaran aktif (active learning) lintas disiplin: Anak belajar keterampilan berhitung dalam kegiatan menghitung benih, memetakan lahan, membuat grafik panen tanaman. Selain itu, anak belajar membaca dan menulis saat membuat papan penanda jenis-jenis tanaman serta mencatat jadwal menyiram. Tak hanya itu, anak belajar ilmu sosial misalnya sejarah bumbu dari berbagai kuliner manca negara atau antar daerah. Anak juga mengasah bakat seni saat merancang desain taman, mengidentifikasi warna dan pola atau berkarja menggunakan dedaunan dan bunga, bahkan saat mendesain “orang-orangan sawah” yang bisa menghiasi wilayah kebun mereka.

Memahami gizi dan kesehatan: Anak senang mencoba makanan baru, apabila jika makanan tersebut datang dari kebun mereka sendiri. Pengalaman berkebun bisa memberikan kesempatan untuk belajar memasak dan menyusun menu keluarga dari hasil panen. Anak yang gemar berkebun akan cenderung lebih senang makan sayur dan buah segar ketimbang makanan instan. Belajar tentang gizi dan makanan sehat akan terasa lebih menyenangkan lewat berkebun. Aktivitas luar rumah juga memberikan anak kesempatan untuk berolahraga dan menghirup udara segar di bawah hangatnya sinar matahari.

Memperdalam sains: Konsep-konsep sains seperti fotosintesa mudah dipelajari lewat pengalaman berkebun. Dengan berkebun, anak dapat belajar tentang ekologi, kebutuhan tanaman dan hewan, bagaimana mengatasi hama secara alamiah sampai membuat kompos dari sisa-sisa makanan. Kegiatan berkebun memberikan pengalaman sains yang lebih relevan sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Penting untuk diingat bahwa anak adalah pembelajar aktif (active learners): Anak lebih mudah menyerap pengetahuan melalui interaksi langsung, bermain dan menemukan sendiri (discovery) karena anak punya rasa ingin tahu yang alamiah terutama untuk pengalaman inderawi yang dialami langsung. Anak bisa menyentuh daun, mencium aroma bunga, merasakan segarnya tomat dan mengumpulkan cabe dari hasil panen

Dari kacamata psikologi, semua hal di atas tak dapat dilepaskan dari tugas perkembangan anak. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan? Tugas perkembangan adalah serangkaian sikap, perilaku atau keterampilan yang muncul dalam periode usia tertentu dalam kehidupan individu.

Jika tugas perkembangan berhasil dituntaskan, maka hal tersebut akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menghadapi tugas berikut. Bagaimana agar pengalaman berkebun selaras dengan tugas perkembangan anak sesuai usia? Nantikan artikel mendatang ya.

Penulis:
Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

Leave a Comment